ANTARA MASJIDIL HARAM DAN MASJIDIL AQSA

Pangkal Dan Ujung Segala Peradaban

Mengapa Tuhan menurunkan hampir semua agama itu di sekitar jazirah Arab? Mungkin tuhan punya alasan, bahwa budaya Arab itu menakutkan, sehingga disana itu merupakan letak setan yang paling ganas dan juga malaikat yang paling suci. Maka acuan pertama adalah Subhaanalladzii asyroo bi ‘abdihii laillamminal masjidil haraami ilal masjidil aqshalladzii baaraknaa haulahu linuriyahu min aayaatina innahu huwassamii’ul bashiiru, atas dasar ini bisa dikaji secara antropologi kosmologis, bahwa antara Masjidil Haram dan Masjidil Aqsha ada satu lingkaran geografis yang oleh Allah dikhususkan untuk menurunkan segala macam puncak-puncak atau sumber-sumber barokah-Nya. Maka segala macam ilmu, eksak dan macam-macam tingkat yang paling arif dari ilmu sosial berasal dari sekitar lingkaran antara Masjidil Haram dan Masjidil Aqsha. Bahkan kalau kita mencari sumber-sumber dan cakrawala musik, juga akan ditemukan juga.
Budaya Arab kalau dilihat di dalam Al-Qur’an, memperlihatkan adanya dua kutub yang luar biasa, dari api sampai salju, dari yanag paling panas sampai yang paling sejuk, dari yang paling buruk sampai yang paling baik. Bahkan peristiwa Musa AS, dengan Dzun-Nun yang sekarang terjadi di Indonesia yakni majmual bahraini, dimana ketika Nabi Musa lewat di pertemuan antara dua arus laut itu ikan yang mati tiba-tiba melompat menjadi hidup. Maka kalau ini diletakkan dalam konteks ke-Indonesiaan, bahwa peristiwa World Trade Center dan Pentagon di AS itu adalah saat-saat yang paling kreatif bagi bangsa Indonesia, pada saat inilah kalau bangsa Indonesia murni, yakin, dan tawakal, bersungguh-sungguh, akan mendapat hidayah lebih dari sebelum dan sesudahnya.

Sekarang ini tanah genting atau majmual bahraini, “laut sedang bertemu”, di Indonesia dan tidak ada jalan keluar, tapi pada saat itu ikan yang sudah mati akan hidup kembali. Bangsa Indonesia justru mengalami hidupnya sekarang ini, masalahnya banyak orang yang tidak tahu mana yang sebenarnya hidup dan mana yang sebenarnya sudah mati.
Anda menyangka Gus Dur hidup padahal ia sebenarnya sudah mati.
Anda menyangka Amien Rais hidup, padahal ia juga sudah mati, dan orang seluruh dunia menyangka peristiwa di AS itu teroris padahal sesungguhnya itu adalah gerilyawan, bisa jadi sebuah perjuangan untuk melepas dari ketidakberdayaannya menjadi berdaya. Mati yang dimaksud , adalah mati dalam kriteria Allah, bukan mati di dalam kriteria manusia (materialisme), sebab kalau kita orang Islam, tentu tidak akan memakai cara pandang materialisme, sehingga banyaknya korban dalam tragedi di AS, dan pembajaknya itu kita hargai sebagai mujahid, dan setiap mujahid tidak ada yang mati menurut Allah.

Dan majmual bahraini itu juga terjadi, di antara Masjidil Haram dan Masjidil Aqsha, maka titik antara keduanya kita lingkari, karena di situlah letak segala sesuatu dan Allah tidak memberi barokah ke tempat lain. Maka tidak ada nabi lahir di Jombang, Jogja, atau Ngawi, dll.
Tidak ada musik dahsyat yang tingkat kecanggihannya melebihi bainal masjidil haram minal masjidil aqsha. Anda boleh lihat musik Queen, Led zeplin, atau Edy Van de Bergh, bahkan Bethoven, sebenarnya ia tinggal masuk Islam, karena dipuncak eksplorasi musiknya ia harus lari ke Timur Tengah untuk menemukan puncak-puncak estetika, hal ini disebabkan oleh “alladzii baarokna haulahu linuriyahu min aayaatina”, walaupun di antara dua kutub ini ada iblis yang paling ganas dan malaikat yang paling suci.
Sehingga mengapa nabi-nabi diturunkan di tempat itu? Karena kalau nabi diturunkan di tanah Jawa, uji cobanya terus bagaimana? Padahal uji coba sebuah agama itu harus di antara kedua kutub itu, harus dalam budaya Arab, dalam arti Timur Tengah. Maka Rasululullah, Nabi Adam, Musa, dll,lahir di Arab, dan tidak mungkin lahir di Ja-tim, Ja-Teng, sebab orang Jawa itu sesungguhnya kalau mau memakai hatinya, pikirannya sudah sangat Islam, tidak perlu ada firman sudah cukup. Cuma agar lebih sempurna dibutuhkan sholat, puasa, dll.
Tetapi sesungguhnya hatinya sudah cukup ber-sholat, dan berpuasa.

Dan orang Arab, ini bisa dilihat pada zaman Rasulullah : Ada seorang budak yang dibeli, dibebaskan oleh Rasulullah, dan sangking gembiranya ia naik ke atas bukit dan berteriak : “Allahu yarham Muhammad, Allahu yarhaamni, wala yarham ahad”, bayangkan ia sudah dekat sekali dengan Rasulullah dan Allah, masih curang juga sifatnya, sebab ia berkata : ” Ya Allah cintailah aku, cintailah Muhammad dan jangan cintai siapapun yang lain,” inilah type orang Arab, di dalam doanyapun memproduk klaim soal Allah dan Rasulullah.
Produk seperti ini kemudian muncul di dalam kepedihaan-kepedihan sejarah pasca Rasulullah yang luar biasa kepedihannya. Bagaimana mungkin Rasulullah yang agung , yang badannya tidak tinggi, tidak rendah, yang alisnya melipis, yang kulitnya kemerah-merahan putih, yang hidungnya mancung,, yang selalu tersenyum, yang menambal sepatunya sendiri, yang tidur di atas pelepah daun kurma, ketika Aisyah tidak bangun untuk membukakan pintu pada tengah malam, orang yang begitu sederhana, tetapi ditaati oleh seluruh Jazirah Arab dan ditaati oleh begitu banyak manusia di dunia, sampai hari ini, sampai dinyanyi-nyanyikan dengan terbang, dan tidak seorangpun di dunia yang dicintai oleh umat manusia di dunia yang cara mencintai seperti itu, melebihi Muhammad Saw.
Seperti itu saja, ketika Rasulullah meninggal jenazahnya terbengkelai sampai tiga hari, tidak ada yang mengurusi, kecuali Siti Fatimah, Ali bin Abi Thalib, Aisyah, dan Fadhil bin Abas, dan ketika itu Sayidina Abu Bakar ,Umar, dan Utsman, tokoh-tokoh Anshor, tokoh-tokoh Muhajirin semua menyibukkan diri berkumpul di Saqifa, mereka bertarung dan berdebat untuk merundingkan dan menentukan, siapa khalifah sesudah Rasulullah. Orang yang begitu hebat, orang yang begitu membangun demokrasi kemanusiaan yang sangat tinggi nilainya, dan sangat dihormati oleh para sahabatnya, tetapi pada hari meninggalnya para sahabatnya melupakan jenazah beliau. Maka akhirnya hanya dikuburkan oleh lima orang, selesai menguburkan di tengah malam, pasukannya Umar datang ke rumah Ali bin Abi Thalib, agar menanda tangani pengangkatan Abu Bakar as Shidiq sebagai khalifah. Inilah budaya Arab, maka inilah alasan sehingga Islam diturunkan di tanah Arab.
Maka budaya Arab itu harus kita pahami betul, orang yang paling gagah berani dan patriotis adalah orang Arab, tetapi orang yang paling brutal juga orang Arab. Tetapi jangan lupa orang yang paling militan juga orang Arab. Sehingga budaya Arab ini, justru adalah suatu kutub yang ekstrim, supaya Islam muncul keindahannya, kalau Islam diturunkan di antropologi suku yang lain, pasti tidak begitu indah.

~ by samsira on 6 May 2009.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: