The Most Favourable People

Tulisan saya ini hendaklah dibaca tanpa menggunakan naluri SARA yang emosional. Saya sendiri, sebagai orang Jawa, tak ingin diclurit oleh orang Madura, hanya gara-gara tulisan. Sebab, kalau hati saya dibelah, isinya ternyata kekaguman dan pujian kepada watak dan kepribadian tertentu dari pada orang Madura.

Pokoknya, orang Madura itu the most favourable people bagi saya. Coba perhatikan: tak ada kelompok masyarakat di muka bumi ini yang begitu hati-hati menjaga perilaku dan moral hidupnya melebihi orang Madura. Disebuah rumah sakit di Surabaya, seorang pasien menolak di kasih donor oleh pamannya gara-gara si paman itu iblis kelakuannya.

“Kalau darahnya masuk darah saya, laka jadi bandit juga saya takiye! katanya. Sangat hati-hati. Padahal kita-kita ini kalem-kalem saja mereguk dan menghisap darah setan, darah demit, darah petani, darah wong cilik, dan sutradarah.

Bahkan si sakit itu juga punya alasan teologis. Katanya: “Darah paman saya adalah darah paman saya. Kelak dihadapan Tuhan tak mau dan tak bisa saya pertanggung jawabkan darah paman saya, seperti boleh juga dia tak boleh ikut mendapatkan pahala atas darahnya yang saya gunakan untuk beramal!”

Tapi, saya jamin adegan berikutnya yang terjadi pasti perang inter-suku: oreng medunten clurit-cluritan dengan sesama oreng medunten. (Interupsi sebentar: ‘Medunten’ itu bahasa Jawa halus atau kromo-nya kata Madura atau meduro. Contoh lain: ‘sepuro’ kromonya ‘sepunten’, ‘sadar’ kromonya ‘sudrun’, ‘derajat’ kromonya ‘dorojatun’, ‘pangkat’ kromonya ‘mumpung’, dan ‘kemari’ kromonya ‘kamerun’…….)

Kenapa terjadi perang antar suku? sebab mana ada orang mau direndahkan. Saya orang Jawa ejek sesama Jawa saja, jangan Madura atau suku apapun lainnya. Kecuali kalau mau carok.

Dan seandainya perang Jawa-Madura benar-benar terjadi gara-gara sebiji anekdot, jangan cepat salah sangka bahwa orang Jawa pasti halus lembut, mengacungkan keris sambil membungkuk dan berkata “Nyuwun sewu lho, kula badhe nunyuk bathuk panjenengan….” (Permisi lho, saya hendak menohok jidat paduka). Orang Madura bisa tak kalah halus dan dingin.

Memang si Madura penjual telor ayam itu, misalnya suka ketus, ketika si calon pembeli berkomentar “Telor kecil-kecil begini kok mahal amat harganya, Pak!” Ia menjawab, “lho kalau telurnya besar-besar ya dobol, Mas!” (Kalau telurnya besar-besar ya jebol pantat ayam itu, Mas!)

Tapi ketika penjual mangga itu mendapatkan komentar yang sama rewelnya dari calon pembeli, ia hanya berkata dingin: “Soalnya saya baru masuk penjara, Mas・”

Kagetlah si calon pembeli. “Lho apa hubungannya antara mangga dengan bapak masuk penjara?”

“Ya pokoknya saya ini barusan keluar dari penjara・”

“Kenapa kok Bapak dipenjara?” akhirnya si calon pembeli terseret untuk bertanya tentang kenapa dipenjara.

“Ah, ‘ndak enak mau ngomong Mas,”

“Ndak apa-apa! Ndak apa-apa! Saya juga bukan orang alim, kok!”

‘Terus terang begini ya Mas ya,” katanya kemudian, tetapi dengan suara lembut dan nada rendah, “Saya dulu dipenjara soalnya ya nylurit orang rewel seperti sampeyan ini・”

Maka lari tunnggang langganglah calon pembeli itu.

***

Tidak kalah kalem tenang adalah tukang-tukang becak Madura yang selalu legendaris. Lampu merah di perempatan jalan tak dipedulikannya. Ia menerobos saja, sehingga kendaraan-kendaraan dari arah yang bersilangan menjadi panik setengah mati. Sambil menginjak rem kencang-kencang, mereka memaki-maki: “Goblok! Goblok! Dasar tukang becak goblok! Sudah tahu lampu merah masih nyelonong saja! Goblok!”

Tapi tokoh kita tidak terpengaruh sedikitpun. Sambil tetap nggenjot pedal becak pelan-pelan, ia menjawab sambil tersenyum: “Ya kalau ‘dak goblok ‘dak mbecak saya, Pak!”

Jadi tidak benar bahwa orang Madura suka naik pitam. Masih lebih suka marah para aparat keamanan. Para pemimpin moral atau penguasa. Oleh karena itu perang intern suku Madura juga tampaknya pesimistik untuk bisa terjadi. Di samping karena masyarakat Madura memiliki kedewasaan dan kearifannya sendiri, juga karena 75% “Mati Ketawa Cara Madura” yang akan saya kisahkan ini sumbernya tak lain tak bukan dari orang-orang Madura sendiri.

Pasokan anekdot dari lingkungan masyarakat mereka sendiri itu mencerminkan betapa kumpulan manusia-manusia Madura ini seolah-olah mendemonstrasikan kesanggupan mereka dalam bercermin diri. Menunjukkan kematangan mereka untuk bersikap egaliter, terbuka, dan tahan kritik.

***

Secara tradisional (banyak sekali anekdot iseng-iseng tentang ini semua): orang Belanda suka mengejek orang Belgia, orang Batak suka mendagel-dagelkan orang Aceh, dan orang Madura sangat populer jenis-jenis komedialnya di seantero Nusantara. Setiap majalah humor tak ada yang tidak mengeksplor lawakan-lawakan etnik: bagaimana lelaki-perempuan Italia, bagaimana seks Prancis dan Swedia, atau bagaimana pelitnya Yahudi.

Dalam kehidupan sehari-hari kita juga sangat saling menikmati situasi ejek mengejek yang menyegarkan: Setiap bangsa, suku, komunitas, memiliki kebesaran jiwanya masing-masing untuk berintropeksi melalui ejekan-ejekan terhadap dirinya sendiri.

Juga dalam lingkungan-lingkungan yang lebih kecil: keluarga, komunitas selingkuh kerja, lingkaran pergaulan dan persahabatan – selalu terdapat kebiasaan untuk menghidupi humor satu sama lain. Rumusnya jelas: makin tinggi kemampuan sebuah bangsa dalam menertawakan dirinya sendiri, semakin meningkat pula kebesaran jiwa mereka. Semakin luas pengetahuan seseorang atas kedunguan-kedunguannya sendiri, semakin matang dan tegar kepribadiannya.

Dan lagi, selalu betapa serius muatan-muatan kritik dalam humor. Ketika tukang becak Madura itu bilang “Ya kalau ‘dak goblog ‘dak mbecak saya, Pak!” – bagi orang yang punya imajinasi itu merupakan protes telak terhadap logika sistematik antara ketidakmerataan ekonomi, kesempatan berpendidikan, dengan peluang lapangan kerja.

Bahkan pernyataan tukang becak itu juga merupakan semacam analisis terhadap tidak rasionalnya proses kualifikasi kepemimpinan profesionalitas dalam tatanan sistem sosial kita. Orang yang pantasnya jadi korak malah jadi pemimpin, yang cocoknya jadi gubernur malah jadi tukang ojek. Seorang camat tidak dijamin putra terbaik di kecamatan itu. Juga seorang bupati, gubernur, kasubdit, kakanwil, menteri・

Seandainya ada jaminan keadilan sosial dan pemerataan kesempatan eksistensi, tukang becak Madura itu tidak tertutup kemungkinan bisa memenuhi harapan rakyat Indonesia tentang Menteri Anu yang tahu diri atau Menteri Aduhai dan pemimpin orang-orang pinter yang tidak emosional, metoto-metoto dan berderai-derai ambisinya.

~ by samsira on 12 May 2008.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: