Peringatan dari Pembantu Rumah tangga

SEORANG pembantu rumahtangga dari Gang Bayi, RT-1/ RW-3 Desa Gogorantai – GPR – Kediri, Jawa Timur bersurat kepada saya “untuk mengurangi beban saya sebagai anak yang tersisih dari pergaulan dengan teman-teman seusia saya, karena rendahnya martabat saya sebagai pembantu rumahtangga”, katanya.
Ia menulis bahwa kemanapun ia pergi, di manapun ia duduk, orang-orang di sekelilingnya memandang rendah, menganggap saya tak ada harga di mata mereka. “Orang-orang yang terhormat dan kaya itu hanya punya satu hal untuk saya, yaitu perintah. Mereka menindas dan memeras orang lemah, hanya mulutnya saja yang manis. Padahal kalau dilihat dari segi pengetahuan, tentu juragan lebih punya kasih sayang kepada sesama manusia dibanding yang dimiliki orang bodoh macam saya”.
Kita memperoleh dua pelajaran ilmu sosial dan psikologi dari kalimatnya itu.
Pertama, bahwa masyarakat kita yang sudah modern dan maju, sudah melewati PJPT-1, masih menganggap rendah manusia hanya karena ia berstatus sebagai pembantu rumah-tangga.

Kedua, ternyata tingginya tingkat pendidikan dan luasnya ilmu seseorang, tidak membuat kasih sayang sosialnya meningkat.
Pada pandangan saya, yang pertama itu ironis, sedangkan yang kedua sesat.
Selanjutnya pembantu rumahtangga kita itu mengatakan, “Juragan saya jelas orang yang beragama, sehingga tentunya ia berkasih sayang dan suka menolong sesama manusia, terutama yang lemah dan miskin. Tapi kenyataannya juragan tidak demikian. Orang miskin hanya dijadikan sarana untuk memenuhi kebutuhannya”.
Ia menulis, juragannya tidak takut kepada Allah. Hidupnya hanya mengunggulkan harta, kecantikan dan kemewahan saja. Apakah di akherat nanti semua bisa menolongnya? Kalau mereka tahu itu kenapa mereka melanggarnya?
“Pembantu tidak dapat tanda jasa, tanpa balasan kasih sayang, padahal jelas jam tiga pagipun ia selalu siap diperintah. Pembantu hanya wajib dimarahi, diperintah, diancam, dituduh semaunya, tidak boleh membantah, tidak boleh menjawab satu katapun meskipun dalam posisi yang benar. Sangat sedih hati saya, kalau posisi benar tapi dituduh salah”.
Kita peroleh lagi dua pelajaran. Pertama ilmu agama, terutama masalah akhlaq. Dan kedua, ilmu politik dan kekuasaan.
Dan empat pelajaran itu lahir tidak dari perpustakaan, referensi atau buku-buku, melainkan bersumber dari pengalaman otentik, dari keringat dan airmata realitas, dari nurani yang jujur dan pikiran yang jernih.
Jadi, itu ilmu sejati. Mutu dan pahalanya sepuluh kali lipat dibanding dosen yang mentransfer kalimat-kalimat dari buku ke diktat para mahasiswanya.
Jadi, apakah ia bodoh? Apakah ia rendah? Apakah ia lebih bodoh, lebih rendah, lebih tidak punya harga dibanding kita serta juragannya?
Ia mengumpamakan pembantu rumahtangga itu seperti binatang yang tidak punya puser. “Kalau sudah begitu saya hanya bisa menangis. Ya Alloh, berilah aku pekerjaan, sehingga aku bisa meringankan beban Bapak dan Ibuku”, katanya lagi.
Ia kemudian menuding saya. “Apakah Cak Nun juga akan berlaku demikian? Apakah Cak Nun juga akan memandang rendah saya? Apakah surat saya ini dibaca oleh sekretaris Cak Nun? Kalau begitu apa nanti tidak dibuang ke tong sampah? Cak Nun, kenapa saya tidak diberi kelebihan seperti Pak Habibie atau Susi Susanti sehingga saya harus menerima hal yang seperti ini? Tapi kalau saya melihat anak yang cacat, saya menangis. Betapa adilnya Tuhan…”.*****

~ by samsira on 6 May 2009.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: