Pencerahan dan Ketercerahan

Kalau Anda orang Islam alangkah indahnya kalau serajin dan
sedalam mungkin Anda menggali nilai-nilai Islam untuk Anda
kontribusikan kepada seluruh bangsa kita, agar proses-proses
demokrasi, keadilan dan penyejahteraan yang kita lakukan
bareng-bareng ini semakin effektif.

Di kulit luar Al-Qur’an bagian belakang, biasanya ditulis
firman Allah La yamassuhu illal muthahharun. Biasanya
ustadz-ustadz kita mengartikan bahwa kalau kita sedang dalam
keadaan batal dan belum berwudlu, maka dilarang menyentuh
Al-Qur’an. La itu tidak atau jangan. Yamassu itu menyentuh. Hu
itu kata ganti untuk Al-Qur’an. Illa itu kecuali. Muthahharun
itu orang-orang yang dalam keadaan suci. Sekali lagi, sebelum
pegang Qur’an, kita berwudlu dulu, supaya muthahhar.
Itu tidak salah, dan bagus untuk pendidikan dasar etika
vertikal keislaman. Tapi sebaiknya tidak tertutup bagi
pengembangan interprestasi. Misalnya, kita ambil dua hal. Yang
pertama, yang disebut Qur’an dalam tafsir dasar di atas
sebenarnya adalah mushaf. Terdiri dari kertas dan goresan
tinta. Itu yang jangan dipegang kalau dalam keadaan batal.
Pastilah Qur’an bukan kertas dan tinta. Qur’an adalah suatu
rumusan dan tuturan firman, yang bersifat rohaniah
(intelektualitas itu rohaniah), yang diantarkan oleh bahasa
atau peralatan budaya manusia melalui kertas dan tinta. Dulu
malaikat Jibril tidak datang dari langit kepada Muhammad SAW.
membawa berkas buku, melainkan membawa titipan ucapan Tuhan.

Ketika dikatakan ‘Bacalah !’, bukan berarti Jibril menyodorkan
kertas yang ada tulisannya dan Muhammad disuruh membaca.
‘Membaca’ di situ memiliki pengertian yang sangat-sangat luas.
Intinya: membaca kehidupan. Utsman ibn Affan yang kemudian
mempelopori pe-mushaf-an rohani Qur’an itu.

Jadi mushaf adalah suatu sarana budaya atau fasilitas
teknologi yang mengantarkan Qur’an kepada manusia. Maka, la
yamassuhu, tidak (bisa, boleh) menyentuh, sasarannya bukan
terutama mushaf, melainkan substansi Qur’an itu sendiri. Oleh
karena itu pengembangan interpretasi atas ayat Allah yang
menghiasi kulit belakang mushaf itu, bisa begini: Kalau jiwamu
tidak berada dalam keadaan muthahhar, enlighted, tersucikan,
maka engkau tidak berada di dalam koridor hidayah dan fungsi
Qur’an bagi kehidupanmu.

Katakanlah ada beberapa fungsi Qur’an, umpamanya: ia bukan
hanya informasi, tapi juga informasi yang pasti benar. Ia
bukan sekedar pemberitahuan, tetapi petunjuk. Ia bukan sekedar
berita, tapi kabar gembira. Ia bukan hanya penuturan ilmu,
tapi juga rahmat. Ia bukan hanya perintah, tapi rahasia ilmu.
Ia bukan hanya ketegasan kebenaran, tapi juga cinta dan
kedamaian yang matang. Ia bukan hanya selebaran tentang iblis
dan setan, tapi juga rangsangan eksplorasi fisika, biologi,
astronomi. Serta banyak lagi.

Manusia yang pikirannya skeptis terhadap Qur’an, yang hatinya
blocked-out dari firman pamungkas Allah itu, yang sikap
hidupnya mempergelap dirinya sendiri, logis kalau tidak
memperoleh sentuhan apapun dari multi-probabilitas rahmat
Allah melalui Qur’an. La yamassuhu illal muthahharun. Tidak
memperoleh apa-apa darinya kalau menolak enlightment.

Dan kalau memang kita memilih yang ini, tak ada masalah bagi
Tuhan, Muhammad atau siapa pun saja. Allah tidak menangis,
Muhammad tidak merugi, Islam tidak merasa kurang suatu apa.
Sebab Islam tidak akan mendapatkan risiko apa-apa, ia bukan
manusia yang harus bertanggung jawab kepada sumbernya.

~ by samsira on 21 February 2008.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: