ILMU HIKMAH DAN PASIEN

Maiyah itu mempertemukan orang ke dalam pola pergaulan, hubungan atau kerjasama — di segala bidang — yang bersifat lingkaran. Maiyah itu mempersaudarakan kembali segala kemungkinan hubungan manusia yang masih bisa dipersaudarakan. Jenis A jenis B jenis C dipersaudarakan, diminimalisir persentuhan antara perbedaannya, dimaksimalisir pertemuan antara yang bisa dipersamakan atau dipersatukan di antara mereka.

Golongan D, E, F, G dan seterusnya dipersaudarakan dengan merekonstruksikan kembali prinsip dasar kebersamaan cinta kasihnya, merundingkan aturan main pergaulannya, menyepakati garis batas atau rambu segala sesuatu yang harus dihindarkan bersama. Pendapat H, pendapat I, J, K dan seterusnya dipertemukan dan dicari kemungkinannya untuk menjauhi benturan di antara mereka. Cara L, cara M, N, O dan seterusnya coba dirembug dalam lingkaran yang sejak awal saling menjanjikan kejujuran, kelembutan hati dan keadilan persepsi.
Aransemen P, komposisi Q, R, S dan seterusnya dicoba dipadukan atau kalau tidak bisa ya dipersilahkan eksis sendiri-sendiri dengan catatan berjanji untuk saling mengamankan, menghormati, toleran dan saling menjaga kemashlahatan kolektif. Ideologi T, keyakinan U, kepentingan V, kebutuhan W, keterpaksaan X, dilemma Y, untung rugi Z dan seribu spesies nilai apapun dalam kehidupan manusia yang amat kaya ragam dan fenomena ini dipergaulkan dengan kedalaman Ilmu Hikmah yang universal dan satu-satunya yang sanggup mempengantinkan ummat manusia dalam eskalasi bulan madu sejarah.
Keragaman A-Z dan bahkan lebih dari itu bisa dijumpai dalam segala jenis komunitas. Bisa dalam sebuah ummat yang seiman, bisa dalam struktur kepengurusan organisasi, hubungan kerja dalam perusahaan, kabinet pemerintahan, dalam keluarga, di kelas, di kepengurusan apapun di manusia berkumpul dan bekerjasama.
Sesungguhnya pengetahuan, wacana, ilmu dan metoda-metoda untuk bekerjasama, berdamai dan bergembira bersama – sudah tersedia sangat berlebihan. Bekal ilmu untuk hidup damai dan sejahtera bersama bisa diambil dari Agama dan firman, ilmu sosial, dari kearifan sehari-hari, dari khasanah adat istiadat, dari merenung lima menit, atau cukup memakai naluri polos dan kejujuran kemanusiaan yang awam dan sehari-hari.
Sesungguhnya untuk tidak bertengkar, tidak saling mendengki, memusnahkan, menghancurkan, mengucilkan, menghardik, melecehkan, menghina dan apapun saja kelakuan-kelakuan bodoh manusia semacam itu – tidak perlu begitu repot cari teori-teori, tak usah talkshow, tak usah seminar dan symposium, tak usah pengajian dan mauidhah hasanah, tak usah ada koran dan teve, tak usah ada sekolahan, tak usah ada kumpulan remaja masjid dan remaja gereja, tak usah ada macam-macam yang muluk-muluk.
Cukup satu langkah saja untuk bisa mencapai perdamaian dunia, ialah : mau atau tidak. Gelem ta gak. Purun ta mboten.
Lha kita ini mau damai tapi modalnya egoisme, tapi kalau lantas tidak damai, mengeluh. Mau rukun modalnya dengki, lalu kalau bertengkar dan kalah, menangis. Mau hidup bersama modalnya dendam, kemudian terjadi disintegrasi, meraung-raung. Mau persatuan dan kesatuan modalnya saling mengincar untuk mencuri, kemudian ketika era reformasi melipatgandakan jumlah perampok dan jumlah peristiwa perampokan – lantas demo, dengan tujuan bisa mendapat giliran merampok.
Kita ini pasien yang kalau dikasih tahu apa penyakit kita, marah. Kalau dikasih obat, curiga. Bakat terbesar kita memang kekonyolan dan kehancuran.****

~ by samsira on 12 March 2008.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: