KE PAK HARTO KOK SOWAN

‘Sowan’ itu istilah budaya atau adat, khususnya Jawa. Kenapa di orde reformasi ini orang masih seneng pada tema sowan?
Budaya itu relatif, bisa berubah sehari lima kali. Ia merupakan produk dari simpulan kebiasaan perilaku di antara manusia, atau konvensi kultural-etik, atau suatu transaksi pergaulan, yang kapan saja bisa dan boleh diubah.
Dengan kata lain, nilai budaya bersifat relatif. Beda dengan nilai dasar Agama yang bersifat permanen, meskipun aplikasinya bisa saja debatable, sehingga relatif juga. Tetapi letak relativitas nilai Agama justru terletak pada ‘hak budaya’ manusia, yakni kewenangan manusia untuk menafsirkan. Jumlah rakaat shalat bersifat mutlak, tapi apakah Subuh pakai qunut atau tidak, kalau shalat boleh memejamkan mata atau tidak — itu openly interpretable.
Penggusuran paksa, penindasan, penganiayaan, itu mutlak haram. Tetapi apakah suatu kasus bermuatan penindasan atau tidak, itu terserah penafsiran. Melawan penyakit tubuh itu kewajiban manusia, tapi tindakan operasi di rumah sakit boleh ditafsirkan sebagai ‘menyembuhkan penyakit’ atau dianggap ‘menyakiti pasien’.

Wilayah interpretasi itulah ‘negeri demokrasi’ yang disediakan oleh Agama, di mana Tuhan memerdekakan manusia: la ikraha fid-din. Tak ada paksaan dalam Agama. Kita boleh mengintrepretasikan bahwa kita bisa menciptakan diri kita sendiri sehingga kita memiliki hak penuh atas diri kita mau berbuat apa saja.

Jadi, ‘sowan’ bukan idiom Agama. Tidak ada di ayat atau firman apapun: Zabur, Taurat, Injil sampai Qur’an. Ia kreasi manusia. Berasal dari budaya feodalisme, di mana struktur derajat antar manusia di susun pada stratifikasi vertikal.
‘Sowan’ adalah kunjungan seseorang kepada orang lain yang mungkin lebih tua, atau lebih berkuasa, atau lebih kaya, atau lebih pintar, atau pokoknya berdasarkan perbedaan keunggulan antara yang berkunjung dengan yang dikunjungi.
Di dalam Agama tidak ada ‘sowan’. Yang ada silaturahmi, menyambung kasih sayang antar manusia dalam kedudukan yang sejajar. Silaturahmi bisa berupa kemesraan pergaulan, atau tabayyun (memperjelas suatu permasalahan), atau indzar (memperingatkan akan sesuatu hal).
Demi keselamatan manusia sendiri, Tuhan tidak memperkenankan perilaku ‘sowan’. Tuhan bilang semua manusia sederajat, yang membedakan tinggi rendah derajatnya hanya kadar taqwanya, dan kadar taqwa itu hakimnya hanya satu: yakni Tuhan itu sendiri, sehingga manusia tak usah mubazir memperdebatkan siapa yang lebih tinggi derajatnya di antara mereka, sehingga perlu sowan-sowan segala.

Sebuah media mewawancarai Gus Dur soal kunjungannya ke Pak Harto. “Kenapa ulama berkunjung ke umaro (penguasa), bukankah itu dilarang oleh Agama?”
Ada dua hal yang memerlukan penjelasan rasional pada pertanyaan itu. Pertama Pak Harto disebut umaro alias penguasa. Si pewawancara pasti tahu bahwa de jure Pak Harto bukanlah umaro sekarang ini, tapi mungkin ia berpendapat bahwa de facto Pak Harto masih bisa mengendalikan kekuasaan di negeri ini. Sehingga kedatangan Gus Dur dalam pandangan media itu disebut ‘sowan’.
Kedua, apakah ulama dilarang datang ke umaro? Di sinilah letak demokrasi tafsir. Kalau yang dilakukan oleh Gus Dur adalah pekerjaan Nabi Musa As. yang mematuhi perintah Tuhan “idzahab ila Fir’auna innahu thagha..”, pergilah menemui Fir’aun yang melampaui batas itu, tanyakan kepadanya apakah ia mau mensucikan diri? — maka bukan hanya tak dilarang, melainkan malah wajib hukumnya. Gus Dur wajib nahi munkar dengan memberinya peringatan atau melawannya secara frontal pada momentum yang diharuskan untuk itu.
Adapun apakah Pak Harto identik dengan Fir’aun atau tidak, itu juga ‘negeri demokrasi’. Tapi yang pasti setiap manusia di dalam hatinya, pikiran dan perilaku sejarahnya memiliki “Fir’aun’ dan “Musa” sendiri-sendiri. Jadi perintah Allah agar Musa mendatangi Fir’aun itu bisa juga berarti kita masing-masing mendayagunakan Musa kita untuk mengkritik Fir’aun kita sendiri-sendiri.
Masalahnya, di balik pertanyaan itu: apakah secara psikologis-subyektif si pewawancara itu sendiri memang masih menganggap bahwa Pak Harto adalah penguasa, sehingga bunyi pertanyaannya demikian?

Pada pandangan saya pribadi, Pak Harto sama sekali tidak relevan dan tidak memenuhi prinsip nilai saya untuk di-sowan-i. Baik ketika ia masih berkuasa, apalagi sekarang.
Kalau ada orang berkunjung ke Pak Harto dan orang lain menyebut itu ‘sowan’, mungkin orang yang berkunjung itu memang benar-benar ‘sowan’ — dalam makna budaya di atas — atau kemungkinan lain si penuduh itu sendiri yang di bawah sadarnya masih menganggap bahwa Pak Harto itu relevan untuk di-sowan-i.
Lima kali saya dihubungi oleh sejumlah pihak yang mengemukakan bahwa Pak Harto bermaksud ketemu saya. Kali kelima saya punya waktu. Yakni saat ketika baru saja saya mengemukakan di salah satu media teve bahwa sebaiknya Pak Harto meminta maaf kepada Rasulullah saw, karena suatu alasan yang saya tak yakin apakah Anda butuh mengetahuinya, sehingga tidak perlu saya ungkap di sini.
Maka saya kasih waktu. Konteksnya: konsultasi, di mana saya menjelaskan sejumlah hal di sekitar teologi, fiqih maupun tasawuf. Sampai akhirnya saya ungkap buku yang baru saya tulis mengenai “Ikrar Husnul Khatimah Keluarga Besar Bangsa Indonesia”. Tapi karena orang ribut mengubah tema itu menjadi “Pertobatan Soeharto”, maka saya tinggalkan hal-hal yang berkaitan dengan Pak Harto, dan saya teruskan acara Ikrar melawan kerusuhan hati, kerusuhan pikiran, kerusuhan mulut, kerusuhan informasi — ke lapisan bawah masyarakat di berbagai tempat. Karena bagi saya Pak Harto sama sekali bukan fokus, tidak penting dan masalah kecil.
Apakah itu sowan ke Soeharto? Saya tidak mau kaki saya semper atau tersandung-sandung hidup saya gara-gara Ibu saya sakit hati karena saya mengkhianati nilai ajaran Ibu saya tentang izzah, yakni kehormatan sebagai wong cilik, atau apalagi menerima uang haram meskipun sepeser.*****

~ by samsira on 6 May 2009.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: