Maulid Agung Istana Kadriah Kesultanan Pontianak

Wajah Nusantara Esok Hari

“Ibu Sejarah” Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) rakyat dari ratusan Keraton-Keraton di Kepulauan Nusantara, serta seluruh ummat manusia yang menghuni hamparan Bumi Nusantara – yang kemudian menyebut dirinya Bangsa Indonesia.

“Bapak Sejarah” NKRI adalah mozaik Keraton-Keraton se-Nusantara yang pada momentum surutnya penjajahan Belanda merelakan dirinya untuk melebur menjadi sebuah kesatuan dan “melantik Putra Sejarah” mereka yang bernama NKRI dan Bangsa Indonesia.

Bangsa Indonesia secara resmi harfiah adalah bangsa yang lahir pada 17 Agustus 1945, tetapi secara substansial-historis adalah bangsa yang melahirkan Kutai, Mataram Hindu, Sriwijaya, Medang, Kahuripan, Jenggala, Kediri, Singosari, Majapahit, Padjajaran, Samudra Pasai, Demak, Pajang, Tanjungpura, Mataram Islam, Gowa, Bone, Ternate, Tidore, Bacan, Darmasraya, Pagaruyung, Cirebon, Banten, Martapura, Bendahulu, Klungkung, Bima dll. Itu hanya yang dikenal: bisa jadi bangsa kita ber-induk jauh lebih tua dari yang tercatat oleh sejarah. Bahkan belum bisa dipastikan bahwa Induk Bangsa kita “harus” lebih muda dari Nabi Ibrahim AS (yang anak turun beliau memegang kekuasaan dan keuangan global dunia abad 20-21 sekarang ini). Bahkan belum bisa dibantah bahwa Induk Bangsa kita lebih tua dibanding Nabi Nuh AS.

Kita yang berkumpul dalam Maulid Agung Rasulullah Muhammad SAW di Kesultanan Kadriah Pontianak malam ini adalah sekaligus “Ibu”, “Bapak” dan “Anak”. Salah satu perjuangan kita adalah mengupayakan dan memastikan bahwa kita bukan Bapak-Ibu yang sok berjasa dan ingin mengambil kekuasaan kembali. Sambil mengusahakan sikap bahwa kita bukan Anak durhaka, yang menjalankan kehidupan dengan membuang Ibu-Bapaknya, yang “nikah” dengan “Dewi Demokrasi” untuk menjadi budak danjajahannya secara bodoh.

NKRI dibangun atau disangga bangunannya oleh Lima Pilar:

  • Rakyat
  • Angkatan Bersenjata
  • Kaum Intelektual
  • Kekuatan Adat
  • Kekuatan Agama

Orla dipimpin kekuasaan Pilar-3 berpusat pada Bung Karno.
Orba
dikuasai oleh Pilar-2 dengan mendayagunakan secara aktif Pilar-3, mengekspoitasi secara terbatas Pilar-4 dan memanipulasi Pilar-5.
Era Reformasi
dikuasai oleh Pilar-3 yang berpusat pada Parlemen, menganak-tirikan Pilar-2, dan belum memiliki kecerdasan sejarah untuk mengakomodasikan Pilar-4, serta meneruskan eksploitasi dan manipulasi atas Pilar-5.

Kita sedang berada di depan pintu gerbang sejarah untuk mempersatukan kembali “Ibu Bapak Anak” itu dengan perenungan dan kecerdasan dari tingkat sangkan-paran penciptaan, teologi, filosofi, pelahiran pemahaman sosial, hingga ke konstitusi tentang “Wajah Nusantara” esok hari.

Mulai saat ini hingga 7-8 tahun ke depan merupakan final ujian Tuhan dan sejarah bagi Bangsa Besar Induk sangat banyak bangsa-bangsa di muka bumi, untuk melahirkan kembali “Garuda” yang perkasa, indah dan arif, untuk Bangkit pada 100 tahun kedua, atau hancur total di puncak derita.

~ by samsira on 11 June 2008.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: