HIDUP: MEREM ATAU MELEK

Kearifan atau kedalaman penghayatan atas hidup tidak hanya bisa datang dari para filsuf atau perenung yang “sudah terakreditasi” dari Socrates hingga Damardjati Supadjar, tapi bisa juga lahir dari orang-orang “biasa” yang seringkali tak terduga. Alur berpikirnya mungkin tak sesistematis para filsuf kondang, tapi ungkapannya boleh jadi tak kalah berbobot dengan mereka. Kadangkala apa yang dikatakannya tampak begitu sederhana meski bukan berarti bersifat menyederhanakan atau bahkan nggampangke.
Contoh tentang hal itu datang dari seseorang yang pernah saya temui di suatu sore di sebuah kampung di Yogyakarta yang dengan sangat dalam mengatakan pada saya bahwa sebenarnya
hidup itu isinya kan cuma dua hal.

Apa itu? ” Merem atau melek!” , jawabnya. “Ya, kalau pas melek kalau bisa ya berbuat baik!”, tambahnya. Hidup yang begini silang sengkarut, ramai, riuh rendah dan penuh tetek bengek di matanya cukup berintikan dua fenomena saja: merem atau melek.
Dalam merem -tidur- tak banyak hal yang terjadi, paling jauh mimpi (baik basah maupun kering) atau molet alias menggeliat.
Intinya: hilangnya kesadaran dan tidak bekerjanya sebagian besar indra dan organ tubuh kita, sehingga sangat sedikit aktivitas yang bisa kita lakukan. Tapi dalam melek , banyak peristiwa kita saksikan, banyak suara-suara kita dengarkan, banyak makanan minuman kita telan, banyak kegiatan kita kerjakan. Sebab, dalam melek , tidak sebagaimana pada waktu merem , sebagian besar indra kita berada dalam keadaan aktif.
Nah, pencetus “merem atau melek” itu mewanti-wantikan agar dalam situasi melek kalau bisa kita berbuat baik. Dan, di situlah masalahnya: di tengah banyak indra kita yang aktif kita dituntut untuk mempunyai kontrol yang kuat untuk bisa mengendalikan organ dan indra dalam diri kita. Padahal, sadar atau tidak, dalam keadaan melek banyak hal yang bernilai kurang baik, entah haram atau syubhat, yang kita kerjakan.
Mungkin mata kita memandang apa yang seharusnya tidak kita pandang. Mungkin telinga kita mendengarkan apa yang sebaiknya tidak kita dengarkan. Mungkin pikiran ita habis untuk ngrasani
kejelekan orang lain atau merencanakan hal-hal yang makar kepada Allah. Dan seterusnya dan seterusnya.
Dalam konteks merem dan melek itulah, Maiyah -sebagai konsep maupun acara- pada hemat saya bisa kita pandang sebagai sejenis cara yang secara sadar ditujukan agar kita memiliki kemampuan dalam mengendalikan indra-indra kita pada saat melek. Maiyah bisa kita hayati sebagai sebuah pengkondisian yang memungkinkan kita untuk senantiasa terlibat dalam proses kebaikan sehingga melek yang kita alami benar-benar efektif dan tidak mubadzir dengan terserap kepada hal-hal yang
tidak-tidak. Ya, meskipun ketika bunyi-bunyian musik dan shalawat itu mengalun kita mengikutinya dengan merem. Atau, ketika menghadiri acara maiyah, mungkin kita mengikutinya dengan terkantuk-kantuk alias “merem” seraya, meminjam ungkapan Ustadz Wijayanto, memproduksi aqua alias ngeces. Wallahu a’lam.

~ by samsira on 6 May 2009.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: