PENGEMBANGAN MULTIMEDIA INTERAKTIF SIMULASI AGREGASI DATA UNTUK DIKLAT EDSDI LPMP JAWA TENGAH

Drs. Sri Wasono Widodo,M.Pd.

Widyaiswara LPMP Jawa Tengah

ABSTRAK

Widodo, Sri Wasono. 2012. “Pengembangan Multimedia Interaktif Simulasi Agregasi Data untuk Diklat EDS di LPMP Jawa Tengah” . Laporan Penelitian Pengembangan, diajukan dalam rangka kegiatan pengembangan profesi Widyaiswara.

Latar belakang masalah dari penelitian pengembangan ini adalah banyaknya pemangku kepentingan yang mengalami kesulitan dalam melakukan kegiatan agregasi data EDS dari berbagai sekolah yang menjadi wilayah binaannya. Untuk itu diperlukan suatu program aplikasi yang membantu memahami dan melaksanakan agregasi data dalam kegiaatan diklat EDS maupun pelaksanaan EDS. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana merancang bangun program aplikasi yang berfungsi sebagai media pembelajaran yang dapat membantu fasilitator maupun peserta diklat dalam kegiatan simulasi data dalam diklat EDS.

Tujuan penelitian ini adalah untuk menghasilkan program aplikasi yang berfungsi sebagai media pembelajaran yang dapat membantu fasilitator maupun peserta diklat dalam kegiatan simulasi data dalam diklat EDS. Manfaat penelitian ini adalah untuk tersedianya program aplikasi yang dapat membantu fasilitator dan peserta diklat dalam simulasi agregasi data EDS. Spesifikasi program aplikasi yang dirancang bangun berbasis Visual Basic Application Microsoft Excel dengan merancang bangun berbagai menu function dan form. Produk yang dihasilkan diuji coba secara terbatas dengan responden seorang pakar EDS dan 8 orang fasilitator dan peserta diklat EDS. Instrumen yang digunakan adalah angket yang telah divalidasi. Setelah direvisi, muilti media interaktif program aplikasi simulasi agregasi data EDS didiseminasikan dalam diklat EDS dan diunggah ke web sehingga dapat diunduh secara online.

Kata Kunci : Multimedia Interaktif, Simulasi Agregasi Data, Diklat EDS.

  1. PENDAHULUAN
  • Latar Belakang

Di era globalisasi ini aplikasi teknologi informasi dan komunikasi hampir tidak bisa dipisahkan dari setiap aspek kehidupan Kita. Demikian juga di dalam suatu kegiatan pendidikan dan pelatihan (diklat). Prinsip-prinsip Andragogis harus Kita perhatikan dengan seksama dan implementasi Adult Learning Theory dengan kombinasi pemanfaatan teknologi harus Kita optimalkan (Wang, 2010 ).

Esensi kegiatan diklat dengan memanfaatkan teknologi informasi menjadi aktual justru ketika materi diklat tersebut terkait dengan pengolahan data karena terkait dengan kegiatan asesmen dari suatu lembaga yang dalam hal ini sekolah untuk mengukur kesesuaian antara kondisi sekolah tersebut dengan standar yang telah ditetapkan. Sebagaimana telah diketahui bersama, Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 mengamanatkan tentang Standar Nasional Pendidikan (SNP) yang meliputi 8 standar. Untuk pencapaian itu dikembangkan instrumen yang kemudian dikenal dengan Evaluasi Diri Sekolah (EDS).

Untuk menunjang keberhasilan pencapaian SNP di tingkat kabupaten/kota, kantor Dinas Pendidikan / Kantor Kemenag sudah mempunyai jalur untuk memperoleh data dan informasi tentang pelaksanaan pendidikan di daerahnya. Namun ada dua kegiatan baru yang akan membantu mereka memperoleh data dan informasi pelaksanaan pendidikan dilihat dari Standar Pelayanan Minimal (SPM) dan SNP. Kegiatan pertama adalah Evaluasi Diri Sekolah (EDS) yang dilaksanakan di, oleh, dan untuk sekolah dalam mengevaluasi kinerjanya guna memperoleh dasar untuk menyusun Rencana Pengembangan Sekolah/Rencana Kerja Sekolah (RPS/RKS) dan Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Sekolah/ Rencana Kerja dan Anggaran Sekolah (RAPBS/RKAS). Kegiatan kedua adalah Monitoring Sekolah oleh Pemerintah Daerah (MSPD) yang dilakukan oleh Pengawas Sekolah dalam mengumpulkan dan menganalisis laporan EDS untuk dijadikan dasar laporan MSPD kepada Dinas Pendidikan/Kantor Kemenag tingkat kabupaten/kota. Dengan adanya laporan MSPD, jajaran di tingkat kabupaten/kota akan memperoleh masukan untuk dasar perencanaan dan bantuan kepada sekolah-sekolah dalam peningkatan mutu pendidikan di daerahnya. Oleh karena itu maka mutu data laporan EDS akan menentukan mutu dan kegunaan laporan MSPD itu sendiri. MSPD juga akan dijadikan masukan untuk melakukan Evaluasi Diri Kabupaten (EDK) bagi Dinas Pendidikan/ Kantor Kemenag tingkat kabupaten/kota untuk mengevaluasi dan memperbaiki kinerjanya (Dirjen PMPTK, 2011).

Instrumen EDS diisi oleh Tim Pengembang Sekolah. Pemahaman tentang EDS didiseminasikan melalui Diklat EDS dengan peserta pengawas sekolah SD dan SMP dari beberapa kabupaten yang menjadi sampel untuk periode satu tahun. Artinya, untuk tahun berikutnya sampelnya dari kabupaten yang berbeda. Setiap pengawas ini akan menjadi fasilitator untuk beberapa sekolah (jumlahnya bervariasi) yang termasuk daerah binaan (dabin) nya.

Untuk mempersiapkan program EDS, LPMP Jawa Tengah melaksanakan Diklat EDS. Salah satu mata diklat yang ada dalam Diklat EDS adalah Mata Diklat Simulasi Agregasi Data. Agregasi data ini secara teoritis mudah, namun dalam aspek praktikalnya sangat berat karena mengangregasi tiga komponen dari sejumlah 62 indikator. Total, misalnya rata-rata tiap komponen terdiri dari 3 deskripsi maka ada (3 × 3 × 62) deskripsi yang berarti sekitar 600 deskripsi. Misalkan seorang pengawas sekolah memiliki 10 sekolah binaan, ia harus mencermati 6000 deskripsi dari 3000 halaman kuarto. Hal ini tentu menjadi pekerjaan yang berat sekaligus sangat sulit. Kesulitan ini mengimbas ke widyaiswara sebagai fasilitator Diklat EDS.

Tugas utama seorang widyaiswara adalah mendidik, mengajar, dan melatih dalam kegiatan pendidikan dan pelatihan. Untuk mendukung tugasnya tersebut seorang widyaiswara dituntut untuk mampu menyusun suatu karya tulis ilmiah yang merupakan indikator penguasaan kompetensi profesional widyaiswara yang bersangkutan. Karya tulis ilmiah dari widyaiswara juga berfungsi sebagai media atau sarana komunikasi dalam menuangkan gagasan dan pengetahuannya dalam rangka mengembangkan bahan ajar dan menjamin keefektivan proses pembelajaran (lampiran Peraturan Kepala LAN No.9 Tahun 2008).

Untuk mendukung pencapaian tujuan diklat, pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi harus disesuaikan dengan pencapaian tujuan itu. Dalam suatu diklat Evaluasi Diri Sekolah (EDS) peserta yang merupakan pengawas sekolah memerlukan suatu media untuk membantu pemahaman. Hal ini disebabkan, pengawas sekolah nantinya akan membimbing melakukan evaluasi diri sekolah sekaligus melakukan agregasi data dari beberapa sekolah yang dibimbingnya. Media pembelajaran tersebut sekaligus dapat digunakan sebagai alat bantu untuk melaksanakan tugasnya di lapangan nanti.

Dalam setiap kegiatan Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) dibutuhkan media yang efektif sehingga tujuan dari pelaksanaan mata diklat tersebut dapat tercapai. Urgensi akan penggunaan media ini menjadi meningkat ketika mata diklat yang sedang disampaikan bersifat praktikal. Apalagi bila kemampuan prasyarat akan mata diklat tersebut dari peserta diklat memiliki disparitas yang tinggi. Berdasarkan data pelatihan Informasi Teknologi yang pernah diselenggarakan sebelumnya, peserta diklat yang kemampuannya terhadap piranti lunak lembar kerja sangat rendah bisa mencapai 80%. Kemampuan sangat rendah di sini berarti kemampuan yang minimal, yaitu hanya membuka program, membuka file, menyimpan file, dan menutup program. Diklat EDS di LPMP Jawa Tengah diikuti oleh Pengawas Sekolah (SD dan SMP) biasanya hanya menggunakan piranti lunak pengolah kata dan presentasi.

Berdasarkan latar belakang tersebut di atas, Peneliti mengadakan penelitian dengan judul “Pengembangan Multimedia Interaktif Simulasi Agregasi Data dalam Diklat Evaluasi Diri Sekolah Di LPMP Jawa Tengah”.

  • Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat dirumuskan pertanyaan penelitian sebagai berikut :

  1. Bagaimana merancang bangun program aplikasi yang berfungsi sebagai media pembelajaran yang dapat membantu fasilitator diklat EDS dalam mensimulasikan agregasi data.
  2. Bagaimana merancang bangun program aplikasi simulasi agregasi EDS yang dapat membantu user memahami agregasi data EDS.
  3. Bagaimana merancang bangun program aplikasi simulasi agregasi EDS yang dapat digunakan pengguna untuk melaksanakan agregasi data dalam kegiatan EDS yang sesungguhnya.
  • Tujuan Penelitian Pengembangan

Berdasarkan rumusan masalah, tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian adalah:

  1. Menghasilkan program aplikasi yang berfungsi sebagai media pembelajaran yang dapat membantu fasilitator diklat EDS dalam mensimulasikan agregasi data.
  2. Menghasilkan program aplikasi simulasi agregasi EDS yang dapat membantu pengguna memahami proses agregasi data EDS.
  3. Menghasilkan program aplikasi simulasi agregasi EDS yang dapat digunakan pengguna untuk melaksanakan agregasi data dalam kegiatan EDS yang sesungguhnya.

  • Manfaat Penelitian Pengembangan

    Manfaat dari penelitian ini adalah:

  1. Bagi fasilitator diklat, tersedianya program aplikasi yang berfungsi sebagai media pembelajaran yang dapat mensimulasikan agregasi data.
  2. Bagi peserta diklat, tersedianya program aplikasi yang dapat membantu memahami proses agregasi data EDS.
  3. Bagi pengguna, tersedianya program aplikasi yang dapat digunakan untuk melaksanakan agregasi data dalam kegiatan EDS yang sesungguhnya.

  • Definisi Operasional

Untuk mempermudah pemahaman akan berbagai peristilahan yang digunakan di dalam penelitian ini, maka Peneliti perlu mendefinisikan istilah yang dipakai sebagai berikut:

  1. Diklat EDS adalah kegiatan pendidikan dan pelatihan yang diikuti oleh pengawas sekolah yang pesertanya akan menjadi pendamping dalam pengisian EDS.
  2. Simulasi agregasi data EDS adalah kegiatan dalam diklat EDS berupa simulasi mengagregasi data-data dari beberapa sekolah yang menjadi daerah binaan seorang pengawas.
  3. Multimedia interaktif adalah alat bantu pembelajaran di mana pembelajar dapat memberikan kontrol terhadap alat tersebut sehingga ia dapat mereview materi sesuai kepentingan individualnya dalam berinteraksi dengan materi diklat.
  4. Multimedia interaktif tipe hypermedia adalah linking dari beberapa dokumen multimedia yang direkayasa untuk interaktivitas dari suatu multimedia dalam kegiatan diklat.
  5. Multimedia interaktif tipe hypertext adalah linking dari data, kata atau frasa ke data, kata atau frasa lain dalam satu atau lain dokumen yang direkayasa untuk interaktivitas dari suatu multimedia dalam kegiatan diklat.
  6. Pemrograman VBA Excel adalah bahasa pemrograman Visual Basic Application pada Excel Microfoft Office 2007dengan platform operating system Windows XP atau generasi sesudahnya.
  7. Kinerja multimedia yang efektif adalah suatu kondisi di mana hasil uji coba terbatas di lapangan menunjukkan multimedia tersebut mampu membantu peserta diklat mensimulasikan agregasi data hasil EDS.
  • Asumsi dan Keterbatasan
  1. Asumsi

Asumsi dalam penelitian ini adalah:

  1. Responden memberikan informasi secara jujur dan benar, terhadap multimedia yang digunakan dalam simulasi melalui angket respon peserta diklat.
  2. Peneliti menuliskan hasil pengamatan terhadap penggunaan multimedia interaktif pada kegiatan simulasi dalam diklat secara akurat, objektif dan jujur ke dalam lembar pengamatan. Dengan demikian hasil pengamatan tersebut tidak direkayasa oleh peneliti agar hasil yang diperoleh akuntabel.
  3. Keterbatasan

Untuk menghindari meluasnya pembahasan maka diberikan batasan penelitian antara lain:

  1. Desain piranti lunak multimedia interaktif dalam penelitian ini hanya berbasis kombinasi antara hypermedia tools dan hypertext tools.
  2. Media pembelajaran Multimedia interaktif ini hanya khusus untuk mata diklat agregasi data.
  3. KAJIAN TEORI
  1. Simulasi Agregasi Data dalam Diklat EDS

    EDS merupakan kegiatan pengumpulan data tentang kesesuaian kondisi sekolah sesuai dengan standar yang telah ditetapkan dalam SNP. Pengisian EDS dilakukan oleh Tim Pengembang Sekolah, yang salah satu anggotanya adalah pengawas sekolah. Dalam hal ini seorang pengawas sekolah menjadi pembimbing bagi anggota tim yang lain yaitu kepala sekolah, komite sekolah, guru senior, dan perwakilan orang tua siswa.

    Tugas seorang pengawas sekolah bukan hanya membimbing pengisian EDS untuk satu sekolah saja, melainkan beberapa sekolah yang tercakup dalam daerah binaannya. Rata-rata seorang pengawas membimbing pengisian EDS untuk delapan sekolah. Data dari beberapa sekolah yang termasuk daerah binaan seorang pengawas kemudian diagregasi menjadi satu laporan. Karena instrumen EDS terdiri dari 62 indikator yang masing-masing mungkin terdiri dari rata-rata 3 deskripsi, maka rata-rata ada 186 deskripsi dari 8 sekolah yang diagregasi. Banyaknya deskripsi ini menyebabkan kesulitan sejak simulasi dalam diklat.

  1. Multimedia Interaktif untuk Diklat

    Penggunaan media pembelajaran yang efektif dalam suatu kegiatan pembelajaran, termasuk dalam kegiatan diklat dapat memberikan motivasi belajar. Hampir semua aliran teori belajar berpandangan bahwa motivasi belajar akan meningkatan hasil belajar. Pembelajaran dengan materi yang menuntut pemahaman praktikal, membutuhkan media pembelajaran yang baik (Schunk, 2012: 345).

    “Multimedia” merupakan istilah yang seringkali digunakan di dalam teknologi pendidikan pada dekade ini. Dalam peristilahan yang digunakan secara luas, istilah tersebut memiliki arti yang amat beragam pada spektrum media massa baik bahan cetak, audio, video, maupun teknologi yang dikembangkan berbasis paket piranti keras dan piranti lunak komputer yang diproduksi secara massal serta memungkinkan penggunaan secara individual untuk belajar. Secara esensial, istilah multimedia bisa digunakan pada berbagai level belajar berupa perangkat pendidikan yang memungkinkan keanekaragaman presentasi materi pelatihan.

    Fenrich dalam Reddi (2003: 4) mengemukakan bahwa multimedia merupakan kombinasi fungsional dari piranti keras dan piranti lunak komputer yang memungkinkan pengembangnya mengintegrasikan, video, animasi, audio, grafis, dan seperangkat tes untuk dikembangkan menjadi alat presentasi pada desktop komputer. Sedangkan menurut Phillips dalam Reddi (2003: 4) multimedia merupakan alat presentasi yang memiliki karakteristik kombinasi fungsional dari teks, gambar, suara, animasi, dan video, yang beberapa diantaranya atau seluruhnya diorganisasikan menjadi suatu program yang koheren.

    Pendapat beberapa pakar tersebut memiliki beberapa persamaan maupun perbedaan. Dari berbagai pendapat tersebut, dapat disintesakan bahwa multimedia merupakan kombinasi fungsional yang diprogramkan secara teliti dari beberapa elemen yang meliputi teks, grafis, suara, animasi, dan video. Multimedia interaktif untuk diklat memungkinkan pengguna akhir ataupun audien melakukan kontrol ‘apa’, ‘kapan’ dan ‘bagaimana’ dari elemen tersebut muncul dan dipresentasikan. Karena multimedia interaktif dapat didefinisikan sebagai kombinasi sinergis dan simbiotis dari berbagai elemen media (audio, video, grafis, teks, animasi, dsb,) ke dalam suatu kesatuan program sehingga memberikan manfaat yang lebih optimal kepada pengguna akhir (end user) dibandingkan bila elemen-elemen tersebut berfungsi secara mandiri.

  1. Multimedia Tipe Hypermedia dan Hypertext

    Karena multimedia interaktif merupakan kombinasi dari berbagai fungsi, maka ada beberapa klasifikasi berdasarkan elemen yang dikombinasikan. Reddi (2003: 13) mengelompokkan desain multimedia menjadi lima kategori: Painting and drawing tools, 3-D Modeling and animation tools, Image editing tools, Sound editing tools, dan Animation Video Digital Movie tools. Sedangkan Fahy (2003: 5) mengemukakan ada lima spesifikasi multimeia interaktif berdasarkan karakteristik fungsionalnya yaitu: sound, graphics and color, animation, video, hypermedia, dan hypertext.

    Berdasarkan klasifikasi di atas, maka desain multimedia yang dikembangkan dalam penelitian ini adalah kombinasii antara hypermedia dan hypertext. Hypermedia merupakan linking dari beberapa dokumen multimedia. Hypertext merupakan linking dari value, kata, atau frasa ke value, kata atau frasa lain pada dokumen yang sama ataupun pada dokumen berbeda (Fahy, 2003: 5). Pada hakekatnya hypermedia maupun hypertext ini sulit dipisahkan dari desain aplikasi multimedia interaktif yang lain. Szabo (dalam Fahy, 2003: 6) menekankan bahwa seharusnya hypertext lebih banyak digunakan untuk lebih memperluas akses terhadap informasi yang dibutuhkan, bukan untuk kepentingan aktualita pelatihan, sebagai langkah antisipatif terhadap kebutuhan akan materi pelatihan dalam konteks akselerasi pencapaian tujuan diklat (khususnya bagi peserta diklat yang belum memiliki prasyarat pengetahuan materi tersebut atau yang kapabilitasnya kurang).

    Hypermedia dan hypertext memang memiliki prospek cerah untuk digunakan sebagai multimedia interaktif dalam kegiatan pelatihan (Fahy, 2003: 7). Didukung oleh perkembangan yang pesat dari piranti keras, piranti lunak, maupun teknologi interface manusia-komputer, secara teknis pada saat ini sangat memungkinkan memanfaatkan hypermedia dan hypertext untuk pelatihan secara online. Kedua tipe multimedia interaktif ini memiliki keunggulan untuk pelatihan antara lain (Marchionini dalam Fahy, 2003: 8):

  • Sejumlah besar informasi dari berbagai macam media dapat disimpan dalam bentuk yang kompak dan mudah untuk diakses.
  • Hypermedia dan Hypertext memungkinkan kontrol dari peserta diklat secara leluasa (end users dapat secara leluasa memilih kapan, apa, dan bagaimana link yang diperlukan).
  • Hypermedia dan Hypertext memungkinkan fasilitator dan peserta diklat memiliki banyak ragam cara interaksi yang baru, memberikan reward kepada peserta diklat yang mampu mengasah keterampilan belajarnya secara mandiri, dan meningkatkan kreativitas fasilitator diklat dalam hal bagaimana cara ia berinteraksi dengan peserta diklat. .
  1. Pemrograman Excel VBA 2007

    VBA merupakan kependekan dari Visual Basic for Applications, salah satu bahasa pemrograman yang dikembangkan oleh Microsoft. Excel merupakan salah satu elemen dari Microsoft Office 2007. VBA merupakan alat yang bisa Kita pergunakan untuk mengembangkan program yang mengontrol Excel. Kita harus membedakan VBA dengan VB yang merupakan kependekan dari Visual Basic. VB merupakan bahasa pemrograman yang memungkinkan Kita membuat program executable (File EXE) mandiri. Jadi, VBA berbeda dengan VB (Walkenbach, 2003:6).

.

  1. Aplikasi Multimedia Interaktif dalam Simulasi Agregasi Data EDS

    EDS merupakan instrumen asesmen untuk mengukur pencapaian suatu sekolah dalam memenuhi Standar Nasional Pendidikan (Dirjen PMPTK, 2011). Sebagian besar dari instrumen tersebut berupa form untuk diisi.

    Karena merupakan bahasa pemrograman yang riil dan live, VBA mempergunakan banyak elemen bahasa pemrograman yang sering dipergunakan. Di antara beberapa elemen bahasa pemrograman tersebut adalah: comments, variables, constants, data types, dan arrays (Walkenbach. 2004: 89).

    Dalam pemrograman VBA Excel 2007 beberapa tipe data digunakan. Tipe data merupakan istilah yang biasa dipergunakan untuk menyebutkan bagaimana cara dari suatu program menyimpan data dalam memori — sebagai misal, integers, real numbers, atau data strings. Meskipun VBA dapat menangani detail tipe data tersebut secara otomatis, namun ada konsekuensi yang harus diperhitungkan. Namun konsekuensinya tidak seberapa dibandingkan dengan manfaatnya. Misalkan Kita tidak mempergunakan VBA untuk menangani entri data menyebabkan eksekusi menjadi lambat dan penggunaan memori yang tidak efisien. Untuk aplikasi yang sederhana, hal seperti ini tidak menjadi masalah yang serius. Namun untuk aplikasi yang lebih besar dan lebih kompleks akan menyebabkan kerja program menjadi lambat atau membutuhkan konservasi setiap memori yang tersisa, Pada saat itulah Kita membutuhkan pengenalan yang lebih mendalam tentang tipe data (DeMarco, 2007: 30).

    VBA memang secara otomatis menangani semua data secara detail, yang membuat Kita menjadi nyaman dalam melakukan pemrograman. Tidak semua bahasa pemrograman memberikan kenyamanan seperti ini. Misalnya, ada bahasa pemrograman yang semata-mata hanya mengetik saja, sehingga seorang pemrogram harus secara eksplisit mendefinisikan secara operasional tipe data untuk setiap variabel yang digunakan (Walkenbach, 2007: 97).

    Dengan VBA Excel memungkinkan kita menggunakan menu yang disebut UserForm. Excel 2007 memungkinkan Kita bisa menciptakan screen data entri yang mudah digunakan oleh end users. Program seperti ini dapat juga berfungsi sebagai wahana display untuk summary data ataupun data itu sendiri dari berbagai sumber data. Program ini juga menyediakan untuk Kita tools yang Kita butuhkan untuk menciptakan “wizard” aplikasi atau form data entri sederhana (DeMarco, 2008: 30).

    Bahasa pemrograman VBA dalam Excel menurut John Green (2007: 30) terdiri dari beberapa elemen yang berlaku secara umum untuk semua versi VB dan aplikasi Microsoft Office. Contoh-contoh berikut merupakan bahasa yang memanfaatkan model objek Excel, namun tujuannya adalah menguji struktur umum dari bahasa pemrograman. Beberapa dari struktur dan konsep tersebut dikenal oleh bahasa pemrograman yang lain, meskipun sintaks dan kata kuncinya bisa sangat bervariasi. Elemen tersebut adalah sebagai berikut:

Penyimpanan informasi dalam variabel dan array.

Pembuatan keputusan dalam kode

Penggunaan loops.

Penanganan basic error.

Penggunaan VBA dalam Excel memiliki beberapa keunggulan (Walkenbach, 2007: 15), antara lain:

  • Excel selalu selalu mengeksekusi suatu task dengan cara yang selalu sama persis.
  • Dengan VBA, Excel melakukan task jauh lebih cepat daripada dilakukan secara manual.
  • Dengan macro, Excel selalu memiliki performans tanpa kesalahan.
  • Semua task yang diprogramkan dapat dilakukan Excel meskipun user masih awam tentang excel.
  • Dengan VBA banyak hal yang bisa Kita lakukan, yang tidak akan bisa Kita lakukan dalam Excel tanpa VBA.
  • Untuk tugas-tugas Excel yang membutuhkan waktu lama dan membosankan, VBA bisa mengurangi durasi waktu dan kebosanan tersebut.

Di samping beberapa keuntungan di atas, VBA juga memiliki beberapa kelemahan, antara lain:

  • Kita harus terlebih dahulu mempelajari bagaimana cara menulis program VBA (meskipun tidak terlalu sulit).
  • Orang lain yang menggunakan program VBA yang telah kita buat, harus sudah memiliki program Excel dalam komputernya. Memang lebih nyaman bagi Kita jika tinggal menekan satu tombol yang dapat mentransformasikan aplikasi Excel VBA kita ke dalam suatu program mandiri, namun hal seperti ini tidak mungkin Kita lakukan (dan mungkin tidak akan pernah bisa Kita lakukan).
  • Kadang-kadang program tidak bisa berfungsi. Dengan kata lain, Kita tidak bisa begitu saja dengan mudah berasumsi bahwa program VBA Kita akan berfungsi dengan sempurna dalam semua kondisi. Di sini peran debugging menjadi sangat esensial.
  • VBA merupakan sasaran bergerak. Sebagaimana Kita maklumi bersama, Microsoft senantiasa meng-upgrade Excel. Boleh jadi program Excel VBA yang kita buat tidak bisa beroperasi dengan baik di versi Excel generasi berikutnya.
  1. Model Pengembangan Desain Instruksional dengan Menggunakan Multimedia Interaktif

Model pengembangan multimedia interaktif untuk kegiatan diklat di dalam penelitian ini mengadopsi dari Parhar (2003: 32). Dengan membandingkan berbagai model desain berdasarkan berbagai teori belajar, Parhar mendeskripsikan beberapa komponen yang sama dari langkah-langkah pengembangan desain instruksional dengan memanfaatkan multimedia interaktif, yaitu:

  1. Perumusan tujuan pembelajaran mata diklat yang dapat dirinci sebagai berikut:
  1. Identifikasi dan analisis tujuan pembelajaran dari mata diklat.
  2. Perencanaan dan solusi desain untuk pencapaian tujuan tersebut.
  3. Implementasi dari solusi tersebut.
  4. Analisis isi multimedia interaktif yang dikembangkan.
    1. Pemilihan jenis multimedia yang sesuai untuk pencapaian tujuan pembelajaran.
  5. Pembuatan multimedia interaktif.
  6. Evaluasi keefektivan multimedia yang dikembangkan.

    Model desain instruksional untuk kegiatan diklat dengan memanfaatkan teknologi bisa didefinisikan sebagai representasi visual dari suatu proses desain instruksional, berupa elemen-elemen utama atau frasa dari proses dan hal-hal yang terkait. Pendekatan sistemnya meliputi perumusan sasaran dan tujuan, analisis sumber, merencanakan kegiatan, dan evaluasi berkelanjutan dan modifikasi dari program. Pendekatan sistem seperti ini sudah mulai dikembangkan sejak tahun 1950-an dan 1960-an dan berakar di militer dan koorporasi, namun mulai mendominasi dunia pendidikan teknologi dan pembangunan pendidikan sejak tahun 1970-an. (Chen, 2011: 81).

    1. Kriteria Kelayakan Multimedia Interaktif Tipe Kombinasi Hypermedia dan Hypertext

    Ada paling sedikit sebelas faktor kualitas yang harus dipertimbangkan dalam pengembangan suatu piranti lunak (Edward Hasted, 2005: 121), yaitu:

    1. Valid, suatu program aplikasi disebut valid apabila program tersebut dapat berfungsi sesuai dengan tujuan program tersebut dibuat.
    2. Reliabel, yaitu program aplikasi tersebut harus mampu berope rasi dengan akurat.
    3. Efisien, suatu program aplikasi harus mampu bekerja di dalam jaringan dan sistem secara memadai dan tanpa hambatan.
    4. Memiliki integritas, artinya program aplikasi yang dibuat harus memiliki ketahanan tinggi terhadap virus dan hacking.
    5. Keterpakaian, program aplikasi yang baik haruslah bersahabat dan mudah digunakan oleh para user.
    6. Maintainabilitas, ketika program aplikasi mengalami kerusakan harus bisa diperbaiki secepatnya.
    7. Fleksibilitas, program aplikasi yang baik harus memiliki fleksibilitas di berbagai platform, misal bisa digunakan di berbagai operating system.
    8. Testabilitas, suatu program aplikasi yang baik haruslah bisa diuji kinerja dan kelayakannya.
    9. Portabilitas, suatu program aplikasi yang baik harus bisa beroperasi di operating system generasi yang baru.
    10. Reusabilitas,yaitu suatu kondisi yang ideal di mana modularitas kode dan scratch dari suatu program aplikasi dapat diimpor oleh suatu proyek baru.
    11. Interoperabilitas, suatu program aplikasi yang baik harus harus bisa bekerja berbarengan dengan program aplikasi lain.

    .

    1. PERANCANGAN SISTEM
  • Jenis Penelitian

Jenis penelitian di dalam tulisan ini adalah penelitian pengembangan. Dalam hal ini, Peneliti mengembangkan multimedia interaktif tipe kombinasi hypermedia dan hypertext dengan merekayasa VBA Ecel 2007. Multimedia interaktif ini dipergunakan untuk kegiatan diklat EDS tahun 2012.

  • Tempat dan Waktu Penelitian

    Penelitian pengembangan ini dilaksanakan di LPMP Jawa Tengah dalam kurun waktu mulai dari penyusunan proposal, pelaksanaan penelitian sampai dengan penyusunan laporan penelitian dari awal bulan Oktober 2011. Penyusunan artikel penelitian dilaksanakan awal 2012.

    • Prosedur Pengembangan
  1. Survei dan Studi Literatur

Studi literatur dilakukan dengan melakukan kajian dari buku, buku elektronik, jurnal, dan browsing internet. Subjek kajian meliputi metodologi penelitian pengembangan, statistik, EDS, multimedia interaktif, kegiatan diklat, teknologi piranti keras komputer, dan VBA Excel. Studi dielaborasikan melalui wawancara dengan pakar EDS, pakar informasi teknologi, dan pakar metodologi penelitian.

  1. Analisis dan Perancangan Sistem

Sebagaiman dideskripsikan pada bab sebelumnya, multimedia interaktif yang efektif dapat memfasilitasi peserta diklat mensimulasikan kegiatan yang akan dilakukan di lapangan nanti. Dengan bantuan VBA dan lembar kerja akan membantu para peserta diklat mengumpulkan dan menyimpan data, mengolah data, membuat kategori pencapaian standar secara otomatis, dan melakukan agregasi deskripsi dan rekomendasi secara otomatis pula. Hal ini akan membuat peserta diklat bisa menyelesaikan tugasnya secara lebih cepat, lebih akurat dan lebih akuntabel.

  • Desain Sistem

Berikut ini adalah diagram desain sistem multimedia interaktif yang akan dikembangkan:

Gambar 01. Blok Diagram Aplikasi Multimedia Interaktif Simulasi EDS

Pada gambar 01 dipaparkan blok diagram alur aplikasi pengolahan data untuk simulasi agregasi EDS secara umum. Input data meliputi identitas sekolah responden, bukti fisik untuk setiap indikator dari (62 indikator), deskripsi pencapaian, tahapan pencapaian dari setiap indikator, dan rekomendasi untuk setiap indikator. Proses pengolahan data menggunakan menu-menu VBA Excel 2007. Output yang diharapkan setelah data diproses meliputi agregasi tahapan daerah binaan (dabin), agregasi deskripsi dabin, serta agregasi rekomendasi dabin.

  1. System Flow Utama

    System flow utama dimulai menu open file berupa master piranti lunak agregasi data EDS. File master ini terproteksi, sehingga untuk membukanya bisa diplih menu read only. Sebelum file master terbuka, harus dilakukan login berupa menyimpan data tersebut menjadi file baru dengan nama yang disesuaikan dengan nama end user dalam hal ini pengawas sekolah. Langkah kedua adalah membuka lembar kerja pertama berupa halaman muka dan isian identitas sekolah. Langkah ini sesungguhnya bisa dianggap sebagai log masuk karena identitas yang dituliskan akan menjadi kata kunci untuk masuk ke dalam sistem penyimpanan data untuk sekolah yang bersangkutan. Setelah isian identitas dilakukan, bisa dilanjutkan dengan menu berikutnya dengan cara melakukan scroll ke halaman di bawahnya, yaitu mulai masuk ke menu utama aplikasi.

    Agregasi data pemenuhan SNP oleh setiap sekolah menjadi menu utama aplikasi. SNP ini terdiri dari delapan standar. Setiap standar terdiri dari beberapa komponen. Setiap komponen terdiri dari beberapa indikator. Rinciannya adalah pertama Standar Isi yang terdiri dari 2 komponen dengan rincian 3 indikator untuk komponen 1 dan 2 indikator untuk komponen 2, demikian seterusnya.

    Untuk lebih mudah memahami rincian ini disajikan diagram berikut ini.

  2. Sub
    System Flow Utama

    Gambar 03. Sub System
    Flow Utama

    Sub system flow utama dalam gambar 03 di atas mendeskripsikan rincian masing-masing standar dari delapan standar yang ada. Pertama, Standar Isi terdiri dari dua komponen dengan rincian dua indikator dari komponen pertama dan tiga indikator dari komponen kedua. Standar Proses berada di urutan kedua yang terdiri dari lima komponen dengan rincian komponen pertama terdiri dari tiga indikator, komponen kedua terdiri dari dua indikator, komponen ketiga terdiri dari dua indikator, komponen keempat terdiri dari dua indikator, serta komponen kelima terdiri dari dua indikator. Ketiga, Standar Kompetensi Lulusan (SKL) yang terdiri dari tiga komponen, dengan rincian komponen pertama terdiri dari dua indikator, komponen kedua terdiri dari dua indikator, dan komponen ketiga terdiri dari dua indikator. Keempat adalah Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PTK) yang terdiri dari tiga komponen dengan rincian masing-masing komponen terdiri dari dua indikator. Kelima adalah Standar Sarana dan Prasarana (Sarpras) yang terdiri dari dua komponen dengan rincian komponen pertama terdiri dari tiga indikator serta komponen kedua terdiri dari dua indikator. Keenam adalah Standar Pengelolaan yang terdiri dari enam komponen dengan rincian komponen pertama dua indikator, komponen kedua dua indikator, komponen ketiga tiga indikator, komponen keempat dua indikator, komponen kelima dua indikator, dan komponen keenam dua indikator. Ketujuh adalah Standar Pembiayaan yang terdiri dari tiga komponen dengan rincian komponen pertama empat indikator, komponen kedua tiga indikator, serta komponen ketiga dua indikator. Kedelapan atau terakhir adalah Standar Penilaian yang terdiri dari tiga komponen dengan rincian komponen pertama empat indikator, komponen kedua dua indikator, serta komponen ketiga terdiri dari dua indikator.

  3. Hierarchy Input Process Output (HIPO)

    Secara hirarkhis program aplikasi dibagi menjadi dua elemen yaitu maintenance aplikasi dan output berupa simulasinya. Elemen maintenance terdiri dari empat sub yaitu deskripsi bukti fisik, end user, view log, dan agregasi data. Elemen simulasi terdiri dari tiga sub, yaitu deskripsi bukti fisik, view log, dan agregasi data. Sub elemen maintenance bukti fisik terdiri dari 4 jenjang, yaitu maintenance bukti fisik itu sendiri, deskripsi pencapaian indikator, penentuan tahapan dan rekomendasi.

    Gambar 04. HIPO

  4. Flowchart Aplikasi

    Flowchart aplikasi terdiri dari dua bagian, yaitu untuk admin dan untuk pengguna. Flowchart aplikasi selengkapnya digambarkan sebagai berikut.


    Gambar 05. Flowchart Aplikasi

  5. Data Flow Diagram

    Data Flow Diagram (DFD) merupakan model dari sistem untuk menggambarkan pembagian dari sistem ke dalam model yang lebih kecil. DFD digambarkan ke dalam level-level tertentu untuk menjelaskan rinciannya.

    1. Context Diagram

    Context Diagram adalah diagram yang terdiri dari suatu proses dan menggambarkan ruang lingkup suatu sistem. Context Diagram akan memberikan gambaran tentang keseluruhan sistem. Berikut ini adalah Context Diagram dari aplikasi multimedia interaktif simulasi agregasi data.

    Gambar 06. Context Diagram Aplikasi Multimedia Interaktif Simulasi Agregasi Data

    1. DFD Level 0

    Karena keterbatasan ruang untuk tulisan ini, maka hanya DFD Level 0 saja yangh bisa digambarkan, yaitu sebagai berikut:

  • Evaluasi
  1. Subjek Uji Coba

    Uji coba produk dimaksudkan untuk mengumpulkan data yang dapat digunakan sebagai dasar untuk menetapkan tingkat keefektifan, efisiensi, dan/atau daya tarik dari produk yang dihasilkan. Secara lengkap, uji coba produk pengembangan biasanya dilakukan melalui tiga tahapan, yaitu uji perseorangan, uji kelompok kecil, dan uji lapangan. Dalam suatu kegiatan pengembangan, pengembang mungkin hanya melewati dan berhenti pada tahap uji perseorangan, atau dilanjutkan dan berhenti sampai tahap uji kelompok kecil, atau sampai uji lapangan.Hal ini sangat tergantung pada urgensi dari data yang dibutuhkan melalui uji coba itu (UM, 2003; Borg, 2008: 771 ).

  2. Uji Coba Ahli Isi

    Uji coba ahli dilakukan oleh pakar EDS yang dalam hal ini adalah National Core Team (NCT) EDS. Tahap ini bertujuan untuk melakukan evaluasi terhadap substansi materi EDS yang ada di dalam multimedia interaktif yang dikembangkan.

  3. Uji Coba Perorangan

    Subjek uji coba perorangan terdiri dari 8 orang calon pengguna, yaitu 3 orang fasilitator diklat EDS dan 5 orang peserta diklat EDS. Tahap ini bertujuan untuk melakukan evaluasi keefektifan program aplikasi yang dirancang bangun baik sebagai media pembelajaran maupun sebagai piranti pengolah data di lapangan.

  4. Instrumen Pengujian

    Instrumen yang digunakan di dalam penelitian ini adalah angket dengan menggunakan Skala Likert dengan 4 pilihan. Angket terlebih dahulu divalidasi menggunakan instrumen telaah soal yang sudah distandarisasi oleh Depdiknas (Direktorat Pembinaan SMA, 2008) setelah terlebih dahulu dimodifikasi. Telaah validitas meliputi validitas muka, validitas konstruk, dan validitas isi. Telaah instrumen dimintakan pertimbangan pakar penelitian.

    .

  5. Teknik Analisis Hasil Pengujian

    Data yang telah didapat akan dianalisis untuk mengetahui respon pengguna akhir terhadap program aplikasi yang telah dibangun. Hasil angket akan dianalisis dengan menggunakan pendekatan analisis item summated scales dari Skala Likert (Kothari, 2004: 83 ).

    Dalam analisis item summated scales, skor akhir diperoleh dengan cara menjumlahkan angka untuk setiap jawaban dari hasil angket. Dari jumlah itu, dapat dibedakan taraf atau intensitas sikap peserta diklat terhadap aplikasi yang digunakannya. Adapun analisis tersebut untuk setiap butir pertanyaan menggunakan rumus:

    Dari skor setiap butir pertanyaan, kemudian dikonversi ke dalam kategori sebagai berikut (Suharsimi, 2010:192; Kothari, 2004: 85 ):

    76% – 100% = sangat baik/menarik/sesuai/efektif

    51% – 75% = baik/menarik/sesuai/efektif

    26% – 50% = kurang baik/menarik/sesuai/efektif

    0% – 25% = tidak baik/menarik/sesuai/efektif

    1. IMPLEMENTASI DAN EVALUASI
  6. Implementasi
    1. Perangkat Lunak
    2. OS Windows 7 Ultimate 32 bit
    3. Visual Basic Application Excel MS Office 2007
    4. Perangkat Keras
    5. Netbook
    6. Prosessor: Intel Atom CPU N450 @ 1,66 GHz
    7. Memory: 1024 MB RAM
    8. Display: Intel Media Graphic Accelerator 3150 memori 250 MB
    9. Monitor: Generic PnP Monitor 32 bit
    10. Instalasi

    Untuk instalasi program aplikasi ini langkah-langkah yang harus dilakukan adalah:

    1. Copy program aplikasi ke hardisk
    2. Buka file masternya, maka akan muncul permintaan konfirmasi password. Pilih menu read only.
    3. Setelah program aplikasi terbuka, save as dan beri nama dengan nama user yaitu pengawas sekolah yang akan melakukan agregasi data. Langkah ini adalah langkah terakhir dalam instalasi.

    1. Implementasi Input dan Output
      1. Form Utama Aplikasi

    Form utama aplikasi adalah sheet 1 s.d. sheet 10 yang berisi identitas sekolah dan isian EDS masing-masing sekolah. Setiap lembar kerja terdiri dari 62 halaman, berarti setiap indikator rata-rata membutuhkan satu halaman.

    1. Output Agregasi Tahapan

    Form Agregasi Tahapan terletak di sheet 11. Form ini akan terisi dengan sendirinya ketika data-data EDS mulai masuk. Untuk menjaga agar berbagai fungsi menu yang ada di lembar ini tidak terhapus secara tidak sengaja oleh user, maka lembar ini diproteksi. Untuk dapat memanfaatkan datanya, user dapat menyalin data yang dibutuhkan dan menempelkannya di buku kerja yang berbeda.

    1. Output Agregasi Rekomendasi

    Output Agregasi data EDS merupakan elemen paling penting pada program aplikasi ini. Karena lembar ini diproteksi untuk menjaga dari penghapusan data tidak sengaja dari user yang kurang familiar dengan pemrograman excel, maka untuk dapat membaca hasil agregasinya sel yang ingin dibaca dicopy terlebih dahulu ke buku kerja (workbook) yang baru.

  7. Hasil Evaluasi
    1. Hasil Uji Coba Ahli EDS

    Uji coba ahli dilaksanakan dengan subjek seorang pakar evaluasi diri sekolah

    Tabel Uji Coba Ahli Isi

    Dari uji coba ahli diperoleh gambaran bahwa hampir semua komponen program aplikasi termasuk kategori sangat baik sehingga tidak perlu perbaikan. Sedangkan komponen lembar agregasi rekomendasi termasuk kategori baik sehingga perlu ditingkatkan kinerjanya. Peningkatan dilakukan dengan cara memberi ruang baca yang lebih besar. Dari pertanyaan terbuka ada masukan untuk menambah jumlah sekolah sampel karena ada kemungkinan pengawas sekolah yang cakupan daerah binaannya luas. Penambahan dilakukan dengan cara menambah lembar kerja termasuk menyesuaikan rumus-rumus yang ada.

    1. Hasil Uji Coba Perorangan

Uji coba perorangan dilaksanakan dengan subjek 3 orang calon fasilitator dan 5 orang calon peserta dan/atau user.

Tabel Uji Coba Perorangan

Dari uji coba perorangan diperoleh gambaran bahwa semua komponen program sudah berfungsi dengan sangat baik, yaitu memperoleh skor di atas 75%. Dari instrumen terbuka diperoleh saran yang sama dari uji coba ahli untuk menambah jumlah sekolah sampel karena ada kemungkinan pengawas sekolah yang cakupan daerah binaannya luas.

  1. Diseminasi Program

Karena program aplikasi berfungsi dengan baik sesuai tujuan pengembangan-nya, maka perlu didiseminasikan kepada para fasilitator diklat EDS, para peserta diklat EDS, dan para pengguna. Diseminasi dilakukan kepada para peserta diklat ketika diklat berlangsung dan diunggah di web sehingga bisa diunduh semua pemangku kepentingan yang membutuhkan.

  1. PENUTUP
  1. Simpulan

Dari hasil uji coba multimedia interaktif program aplikasi simulasi agregasi data EDS yang telah dirancang bangun dalam penelitian pengembangan ini, disimpulkan hal-hal sebagai berikut:

  1. Program aplikasi yang telah dirancang bangun dapat berfungsi sebagai media pembelajaran yang dapat membantu fasilitator diklat EDS dalam mensimulasikan agregasi data.
  2. Program aplikasi yang telah dirancang bangun dapat berfungsi sebagai media pembelajaran yang dapat membantu user memahami proses agregasi data EDS.
  3. Program aplikasi yang telah dirancang bangun dapat digunakan pengguna untuk melaksanakan agregasi data dalam kegiatan EDS yang sesungguhnya.
  1. Saran

Dari hasil penelitian pengembangan multimedia interaktif program aplikasi simulasi agregasi data EDS ini dapat disarankan untuk penelitian lanjutan sebagai berikut:

  1. Program aplikasi yang telah dirancang bangun dapat dikembangkan lagi menjadi program aplikasi online.
  2. Program aplikasi yang telah dirancang bangun dapat dikembangkan menjadi SIM Pendidikan di tiap daerah kabupaten/kota sehingga tersedia data dan peta akurat tentang pencapaian Standar Nasional Pendidikan di kabupaten/kota.

DAFTAR PUSTAKA

Borg, Walter H. Dan Meredith Damien Gal. 1983. Educational Research: An Itntroduction. New York: Longman Inc.

Chen, Irene.2011. Instructional Design Methodologies. Dalam Kristin Klinger. Instructional Design:Concepts, Methodologies, Tools, and Applications. Hershey, New York: Information Science Reference. .

DeMarco, John. 2008. Pro Excel 2007 VBA: Learn to build high-performance applications in Excel 2007 using VBA. Berkeley:Apress.

Direktorat Jenderal PMPT Kemdiknas. 2011. Panduan Evaluasi Diri Sekolah/Madrasah. Jakarta: Dijen PMPTK Kemdiknas.

Direktorat Pembinaan SMA Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional. 2008. Panduan Analisis Butir Soal. (CD ROM: Materi Pelatihan Sosialisasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, Dirjen PMPTK Departemen Pendidikan Nasional).

Fahy, Patrick J. 2003. Planning for Multimedia Learning. Dalam Sanjaya Mishra dan Ramesh C. Sharma. Interactive Multimedia in Education and Training (hal. 1-24). London: Idea Group Publishing.

Green, John, dkk. 2007. Excel 2007 VBA: Programmer’s Reference. Indianapolis: Wiley Publishing Inc.

Gyurky, Szabolcs Michael de. 2006. Work Out Change: Systemic Innovation in Vocational Education and Training. OECD: Centre for Educational Research and Innovation.

Harvey, Greg. 2010. Excel 2010 All in One for Dummies. Indianapolis: Wiley Publishing Inc.

Hasted, Edward.2005. Software That Sells: A Practical Guide to Developing and Marketing Your Software Project.Indianapolis:Wiley Publishing Inc.

Hill, Peter.L. 2011. Practical Software Project Estimation: A Toolkit for Estimating Software Development Effort & Duration. New York: Mc. Graw Hill.

Jelen, Bill and Dwayne K. Dowell. 2007. Excel forAuditors. Uniontown: Holy Macro! Books.

Jelen, Bill. 2005. Learn Excel from Mr, Excel. Uniontown: Holy Macro! Books.

Jelen, Bill. 2008. 377 Excel Mysteries Solved. Uniontown: Holy Macro! Books.

Jelen, Bill. 2009. Excel Gurus Gone Wild. Uniontown: Holy Macro! Books.

Kothari,C.R. 2004. Research Methodology:Methods and Techniques. New Delhi: New Age International (P) Ltd., Publishers.

Michael Spector. 2008. Handbook of Research on Educational Communications and Technology (Third Edition). New York: Lawrence Erlbaum Associates.

Parhar, Madhu. 2003. Instructional Design for Multimedia. Dalam Reddi, Usha V dan Sanjaya Mishra (Eds) : Multimedia as An Educational Tool (hal. 27-38). New Delhi: Commonwealth Educational Media Centre for Asia.

Peraturan Kepala Lembaga Administrasi Negara No. 9 Tahun 2008 Tentang Pedoman Penyusunan Karya Tulis Ilmiah bagi Widyaiswara. (Online: http://www.ditbin-widyaiswara.or.id/pedoman.html. Direktorat Pembinaan Widyaiswara Lembaga Administrasi Negara. Diakses tanggal 02022012).

Peraturan Pemerintah no.19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan.

Reddi, Usha V.2003. Educational Media: A Handbook for Teacher-Developers. Dalam Reddi, Usha V dan Sanjaya Mishra (Eds) : Multimedia as An Educational Tool (hal. 3-13). New Delhi: Commonwealth Educational Media Centre for Asia.

Schunk, Dale H. 2012. Learning Theories, An Educational Perspective. Boston: Pearson Education Inc.

Suharsimi Arikunto.2010. Penelitian Tindakan untuk Guru, Kepala Sekolah & Pengawas. Yogyakarta:Aditya Media.

Taylor, Edward W. 2008. Transformative Learning Theory. Dalam Merriam, Sharan B (Eds). Third Update on Adult Learning Theory (hal. 5-13). San Francisco: Wiley Periodicals.

Universitas Negeri Malang. 2003. Pedoman Penulisan Karya Tulis Ilmiah. Malang: Universitas Negeri Malang.

Verschuuren, Gerard,M.2006. From VBA to PSTO: Is Excel’s New Engine for You?. United States: Holy Macro! Books.

Walkenbach, John. 2004. Excel VBA Programming for Dummies. Indianapolis: Wiley Publishing Inc.

Walkenbach, John. 2010. Excel 2010 Power Programming with VBA. Indianapolis: Wiley Publishing Inc..

Walkenbach, John. 2010. Microsoft Excel 2010 Formulas. Indianapolis: Wiley Publishing Inc..

Walkenbach,John. 2004. Excel VBA Programming for Dummies. Indianapolis: Wiley Publishing Inc.

Wang, Victor C.X. 2010. Effective Teaching with Technology in Adult Education. Dalam Wang, Victor C.X. Integrating Adult Learning and Technologies for Effective Educaton: Strategic Approach (hal. 48-61). Hershey New York: Information Science Reference.

~ by samsira on 2 April 2012.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: