IBADAH “Khusus UNTUK-KU”

KETIKA Allah memberi pernyataan bahwa ibadah puasa merupakan suatu jenis pengabdian yang khas dan berbeda dari ibadah-ibadah lainnya, karena oleh-Nya ditentukan “khusus untuk-Ku apakah kita menganggap bahwa dengan demikian Allah sangat membutuhkan puasa kita? Sehingga la memonopoli hikmah dan makna puasa kita? Dan karena itu pula kita menyangka bahwa yang memperoleh manfaat dari puasa kita bukanlah kita sendiri, melainkan Allah?
Kemudian, dengan demikian, kita juga beranggapan bahwa dengan ibadah ini kita memang bekerja untuk Allah (yang kita sebut lillahi ta’ala)? Di mana manfaat dan hasil kerja kita itu memang dimiliki oleh Allah?
‘Saya ingin mengatakan kepada Anda sebuah jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu, yakni: tidak. Sungguh-sungguh:tidak.
Allah Maha Agung dan tidak membutuhkan apa-apa dari kekerdilan kita. Allah Maha Besar dan tidak memerlukan manfaat apa pun dari kelemahan kita. Allah Maha Tak Terhingga dan sama sekali tidak memiliki ketergantungan apapun kepada ketololan kita.

Manusia hendaknya tahu diri, belajar bertawadldlu’ dan mencoba mengenali rahasia-rahasia firman-Nya, atau yang kalau memakai bahasa keduniaan manusia: rnengenali retorika dan diplomasi-Nya. Jangan sekali-sekali kita terjebak dalam kedunguan dan membayangkan .Allah merniliki kepentingan atas kehidupan dan segala pekerjaan kita. Allahu Akbar, Allah Maha Besar, dan oleh karena itu walillahil-hamd, hanya bagi-Nya segala puji.
Dengan kata lain, rnanusia jangan “Ge-Er”. jangan pernah berpikir bahwa Allah memiliki kelemahan, kehausan atau kelaparan sehingga meminta manfaat dari hamba-hamba-Nya.
Kalau Allah mengatakan bahwa ibadah puasa itu khusus bagi-Nya, kita bisa membaca maksud di balik “retorika pergaulan”-Nya bahwa betapa ibadah puasa itu sangat penting dan memiliki makna khusus bagi manusia. Betapa Allah sangat mencintai hamba-hamba-Nya yang bersedia, berlatih dan memiliki kesanggupan menahan diri.
Bahwa puasa adalah sebuah rnetoda kedisiplinan yang diperlukan oleh manusia dalam kehidupannya sehari-hari, baik ketika mengurusi masalah-masalah kecil di rumah tangganya maupun masalah-masalah besar dalam masyarakat, negara, dan dunianya.

Bahwa puasa adalah suatu model tarikat (cara hidup) yang sangat menentukan selamat tidaknya manusia di dunia maupun di Akhirat, Pandanglah sekelilingmu, lihatlah orang berduyun-duyun di perkotaan, lihatlah bagaimana kemewahan-kemewahan diproduksi, lihatlah bagaimana orang berkuasa dan dengan segala cara mempertahankan kekuasaannya.
Bacalah koran, tontonlah televisi, saksikanlah peperangan, perebutan, penggusuran, pembongkaran dan penindasan, mengobrollah dengan tetanggamu, dengan sahabat-sahabat dan rekan kerjamu, berbicaralah tentang segala keadaan di muka bumi ini -kemudian tidakkah engkau menemukan pertanyaan yang sama: “Kenapa manusia sangat tidak bisa menahan diri?”
Padahal bukankah Allah selalu sedemikian menahan diri?
Dengan dosa-dosa kita yang sedemikian bertumpuk, baik dosa pribadi maupun dosa kolektif, baik dosa personal maupun dosa struktural -tidak pantaskah kalau sudah sejak dulu-dulu Allah murka dan melindas kita semua?
Tapi bukankah la sangat menahan diri? Tetap memperkenankanmu berbadan sehat, bernapas dan bergerak? Bukankah la sangat menahan diri, dengan tetap menerbitkan matahari, mengalirkan air dan menghembuskan angin -seolah-olah tidak peduli betapa malingnya kita, betapa munafik dan kufurnya kehidupan kita?[]

~ by samsira on 6 May 2009.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: