Kata Pak Harto ketika Bung Karno Wafat

Pak Harto berkomentar khusus ketika Bung Karno wafat. Komentar ini disampaikan dalam buku Soeharto: Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya (1989) di halaman 244-249. Berikut petikannya: SEJAK Oktober 1965 sampai 11 maret 1966, lebih dari sepuluh kali saya bertemu dengan Presiden Soekarno. Di antaranya ada yang disaksikan oleh yang lain, tetapi selebihnya terjadi pertemuan empat mata. Saya sempat menganjurkan, agar Bung Karno membubarkan PKI. Tetapi waktu itu Bung Karno menjawab, “Kalau PKI dibubarkan akan hilang muka saya sebagai pemimpin dunia. “Dalam pada itu saya memandang lebih penting keutuhan nasional ketimbang kepentingan internasional.

Sejak awal 1968 Bung Karno berada dalam “karantina politik” dan tinggal di pavilyun Istana Bogor. Kemudian beliau minta pindah, dan kami setujui, ke peristirahatan “Hing Puri Bima Sakti” yang terletak di Batutulis, Bogor. Kepindahan itu rupanya didorong oleh keinginan untuk memperoleh lingkungan hidup yang lebih segar. Tetapi lalu beliau menulis surat kepada saya yang dibawa oleh Rachmawati (Soekarno), agar diizinkan pindah ke Jakarta.
Rachmawati datang di rumah kami di Jalan Cendana. Istri saya yang mula-mula menyampaikan surat dari Bung Karno itu, Rachmawati menceritakan keadaan kesehatan ayahnya. Saya dengarkan kabar itu dengan penuh perhatian.

Rupanya keadaan kesehatannya yang menyebabkan beliau ingin pindah ke Jakarta. Udara di Bogor mungkin tidak baik baginya. Maka saya janjikan kepada Rachmawati untuk berusaha mengatur kepindahan Bung Karno. Mendengar ucapan saya begitu Rachma menunujukkan keterharuannya, matanya kelihatan berlinang. Memang saya menaruh simpati dan kepada proklamator kita itu. Tapi suasana politik memagarinya. Dan terutama kekerasan hatinya saja yang menyebabkan segala ini.

Maka, pindahlah Bung Karno pada permulaan 1969 ke Wisma Yaso di Jalan Gatot Subroto, yang sekarang jadi Museum Satria Mandala. Saya perintahkan tim dokter di bawah ketuanya, Prof. Dr. Mahar Mardjono, menjaganya.

Benar, semasa itu Bung Karno diminta keterangan untuk keperluan Kopkamtib. Tetapi setelah saya ketahui, bahwa sakitnya cukup serius, saya perintahkan untuk berhenti dengan pemeriksaan itu.

Waktu putrinya, Sukmawati, melangsungkan pernikahannya di rumah Ibu Fatmawati di Kebayoran Baru, beliau diperkenankan untuk pergi ke sana. Kesehatan beliau di bulan Februari 1970 itu kelihatan sekali menurun.

Tanggal 16 Juni 1970 saya terima kabar bahwa penyakit beliau tambah parah saja. Saya perintahkan kepada dokter-dokter untuk menjaganya baik-baik dan jika perlu membawanya ke Rumah Sakit Gatot Subroto.

Hari itu juga Bung Karno diangkut ke RSPAD Gatot Subroto dan mendapat perawatan intensif.

*

Waktu saya mendengar beliau meninggal pada tanggal 21 Juli 1970, cepat saya menjenguknya ke rumah sakit. Setelah itu barulah saya berpikir mengenai pemakamannya.

Tetapi semua itu tidak mengejutkan dan tidak membingungkan saya, karena memang sudah ada rencana untuk menghormati Bung Karno sebagai Proklamator. Hanya waktu itu saya masih merasa perlu mendengar pendapat orang-orang lain dalam rangka mempraktikkan “mikul dhuwur mendhem jero”, pegangan hidup saya.

Saya perintahkan untuk mengangkut jenazahnya ke Wisma Yaso. Lalu saya kumpulkan para pemimpin partai-partai. Saya sudah punya pikiran bahwa beliau harus kita hormati. Artinya, bangsa Indonesia harus memberikan penghormatan terakhir kepada beliau dengan melaksanakan upacara pemakaman kenegaraan. Kecurigaan bahwa beliau terlibat dalam G 30 S/PKI sudah bisa dikesampingkan, karena hal itu belum bisa dibuktikan.

Yang jelas, kita harus memberikan penghargaan atas jasa-jasa beliau sebagai pejuang yang luar biasa. Sejak dulu beliau adalah pejuang, perintis kemerdekaan. Dan sebagai proklamator beliau tidak ada bandingannya.

Ternyata para pemimpin partai politik menyetujui pikiran saya, termasuk Bung Hatta yang juga saya minta pertimbangkannya. Dengan spontan mereka menyatakan sangat menghargai sikap penghargaan saya kepadanya.

Maka kepustusan pun saya ambil: pemakaman dilaksanakan dengan upacara kenegaraan. Kemudian timbul masalah di mana pemakaman itu harus kita lakukan? Kami ingat akan wasiatnya. Kami ingat bahwa permintaan almarhum semasa hidupnya, jenazahnya hendaknya dimakamkan di suatu tempat di mana rakyat dapat datang seperti dipesankan kepada Dewi (salah satu istri BK, Red). Pesannya kepada Hartini (istri lain, Red) pun begitu. Tetapi, keluarga yang lain mempunyau pandangan yang lain lagi. Ternyata keinginan keluarga Bung Karno yang banyak itu berbeda-beda.

Andaikata kita serahkan kepada keluarga besar yang ditinggalkannya, maka saya melihatnya bakal repot.

Maka kemudian saya memutuskan dengan satu pegangan yang saya jadikan titik tolak, yakni bahwa Bung Karno sewaktu hidupnya sangat mencintai ibunya. Beliau sangat menghormatinya. Kalau beliau akan berpergian ke tempat jauh, ke mana pun, beliau sungkem dahulu, meminta doa restu kepada ibunya. Setelah itu barulah beliau berangkat. Sekalipun beliau adalah seorang yang mempunyai kedudukan tinggi, terpelajar, beliau toh tetap hormat kepada ibunya. Ini merupakan teladan bagi generasi yang akan datang,

Melihat kebiasaan Bung Karno begitu, maka saya tetapkan bahwa alangkah baiknya kalau Bung Karno dimakamkan di dekat makam ibunya, di Blitar. Inilah alasan saya dan keputusan saya berkenaan dengan pemakaman Proklamator kita itu.

Ada terdengar familinya yang protes. Demikian juga di antara istri-istrinya dan di antara putra-putrinya. Tetapi kalau saya turuti keinginan mereka, saya pikir, takkan ada penyelesaian.

Maka saya ambil oper seperti demikian. Soal nanti, terserah. Yang jelas kemudian segalanya berjalan dengan baik. Dalam rangka “mikul dhuwur mendhem jero”, kita buktikan lagi dengan keputusan saya berikutnya.

Kita pugar makam Bung Karno itu sehingga merupakan makam yang representatif, yang pantas sebagai makam pahlawan yang dihormati oleh bangsanya. Berpikir mengenai Bung Karno, selalu saya bertolak dari ingatan bahwa manusia memang tidak ada yang sempurna. Janganlah manusia biasa, nabi pun bisa khilaf.

Sehubungan dengan ini saya melihat Bung Karno, sampai di mana pengorbanannya untuk negara dan bangsa. Jelas, pengorbanannya amat besar, sampai kita, sebagai bangsa, bisa merdeka. Bung Karno memperjuangkan kemerdekaan Indonesia sampai menjadi proklamator bersama-sama dengan Bung Hatta. Ini merupakan suatu jasa seorang pejuang yang harus kita hargai.

Dalam perjalanan sejarah Indonesia merdeka, kita pun membuat kesalahan. Bukan Bung Karno saja. Tetapi kesalahan Bung Karno, jelas tidak sampai menjerumuskan banga maupun rakyatnya. Mungkin semata karena terdorong oleh suatu ambisi besar, maka kesalahan itu dibuatnya. Ambisi besarnya itu adalah ambisi untuk menjadi pemimpin dunia. Untuk itu tentunya Bung Karno harus bermodal dan modalnya adalah yang ada pada bangsanya. Jadi, modalnya itu adalah kekuatan nasional.

Dalam menuju cita-cita Bung Karno, ada kekuatan yang mengetahuinya dan lalu membonceng, yaitu PKI. Ancaman pihak yang membonceng terlupakan olah Bung Karno. Yang salah adalah orang-orang sekitarnya. Mereka kurang waspada di dalam memberikan peringatan bahwa PKI membonceng, menunggangi Bung Karno sewaktu Bung Karno hendak mencapai tujuannya. (*)

sumber : http://www.jawapos.com/index.php?act=detail_c&id=323575

~ by samsira on 28 January 2008.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: