Tim Dokter Sempat Percaya Diri

Pak Harto Kian Memburuk setelah Alami Asidosis Metabolik
Mantan Presiden Soeharto akhirnya mengembuskan napas yang terakhir kemarin (27/1) pukul 13.10 di Rumah Sakit Pusat Pertamina Jakarta. Kabar tersebut agak mengejutkan karena sehari sebelumnya (26/1), tim dokter kepresidenan yang diketuai dr Mardjo Soebiandono merilis data kepada wartawan bahwa kondisi Pak Harto membaik.

Saat itu Mardjo mengatakan, penggunaan alat-alat bantu yang terpasang di tubuh Pak Harto mulai dikurangi. “Masih status quo, tapi cukup bagus. Tidak ada lagi fluktuasi keadaan seperti sebelumnya,” kata Mardjo Sabtu lalu (26/1).
Menurut dr Munawar SpJP, spesialis penyakit jantung yang juga anggota tim dokter kepresidenan, kondisi Pak Harto memang berubah drastis mulai pukul 01.00 dini hari kemarin (27/1). “Sebelumnya kita sempat percaya diri dengan kondisi Pak Harto yang menunjukkan tanda-tanda membaik. Infeksinya mulai teratasi dan problem di jantung juga mulai bisa diatasi,” cerita Munawar, ketika menjelaskan kondisi Pak Harto di acara dialog yang disiarkan secara live di sebuah stasiun televisi swasta, kemarin sore.

“Karena indikasinya membaik, saya malam itu (26/1) absen tidak ke rumah sakit. Saya kebetulan ke Bandung,” ceritanya.

Namun, keadaan seperti berbalik 180 derajat ketika memasuki Minggu (27/1). Pukul 01.00, kondisi Pak Harto kembali memburuk. “Tekanan darah drop, dan cardiac indeksnya terus menurun,” kata Munawar. Tekanan darah turun terus, lanjut dia, karena pemompaan jantung mengalami kelainan.

Munawar sempat menyebut, sebelum meninggal, Pak Harto mengalami asidosis metabolik. Yakni, penumpukan asam organik yang diakibatkan oleh kemacetan metabolisme tubuh.

Bagaimana penjelasannya? “Kalau dirunut, awalnya dari kuman yang masuk dalam darah,” kata dr Djoko Santoso SpPD K-GH PhD, spesialis penyakit dalam di Surabaya. Ketika masuk dalam darah, lanjutnya, kuman mengeluarkan racun. Kemudian, racun itu merusak dinding pembuluh darah. “Akibatnya, banyak jaringan yang rusak,” katanya.

Hal itu diperparah dengan kematian kuman dan sel pertahanan tubuh (setelah keduanya sempat berperang di dalam tubuh). Dalam kondisi seperti itu, komponen asam di dalam tubuh meningkat.

“Dalam kondisi normal, asam yang berlebihan, dikeluarkan melalui ginjal. Tapi, jika ginjal terganggu, seperti yang dialami Pak Harto, akan terjadi penumpukan asam terus-menerus,” katanya. “Inilah yang juga memberikan kontribusi terjadinya sesak napas, seperti yang disampaikan anggota tim dokter kepresidenan,” katanya.

Sebenarnya kondisi Soeharto yang kritis dan sulit diselamatkan bisa dilihat sejak dia dinyatakan tim dokter kepresidenan mengalami infeksi sistemik (menjalar di seluruh tubuh) pada 15 Januari lalu.

Dalam diskusi terbatas yang diadakan Jawa Pos 16 Januari lalu dengan mengundang empat dokter spesialis (Prof Dr dr Rochmad Romdoni SpPD SpJP, ahli jantung; dr Tommy Sunartomo SpAnKIC, ahli anestesi; dr Djoko Santoso SpPD,K-GH PhD, ahli penyakit dalam dan ginjal, dan dr Soedarsono SpP(K), ahli paru) diduga, infeksi sistemik yang terjadi pada Pak Harto sudah mengarah ke sepsis. Yakni, adanya kuman di dalam darah yang menyebar ke seluruh tubuh.

Apa yang menyebabkan sepsis? Bila merujuk pada riwayat kesehatan sebelumnya, Soeharto mudah sekali mengalami gangguan pencernaan. Bahkan, dia beberapa kali masuk rumah sakit karena mengalami perdarahan di usus. Itu menunjukkan sistem imunitas tubuhnya memang lemah.

“Ada kemungkinan, dalam kasus Pak Harto terjadi translokasi kuman. Artinya, kuman menembus lapisan dinding usus dan menyebar ke seluruh tubuh,” ujar Tommy saat diskusi itu. Hal itu yang membuat pasien mengalami sepsis yang bisa saja kian parah.

Lantas, apa yang membahayakan dari kondisi sepsis? Menurut Djoko, salah satu bahaya yang mungkin terjadi adalah disseminated intravascular coagulation (DIC). Yakni, terjadinya pembekuan darah sistemik yang disusul menurunnya faktor pembekuan darah. Ini berakibat perdarahan di mana-mana.

Salah seorang anggota tim dokter kepresidenan kepada Jawa Pos kemarin siang mengatakan, sebelum meninggal, Pak Harto memang sempat mengalami kegagalan sistem pembekuan darah. “Terjadi bleeding (perdarahan) di mana-mana,” katanya. Kondisi inilah yang diduga memperburuk kondisi Pak Harto. (kum)

sumber : http://www.jawapos.com/index.php?act=detail_c&id=323591

~ by samsira on 28 January 2008.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: