Distribusi dan Rejeki

Salah satu kalangan yang menjadi sahabat-sahabat hidup saya adalah para sopir taksi. Ada ratusan, atau bahkan mungkin ribuan sopir taksi diberbagai daerah, yang selalu saya sempatkan mengobrol dengan mereka—meskipun otak saya sudah cukup pikun untuk mengingat-ingat siapa saja nama mereka.

Setiap orang akan bahagia kalau kita mengingat dan menyebut namanya. Tapi karena keterbatasan daya ingat saya, maka saya memakai pedoman bahwa yang penting saya menghormati mereka sebagai manusia. Orang-orang itu mengajarkan kepada kita bahwa seseorang tidak menjadi terhormat karena ia seorang direktur atau menteri, serta tidak menjadi rendah karena ia seorang sopir, satpam atau tukang angkut barang. Kehormatan seseorang terletak pada bagaimana ia menyikapi posisinya, bagaimana ia berperilaku pada fungsinya. Di depan pintu sorga tidak ada antrean di mana para kepala negara dan kiai ada di rombongan terdepan sementara tukang cukur dan penjual bakso ada di ekor barisan.

Ukuran kemuliaan dan kehormatan terletak pada “direktur yang bagaimana” dan “satpam atau sopir yang bagaimana”. Sopir yang tertib, disiplin, sopan dan jujur lebih terhormat dibanding juragannya kalau ia merendahkan atau tidak nguwongke sopirnya. Wong cilik di pelosok dusun yang jujur kepada alam dan manusia sesamanya, lebih mulia dibanding Raja di singgasana yang korup dan menindas rakyatnya. Manusia yang paling beruntung adalah kalau ia punya jabatan tinggi sekaligus memiliki kesantunan dan kearifan kepada bawah-bawahannya. Dan manusia yang paling sial adalah kalau sebagai seorang kuli ia suka tidak jujur dalam pekerjaannya.

Jadi, ada ukuran dunia, ada ukuran akhirat. Ada mata pandang manusia, ada mripat Allah. Terserah kepada masing-masing manusia apakah akan lebih mempedomani dunia dan penglihatan manusia ataukah berpihak pada penilaian Tuhan. Lebih baik orang memilih jadi orang kecil tapi jujur dan mulia dibanding jadi orang besar namun culas. Akan tetapi lebih baik lagi kalau kita memilih jadi wong pangkat [orang berkedudukan, priyayi] tapi jujur dan santun kepada siapa saja.

Maka sebagaimana para profesional yang lain, sebagaimana direktur, manager, ulama, dosen atau menteri—sopir taksi juga ada yang baik dan ada yang kurang baik. Ada yang menikmati pekerjaannya dan membanggakan jasa angkutannya karena bermanfaat bagi sesama manusia, ada yang pikirannya selalu ngincim [mengancam] bagaimana dan kapan bisa menjebak penumpangnya.
Ada yang cemas terus menerus sehingga mencari dan menempuh segala macam cara untuk membengkakkan pendapatannya, sementara ada juga yang lugu dan percaya kepada distribusi rejeki yang berada di tangan Tuhan.

Yang pertama mungkin berpikir begini, “Cari uang haram saja susah, apalagi cari uang halal. Rejeki tidak seratus persen ada di tangan Tuhan, melainkan di tangan konglomerat, di tangan para Boss, pemilik modal dan alat produksi. Maka kita harus bersikap konkret dan rasional: segala peluang rejeki harus diambil secepatnya.” Mungkin dengan cara memanipulasi argo, merundingkan dengan penumpang agar tarikan ini borongan saja tanpa menghidupkan argometer, atau dengan cara memutar-mutarkan rute perjalanan, serta cara-cara yang lain.

Adapun yang kedua percaya bahwa disamping mekanisme ekonomi struktural, tetap berlangsung juga pembagian rejeki yang datang langsung dari Tuhan. Asalkan kita jujur, maka nanti ada saja rejeki yang datang. Sebagai sopir taksi, kita tidak bisa memperhitungkan pasar dan lapangan seratus persen. Pagi-pagi buta kita bisa nyegat [mencegat] penumpang di sekitar terminal dan stasiun serta jalan-jalan stretegis lainnya—tapi siapakah yang merancang seseorang keluar dari rumahnya pada jam tertentu dan nanti ketemu dengan taksi tertentu? Sebagai sopir taksi kita berkeliling seharian sambil selalu membayangkan akan ada orang berdiri di tepi jalan melambaikan tangannya: tapi siapakah yang menentukan seseorang ada di tepi jalan itu pada detik ketika kita lewat membawa taksi? Jadi hanya do’a dan kepasrahan kepada Tuhan yang bisa membawa kita ke wilayah distribusi yang bersifat sangat spekulatif seperti itu.
Kedua macam pandangan ini punya kebenarannya masing-masing. Dan setiap sopir taksi berhak memilih yang mana.

Di Jakarta berpuluh-puluh kali saya ditipu sopir taksi dengan berbagai cara. Anehnya meskipun akhirnya saya tahu bahwa saya ditipu, saya membiarkannya. Hanya menjelang turun saya katakan sambil saya kasih sedikit bonus, “Pak, ada baiknya Bapak tidak meneruskan cara-cara seperti itu. Sebab kelihatannya Bapak bisa menguras uang saya, tapi jatah Bapak di hari-hari besok akan langsung masuk dompet saya, padahal saya tidak tahu bagaimana cara mencari Bapak untuk memberikan uang itu kembali….”

Biasanya dia tidak bisa langsung paham apa yang saya maksudkan, karena itu saya berdoa semoga ketidak pahaman itu nanti ia perangi menjelang tidur malam atau waktu bangun pagi.

Di atas semua itu, ada yang sering dilupakan manusia: bahwa rejeki itu tidak sama dan sebangun dengan uang. Mendapatkan uang belumtentu rejeki, mungkin itu awal musibah. Dan tidak mendapatkan uang belum tentu bernama tidak dapat rejeki, sebab kalau jiwa kita siap: itu bisa menjadi awal dari datangnya rejeki di saat berikutnya—meskipun tak harus berupa uang.

~ by samsira on 6 May 2009.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: