Gula Kok Manis

Di dalam lingkaran Maiyahan, kita mendaftari apa penyakit-penyakit kita sebagai manusia, sebagai warganegara, sebagai individu atau makhluk sosial, sebagai masyarakat, sebagai bangsa dst..
Kita identifikasi bersama, kita rekapitulasi, dipetakan, dihitung, dianalisis, dipelajari itu semua mana yang bisa disembuhkan, mana yang sangat lama baru mungkin bisa sembuh, serta mana yang mustahil sembuh. Misalnya, kita sedang hidup di sebuah kehidupan bernegara dan bermasyarakat yang tidak ada rumusnya. Tidak ada logikanya, tidak ada koneksi nilai antara dua keadaan yang bersamaan atau berurutan. Jangan dipikir gula pasti manis atau garam pasti asin. Gula tidak mesti manis. Intelektual tidak mesti mampu berpikir.

Ulama tidak pasti tidak jahat. Sarjana tidak pasti pinter. Kiai tidak dijamin bukan penipu. Ustadz yang memimpin rombongan haji tidak pasti bukan pemeras. Demokrasi bisa jadi malah lebih otoriter meskipun tetap disebut dan diyakini sebagai demokrasi. Reformasi sangat tidak kalah pembohongnya dibanding orde lama ataupun orde baru.
Otonomi daerah tidak dijamin merupakan wujud distribusi kekuasaan dan perluasan pemerataan otoritas hidup; bisa jadi malah berarti memperbanyak jumlah maling, pencopet dan perampok. Coba sebut satu wakil rakyat saja yang mewakili rakyat. Coba pada bagian sejarah yang mana Indonesia disejahterakan dan ditenteramkan dan didamaikan oleh adanya parpol-parpol.
Coba katakan apakah sesudah naik haji dijamin kelakuan seseorang menjadi bertambah baik. Apakah meningkatnya jumlah orang shalat, puasa dan naik haji berbanding sejajar dengan meningkatkan kebaikan, kebenaran dan kesejahteraan di dalam kehidupan masyarakat.
Maaf maaf mohon maaf seorang presiden dijadikan seorang presiden tidak pasti karena ia yang terbaik atau yang paling dewasa paling punya visi paling arif paling negawaran atau paling-paling lainnya di antara orang-orang yang lain. Demikian juga kalau seseorang menjadi lurah, camat, walikota, bupati, gubernur, menteri, dirjen atau pejabat apapun meskipun kita menyebut mereka gula, tapi jangan mimpi bahwa mereka pasti manis.
Maaf maaf mohon maaf di negara ini Rendra yang besar prestasinya kalah penting dibanding Mandra. Taufiq Ismail kalah penting dibanding Tarzan. Sutardji Calzoum Bachri kalah penting dibanding Tesi. Ini kalau kita omong kebudayaan. Coba cari padanannya di bidang-bidang lain. Masyarakat kita, media massa kita dan perangkat-perangkat sejarah kita lainnya tidak mencari kebenaran, tidak perduli kepada kebaikan, tidak punya kepentingan terhadap mutu kehidupan. Ini kalau saya urai secara detail bisa menjadi satu buku. Tapi sebaiknya para jamaah maiyah segera menyelesaikan hatinya atas itu semua. Orang bilang siapa menanam, ia mengetam.
Ketahuilah tidak pasti demikian di Indonesia. Di sini yang menanam belum tentu mengetam, dan sangat banyak yang tidak ikut menanam malah pesta pora mengetam dan panen. Kata orang hidup seperti roda, kadang kita di atas kadang di bawah. Ketahuilah, kuatkan hatimu, tidak pasti demikian di Indonesia. Anda bisa terus menerus di bawah sampai saat sekarat Anda.

~ by samsira on 29 February 2008.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: