Tutut: Maafkan Ayah Saya

“Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun, Bapak H M. Soeharto telah meninggal dunia dengan tenang pukul 13.10 tadi,” ujar Ketua Tim Dokter Kepresidenan Mardjo Soebiandono yang merawat mantan presiden itu selama 24 hari di RS Pusat Pertamina (RSPP) kemarin (27/1) siang.

Hanya sebaris kalimat yang diucapkan dengan mimik tegang. Tak satu pun pertanyaan wartawan tentang detik-detik terakhir meninggalnya Soeharto dijawab. Dia pun lantas memberikan kesempatan kepada Siti Hardiyanti Rukmana, putri sulung Pak Harto, untuk berbicara.

Dengan mengucapkan kalimat istighfar dan sambil menangis, putri sulung Pak Harto itu meminta maaf atas semua kesalahan ayahnya. “Kami mohon, apabila ada kesalahan, Bapak dimaafkan. Kami juga mohon doa restunya agar perjalanan Bapak lancar, dilindungi oleh Allah, diterima segala amal perbuatannya,” ungkapnya lalu terisak. Sebuah tisu di tangannya mengusap air mata.
Tutut yang selama ini menjadi juru bicara keluarga juga berterima kasih kepada semua orang yang telah mendoakan maupun menjenguk ayahnya. “Terima kasih kepada semua pihak yang telah mendoakan Bapak kami. Siapa saja yang datang maupun menjenguk ke rumah sakit,” katanya lantas terdiam sejenak dan kembali mengusap air mata.

Dia tak bisa menjawab sepatah kata pun ketika ditanya seputar kondisi kesehatan menjelang embusan napas terakhir ayahnya yang meninggal pada usia 87 tahun itu. “Maaf, saya tidak bisa menjawab pertanyaan itu. Bukan saya tidak mau. Tapi, ini terlalu berat bagi kami,” ujarnya yang lantas tak mampu berbicara apa pun.

Diringi ribuan warga, jenazah dibawa ke Cendana pukul 14.30. Ribuan pelayat datang ke Cendana. Warga dari berbagai penjuru Jabotabek itu memberikan penghormatan terakhir dan berusaha mendekat ke Cendana. Ketatnya pengamanan oleh Kopassus, Kostrad, dan polisi menyulitkan mereka untuk melihat langsung jenazah mantan presiden tersebut.

Sejumlah mantan menteri Orba seperti Ali Alatas, Moerdiono, Ginandjar Kartasasmita, dan Azwar Anas tampak menjenguk mantan atasannya itu. Mereka berusaha membesarkan hati putra-putri Pak Harto.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono bersama Wakil Presiden Jusuf Kalla melayat pukul 16.15. Kedua pemimpin nasional itu membaca surat Al Fatihah di sisi jasad pendahulunya. SBY yang didampingi istri meminta agar Mbak Tutut dan adik-adiknya bersabar. Dia juga sempat membisikkan sesuatu kepada Tutut. “Saya duduk di belakang presiden. Saya lihat Pak SBY berbisik dengan Mbak Tutut. Mungkin untuk persiapan besok (pemakaman hari ini, Red),” ungkap Ketua DPD Ginandjar Kartasasmita.

Berkabung 7 Hari

Saat Pak Harto mengembuskan napas terakhir, SBY dan Kalla sedang melakukan konferensi pers terkait dengan gejolak kenaikan harga pangan. Begitu menutup konferensi pers, ajudan SBY langsung mengabarkan bahwa Pak Harto meninggal. SBY pun langsung meminta agar wartawan tidak pulang dulu.

SBY dan Kalla berbincang sebentar sekitar lima menit di ruang tamu kantor presiden, kemudian kembali ke ruang konferensi pers. SBY lantas menyampaikan kabar meninggalnya Pak Harto.

“Atas nama presiden, negara, dan pribadi, saya mengucapkan belasungkawa sedalam-dalamnya atas meninggalnya presiden kedua Republik Indonesia. Saya mengajak seluruh rakyat Indonesia untuk mendoakan almarhum agar diterima di sisi Allah SWT,” kata SBY yang didampingi Kalla.

Menurut dia, Soeharto harus dihargai sesuai pengabdian, jasa, dan amal baktinya, baik kepada masyarakat, bangsa, dan negara dalam kehidupan umat manusia. “Kita juga medoakan agar keluarga yang ditinggalkan tetap tabah serta tawakal menghadapi cobaan dan melihat hari esok yang baik. Kita berikan penghormatan yang tinggi kepada salah satu putra terbaik bangsa yang amat besar pengabdiannya kepada bangsa dan negara tercinta,” ujar SBY.

Dia bersama Kalla dan sejumlah menteri yang hadir bersama-sama membacakan surat Al Fatihah. Para menteri yang hadir, antara lain, Menko Kesra Aburizal Bakrie, Menko Perekonomian Boediono, Menko Polhukam Widodo A.S., Menteri Keuangan Sri Mulyani, Menteri Pertanian Anton Apriantono, Menteri Sekretaris Negara Hatta Radjasa, dan Menteri Dalam Negeri Mardiyanto. Sejak pukul 14.00, bendera istana negara pun diturunkan setengah tiang.

Seharusnya, kemarin pukul 14.00, SBY terbang ke Bali untuk membuka konferensi internasional antikorupsi. Karena Soeharto meninggal, rencana tersebut dibatalkan. SBY pun menugaskan Menko Polhukam Widodo A.S. untuk mewakili dirinya ke Bali.

Pengumuman resmi tentang meninggalnya Pak Harto disampaikan Mensesneg Hatta Radjasa pukul 15.30 di kantor Sekretariat Negara. Dalam keterangannya, Hatta mengungkapkan, selama tujuh hari, terhitung mulai 27 Januari hingga 2 Februari, dinyatakan sebagai hari berkabung nasional. “Semua kantor instansi pemerintah di dalam dan luar negeri wajib mengibarkan bendera setengah tiang,” tegasnya.

Berdasar UU No 7/1978, upacara pemakaman diselenggarakan negara. Menurut Hatta, almarhum akan dimakamkan di Astana Giribangun, Karanganyar, Jawa Tengah, 28 Januari 2008, dengan inspektur upacara Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Untuk pemberangkatan dari rumah duka, Jalan Cendana, inspektur upacaranya adalah Ketua DPR Agung Laksono. (nue/tom/bay/tof)

sumber : http://www.jawapos.com/index.php?act=detail_c&id=323598

~ by samsira on 28 January 2008.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: