TIGA PENGGEMBALA

Diperdebatkan orang dalam suatu halaqah perihal zakat profesi yang mempertimbangkan dua puluh persen dari perolehan kaum profesional untuk disalurkan kepada orang-orang yang berhak.
Tiba-tiba dilaporkan oleh seorang hadirin bahwa perundingan suatu kelompok ahli telah menetapkan bahwa ide zakat profesi itu mengandung jahl, kufr, serta pelanggaran yang serius atas syari’at.
“Bahkan cendekia pencetus ide tersebut telah dimasukkan ke dalam golongan jahiliyah, karena tak ada nash serta landasan hukum atas usulan tersebut,” kata si pelapor.
Halaqah menjadi macet dan ditimpa keriuhan baru, yakni yang menyangkut sakit hati oleh tuduhan kafir dan jahiliyah, sampai kemudian seorang hadirin yang lain mencoba menerobos kekeruhan suasana:

“Kalau kita berjumpa dengan seorang pengemis kanak-kanak di tepi jalan raya, dan kita tak memberikan apa-apa melainkan melewatinya saja bahkan tak pula meliriknya barang sebelah matapun,” ujarnya, “tak seorang jaksa pun akan punya alasan hukum untuk menyeret kita ke pengadilan dan memasukkan kita kedalam sel penjara. Juga tidak seorang Faqih pun bakal menuding kita dengan kutukan dosa.”
Para hadirin dan hadirat belum segera mengerti apa yang sebenarnya hendak dikemukakan oleh orang tadi.
“Tetapi apabila kita memperluas diri memasuki semesta kaum pejuang akhlak atau penyangga moral, maka perilaku kita atas pengemis kanak-kanak itu mulai bisa dipersalahkan.Dan apabila kemudian kita lebih memperluas kesadaran serta lebih mempertinggi hati nurani kita dengan memasuki arsy para kekasih atau para penggembala cinta, maka
apa yang kita lakukan itu sepenuhnya tak bisa dibenarkan.”
Kemana gerangan kalimatnya hendak pergi?
“Di dalam jagat raya cinta terdapat galaksi akhlak, dan di dalam galaksi akhlak terdapat tata surya fiqih atau hukum resmi.Galaksi akhlak runtuh dan jagat raya cinta terluka serius apabila sistem tata surya tak dipatuhi.Sebaliknya apa bila susunan dan mekanisme tata surya tidak berkaca dan memperkaya hati nuraninya dengan mengintegrasikan diri ke keluasan galaksi serta ke keagungan jagat raya, maka seorang Faqih bisa terperosok menjadi semacam prajurit polisi yang kerdil atau katak dalam tempurung yang bahkan tempurung itu saja pun tak bisa dilihatnya.”
Hadirin dan hadirat mulai tersenyum-senyum.
“Ikhwan dan akhwat yang kucintai, ” berkata orang itu akhirnya, “dua puluh persen yang dizakatkan, tidak bisa memperoleh pembenaran dari fiqih, akan tetapi akhlak menganjurkan zakat lebih dari lima puluh persen, dan cinta hanya bisa berkata bahwa yang harus
engkau persembahkan kepada Alloh melalui hamba-hamba-Nya yang menderita adalah seratus persen.”
“Benar!” teriak hadirin yang lain lagi, “ayat-ayat fiqih tidaklah banyak, tetapi petunjuk tentang akhlak dan cinta memenuhi Al-Qur’an seperti atmosfir mengepung bumi!”

~ by samsira on 6 May 2009.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: