Frekwensi – Energi – Materi Negeri Gontor

Bahan, kedirian, asset dan potensialitas setiap individu atau kelompok manusia dalam kehidupan: sebaiknya dikonsep secara jelas akan dijadikan formula-materi, formula-enerji ataukah formula-frekwensi. Atau pakai variabel: dari potensialitas itu berapa % yang diaplikasikan menjadi bentukan-materi, berapa % yang enerji dan berapa % frekwensi. Kalau dalam konteks kehidupan bernegara misalnya, output-frekwensi Gontor luar biasa. Setiap ‘penduduk’ Gontor bisa bersambung frekwensinya dan tune-in satu sama lain cukup melalui satu dua kata: “dhomir”, “layyin”, “Bani Miran”, “mad’u”… Tetapi kesanggupan Gontor untuk “energizing the nation life” terbatas pada fenomenologi sistem kependidikannya, sedikit karakter manusia produk-produknya, atau cuatan harga diri, kebanggaan dan sedikit ‘sok’ yang muncul dari identitas ke-Gontoran- seseorang. Para alumnus Gontor kalau bicara seperti “kitiran” atau baling-baling, kalau pidato “nggaya pol” dan enak dikenyam oleh receiver estetika pendengarnya. Yang kemudian dimaksudkan dengan formula-materi adalah kemungkinan Gontor berlaga, berpartisipasi dan berperan dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara melalui bentukan-bentukan ‘materiil’ misalnya Parpol, atau sekurang-kurangnya Ormas Nasional, atau sampai tingkat mengajukan Capres dan menawarkan konsep penyembuhan sakitnya Negara dengan dasar ilmu “Aji-aji Zarkasyi”.

***********

Ini belum ada hubungannya dengan setuju atau tak setuju terlebih dulu: ini sekedar pembacaan diri, self identification. Sejauh ini Gontor belum jelas konsep materi-enerji-frekwensinya. Terutama terjadi berbagai ketidakjelasan sikap atau kerancuan berpikir di antara enerji dan materi. Tidak berpolitik tapi sejumlah orang serta alam pikiran penduduknya “blakra^an” ke wilayah politik praktis, bangga secara naif dan bahlul terhadap Cak Nur atau Din mau jadi Presiden, “Ha^ula^” pencolotan ke parpol ini itu dan birokrasi sana sini tanpa sambungan dengan akar ke-Gontor-an dan ke-Zarkasyi-an. Kenapa tak sekalian bikin Parpol, dengan gelombang/frekwensi nasional dan dengan enerji unggul dan tradisi sistem pengkaderannya yang sebenarnya lumayan: Partai Gontor bisa 3X lipat PKS. Gontor yang “Pondok Modern” menawarkan kepada Indonesia “Negara Modern” dengan kesadaran dan konsep transformasi “peradaban” dengan bekal wacana dan hikmah yang digali dari kematangan sejarah Trimurti. Dengan begitu maka lingkup kependidikan Gontor dikembangkan atau diijtihadi dengan mendirikan “Laboratorium Masa Depan Indonesia”, membangun infrastruktur komprehensif untuk muatan dan kwalitas laboratorium itu, pergi beranjak ke depan dari stagnasi “Muhadloroh Pethitha-pethithi” dengan sorak sorai tanpa makna. Atau kalau Gontor mengambil keputusan untuk bergerak di wilayah frekwensi dan energi saja, ya tak perlu blakra^an njawil-njawil politik praktis, punyai harga diri untuk tak perlu menjadi “fans” dari semesta bodoh mainstream kehidupan politik elite Indonesia. Gontor sudah hebat jadi “Shao Lin” saja.

~ by samsira on 11 May 2009.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: