ERA WAYANG, ORDE KETHOPRAK DAN DUNIA TOGOG

Marilah mengaku saja bahwa pusat perhatian kita adalah Raja-Raja. Marilah tak usah menutup-nutupi bahwa kecendrungan utama historis kita adalah memajang Raja-Raja di layar psikologi kebudayaan kita; baik terpatri di benak kita masing-masing maupun yang terungkap di panggung-panggung sosial kita.

Masyarakat menikmati kenduri dan tumpengan nasional dengan menu isu tentang Raja-Raja dan Pangeran-Pangeran atau calo-calonya; media massa menjadi pemrakarsa dan panitia kenduri nasional ini. Kepanitiaan yang berjargot “man makes news” ini menerjemahkan “man” menjadi terutama Raja-Raja dan Pangeran-Pangeran, bukan manusia-manusia.

Koran-koran selalu sangat sibuk mengajak masyarakat bergunjing tentang calon-calon tokoh utama di setiap level, seolah-olah ketua berganti makna, segala sesuatunya juga akan berubah secara mendasar. Seakan-akan ada kemungkinan yang sedemikian pentingnya yang ditawarkan kepada masyarakat oleh penggantian “raja”.
Bagi khalayak ramai, pengunjingan tentang calon-calon “raja”, merupakan peristiwa psikologis, dan itu hampir tidak ada kaitannya dengan apa yang sesungguhnya dimaknakan oleh kata “politik” dan “ekonomi” pada aslinya.

Pada sisi yang paling kelam, ini sesungguhnya adalah kanibalisme psikologis; kita berkeliling di “meja makan” kebudayaan yang padanya tersuguhkan segala bahan pergunjingan tentang apapun saja yang menyangkut Raja-Raja dan Pangeran-Pangeran.

Kita terkadang muak tetapi tetap mengenyamnya bersama-sama, beramai-ramai. Bahkan dalam kehidupan sehari-hari, penderitaan orang lain sering kali merupakan snack yang enak sebagai nyamikan di beranda rumah, di gardu atau pojok pasar dan warung-warung kopi.

Bagi industri informasi, segala kemungkinan “isi meja makan kebudayaan” itu senantiasa dieksplor sedemikian rupa sebagai komoditi yang dibilang utama.

Sesungguhnya, terhadap hampir seluruh peristiwa elite di panggung negeri ini, kita tidaklah terutama sedang mempergulatkan kreativitas kebangsaan dan sejarah secara mendasar, melainkan sedang menikmati tontonan KETHOPRAK dan WAYANG.

Yang saya maksud dengan dunia wayang dalam konteks ini bukan terutama pada fungsi dalang atas wayang, yang dalam bahasa politik sehari-hari kita sebut “rekayasa”, mekanisme “top-down” dan lain sebagainya. Melainkan bahwa dalam kosmos seni budaya wayang, tokohnya bukanlah manusia, sementara rakyat selalu anonim dan dianggap tidak memiliki kehendak atau (apalagi) kedaulatan.

Wayang adalah kisah mengasyikan mengenai Raja-Raja, Kesatria-Kesatria, dan Dewa-Dewi. Pelaku terbanyak dalam wayang adalah prajurit. Namun mereka bukan saya bukan tokoh; mereka bahkan bukan manusia, mereka adalah prajurit. Ada skala dan konsentrasi nilai yang amat berbeda antara manusia dan prajurit.

Jika Anda adalah pelaku kisah wayang, sesekali mungkin Anda dan saya memiliki sebutan: umpamanya TOGOG. Kakak sulung Kiai Semar dan Bathara Guru ini memiliki peran sejarah yang unik dan mengesalkan, persis seperti Anda. Yakni khususnya mengikuti perjalanan Tuan-tuan yang memiliki kecendrungan untuk JAHAT dan CURANG. Pekerjaan utama Togog adalah mengingatkan Tuannya tentang mana yang benar dan mana yang salah.

Togog selalu melontarkan kritik, namun hanya ditampung tanpa pernah dipercaya dan dituruti. Atau, Togog adalah pemeran yang selalu tidak pernah dianggap penting dan tidak pernah dipatuhi anjuran-anjurannya, namun ia terus-menerus mengungkapkan kritik-keritik.

Togog adalah satu-satunya nama Anda, meskipun jumlah Anda 240 juta. Kapanpun saja Anda bernama Togog, di zaman apapun Anda bernama Togog, pada Orde paling kuno hingga Orde post-mo Anda bernama Togog.

Raja Anda berganti-ganti, dari Prabu Rama dalam Ramayana hingga Puntadewa dalam Mahabharata sampai Parikesit di kurun pasca Bharatayuda, dan Anda tetap bernama Togog.

Bapak-Ibu Anda bernama Togog, keponakan dan anak turun Anda bernama Togog. Pekerjaan utama Anda adalah menerima apapun saja kehendak dan keputusan setiap Raja yang menguasai Anda, sambil melontarkan kritik tanpa pernah sungguh-sungguh diperhatikan. Dan hobi permanen Anda dari zaman ke zaman adalah menikmati perjalanan Raja-Raja, sampai hari ini, saat Anda membolak-balik tulisan ini.

Kalau dalam dunia kethoprak, nama kita adalah Bolo Dhupakan, pemeran-pemeran figuran yang jumlahnya lebih banyak dari pemeran utama, namun tugas utamanya adalah didhupak-dhupak alias ditendang-tendang. Yang ditendang-tendang terkadang dahi dan punggung kita, di saat lain hak-hak asasi kita, atau yang rutin adalah gagasan-gagasan kita mengenai bagaimana lakon kethoprak itu mestinya berlangsung.

Pada saat yang sama sesungguhnya kita juga sindhen-sindhen pelaku keindahan yang mendendangkan legenda dan segala jenis nyanyian tentang Raja-Raja dan Pangeran-Pangeran: peran berdendang barangkali bukanlah tergolong nasib yang terlalu buruk.

Tetapi yang harus dengan seksama kita catat adalah betapa tradisi pemusatan perhatian terhadap Raja-Raja dan Pangeran-Pangeran memiliki akibat sejarah yang tidak sederhana. Kalau dalam kesempatan bincang-bincang serius Anda tiba-tiba pada tema – umpamanya – ketidaksiapan masyarakat untuk mengerjakan demokrasi dan membangun komunitas egalitarian, proses kualifikasi kepemimpinan yang selalu kembali terjebak pada patrimonialisme dan khususnya budaya monarki, mekanisme regenerasi yang terantuk-antuk oleh bebatuan feodalisme, dan lain sebagainya – percayalah itu karena kita memang masih bersemayam di ERA WAYANG, ORDE KETHOPRAK dan nama Anda adalah TOGOG.

Kita membutuhkan kesempatan khusus untuk menguraikan itu. Namun, yang jelas, ke-TOGOG-an adalah posisi dan situasi floating-mass yang mengaktualisasikan dirinya melalui bentuk-bentuk s

~ by samsira on 11 May 2009.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: