AHLI PENDIDIKAN BARANG

Ini lanjutan maiyah yang lalu, yang kalimat terakhirnya — Kata orang “hidup seperti roda, kadang kita di atas kadang di bawah”. Ketahuilah, kuatkan hatimu, tidak pasti demikian di Indonesia. Anda bisa terus menerus di bawah sampai saat sekarat Anda.
Tidak jauh-jauh cari contoh: ya saya sendiri ini. Umpamanya kalau yang disebut bawah misalnya adalah tukang becak atau orang biasa lainnya, dan paling atas adalah presiden – maka dari dulu sampai sekarang saya ini letaknya di bawah terus.

Kalau dari segi pangkat atau jabatan, saya nol besar. Menjadi camat saja tidak cocok, dan kalau ikut pemilihan pasti rakyat bingung dan Bupati tidak punya alasan untuk menyetujui. Jangankan lagi omong jadi gubernur atau menteri. Sekolah saya tidak pernah beres. SD jebol tiga kali. SMP tidak begitu sah kelulusan saya, dan SMA Muhammadiyah I Jogja meluluskan saya karena guru-gurunya kompak tidak mau lagi ada urusan dengan saya, jadi diluluskan saja.
Pengalaman organisasi saya tidak punya sama sekali. Prestasi ilmiah tidak punya. Kalau disuruh mengisi curriculum vitae, yang terisi cuma tanggal dan tempat lahir, lain-lainnya kosong. Pernah saya mau dikirim ke Amerika Serikat tahun 1970, tapi dibatalkan karena ketahuan saya orangnya Suharto.
Dulu saya pernah seolah-olah di atas. Sedikit dikenal orang karena kadang-kadang masuk layar televisi, bahkan nama saya sering nongol di koran-koran atau majalah. Tapi karena kemampuan terbatas, otak tidak lancar kecerdasannya, kreativitas mandeg – akhirnya tidak sanggup lagi berposisi seperti itu. Bahasa jelasnya: sekarang saya tidak laku. Di teve tidak laku, di koran tidak laku. Kalau tulisan ini masih bisa masuk koran, itu karena redakturnya memiliki rasa santun kemanusiaan yang tinggi.
Saya sudah tua dan semakin tidak punya kekuatan untuk bertahan di tengah dunia yang semakin canggih. Setidaknya ada dua syarat bagi siapa saja yang ingin eksis di tengah kehidupan modern yang professional, industrial dan kapitalistik seperti sekarang ini. Pertama, harus pandai berdagang. Kedua, harus berani berkompetisi.
Kedua-duanya itu saya hampir tidak memiliki. Dunia dagang, niaga, bisnis, ekonomi – saya nul puthul. Blass saya ndak bisa dagang. Ada mantan menteri pasang tariff serangkaian ceramah 100 juta, misalnya di Tuban dan Surabaya. Masyarakat bodoh di propinsi dan kabupaten mana yang mau dengan tolol membayar saya 100 juta rupiah untuk ceramah?
Sedangkan ilmu saya tidak jelas. Kategori profesi saya juga tidak jelas. Disebut Kiai, wong tidak menguasai kitab-kitab. Disebut cendekiawan, wong pengetahuan saya serabutan, tidak tertata, tidak akademis dan tidak ilmiah. Disebut sastrawan, wong terbukti tidak bisa bertahan, dan sekarang sudah bukan sastrawan lagi. Disebut penyair, wong ternyata yang saya hasilkan itu tidak memenuhi syarat estetika puisi. Disebut penyanyi, wong suaranya kakehan ngrokok klobot. Disebut dukun, wong kemampuan pengobatannya setengah-setengah.
Hampir tidak punya daya saing. Kalau ada orang bersaing sama saya, pasti saya mundur karena pasti kalah. Jadi saya tidak pernah tertarik pada peribahasa “hidup seperti roda, kadang kita di atas, kadang di bawah”. Apalagi di usia menjelang 60 tahun sekarang ini baru saya sadar apa bakat saya yang sebenarnya. Yakni main sepakbola dan bertinju. Tapi klub RT mana yang mau menerima manula jadi anggota kesebelasannya. Sasana tinju mana yang tidak mentertawakan kalau saya melamar mau main tinju. Satu-satunya kemungkinan saya ikut Ultimate Fight – di sana tidak ada batasan apapun. Biar udzur usia, asal pinter ngempit kan menang…..****

~ by samsira on 18 March 2008.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: