BEDA PEMAKAMAN BUNG KARNO & PAK HARTO

Pada 27 Januari 2008 pukul 13.10, mantan Presiden Soeharto wafat.
Jenazahnya disemayamkan di kediamannya, Jalan Cendana, dan dilayat
pejabat tinggi negara, mulai presiden, wakil presiden, sampai para
menteri. Masyarakat umum berjubel di sepanjang Jalan Cendana menonton
para tetamu.

Senin pagi, 28 Januari 2008, ini jenazah mantan orang nomor satu RI
itu diterbangkan ke pemakaman keluarga di Astana Giribangun. Ketua
DPR Agung Laksono akan bertindak secara resmi dalam pelepasan jenazah
di Jalan Cendana, Wakil Presiden Jusuf Kalla memimpin pelepasan di
Halim Perdanakusumah. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menjadi
inspektur upacara di Astana Giribangun.
Astana Giribangun yang diperuntukkan keluarga Nyonya Suhartinah
Soeharto didirikan di Gunung Bangun yang tingginya 666 meter di atas
permukaan laut. Cangkulan pertama dilakukan Tien Soeharto Rabu
Kliwon, 13 Dulkangidah Jemakir 1905, bertepatan dengan 27 November
1974.

Dengan menggunakan 700 pekerja, bangunan yang merupakan gunung yang
dipangkas tersebut diselesaikan dan diresmikan pada Jumat Wage, 23
Juli 1976. Jadi 30 tahun sebelum meninggal, Soeharto telah
mempersiapkan tempat peristirahatan yang terakhir. Hal itu dilakukan
Soeharto agar “tidak menyusahkan orang lain”.

Soeharto memperoleh hak dan fasilitas sebagai seorang mantan kepala
negara. Namun, hal yang berbeda dialami mantan Presiden Soekarno.
Sewaktu mengalami semacam tahanan rumah di Wisma Yaso (sekarang
Gedung Museum Satria Mandala Pusat Sejarah TNI) di Jalan Gatot
Subroto, Jakarta, Soekarno tidak boleh dikunjungi masyarakat umum.

Pangdam Siliwangi H.R. Dharsono mengeluarkan perintah melarang rakyat
Jawa Barat untuk mengunjungi dan dikunjungi mantan Presiden Soekarno.
Kita ketahui, H.R. Dharsono kemudian juga menjadi kelompok Petisi 50
dan meminta maaf kepada keluarga Bung Karno atas perlakuannya pada
masa lalu itu.

Putrinya sendiri, Rachmawati, hanya boleh besuk pada jam tertentu.
Pada 21 Juni 1970, Bung Karno wafat setelah beberapa hari dirawat di
RSPAD Gatot Subroto, Jakarta. Beberapa waktu sebelumnya, Rachmawati
menanyakan kepada Brigjen Rubiono Kertapati, dokter kepresidenan,
kalau Soekarno menderita gagal ginjal, kenapa tidak dilakukan cuci
darah? Jawabannya, alat itu sedang diupayakan untuk dipesan ke
Inggris.

Itu jelas sangat ironis. Pada masa revolusi pasca kemerdekaan,
Jenderal Sudirman menderita penyakit TBC. Ketika itu, obatnya baru
ditemukan di luar negeri, yakni streptomycin. Pemerintah Indonesia
dalam keadaan yang sangat terbatas dan berperang menghadapi Belanda
berusaha mendapatkan obat tersebut ke mancanegara, tetapi nyawa
Panglima Sudirman tidak tertolong lagi. Hal itu tidak dilakukan
terhadap Ir Soekarno.

Bung Karno dibaringkan di Wisma Yaso setelah wafat di RSPAD Gatot
Subroto dan di situ pula dia dilepas Presiden Soeharto dan Nyonya
Tien Soeharto. Situasi saat itu memang sangat tidak kondusif bagi
Soekarno dan keluarganya. Beberapa hari sebelumnya, yakni 1 Juni
1970, Pangkopkamtib mengeluarkan larangan peringatan hari lahirnya
Pancasila setiap 1 Juni. Soekarno sedang diperiksa atas tuduhan
terlibat dalam percobaan kudeta untuk menggulingkan dirinya sendiri.
Pemeriksaan tersebut dihentikan setelah sakit Bung Karno semakin
parah.

Pada 22 Juni 1970, jenazah sang proklamator dibawa ke Halim
Perdanakusumah menuju Malang. Di Malang disediakan mobil jenazah yang
sudah tua milik Angkatan Darat, demikian pengamatan Rachmawati
Soekarnoputri (di dalam buku Bapakku Ibuku, 1984) yang membawanya ke
Blitar.

Sepanjang jalan Malang-Blitar, rakyat melepas kepergian sang
proklamator di pinggir jalan. Di sini Soekarno dimakamkan dengan
Inspektur Upacara Panglima ABRI Jenderal Panggabean pada sore hari.
Sambutan dibacakan sangat singkat.

Soekarno hanya dimakamkan di pemakaman umum di samping ibunya. Seusai
acara resmi, rakyat ikut menabur bunga. Karena banyaknya tanaman itu,
sampai terbentuk gunung kecil di atas pusara Sang Putra Fajar
tersebut. Namun tak lama kemudian, rakyat yang tidak kunjung beranjak
dari makam kemudian mengambil bunga-bunga itu sebagai kenangan-
kenangan. Dalam tempo singkat, makam Bung Karno kembali rata sama
dengan tanah.

Pemakaman di Blitar itu berdasar Keputusan Presiden RI No 44/1970
tertanggal 21 Juni 1970. Keputusan tersebut diambil dengan
berkonsultasi bersama pelbagai tokoh masyarakat. Padahal, Masagung
dalam buku Wasiat Bung Karno (yang baru terbit pada 1998)
mengungkapkan bahwa sebetulnya Soekarno telah menulis semacam wasiat
masing-masing dua kali kepada Hartini (16 September 1964 dan 24 Mei
1965) dan Ratna Sari Dewi (20 Maret 1961 dan 6 Juni 1962). Di dalam
salah satu wasiat itu dicantumkan tempat makam Bung Karno, yakni di
bawah kebun nan rindang di Kebun Raya Bogor.

Di dalam otobiografinya, Soeharto mengatakan bahwa sebelum memutuskan
tempat pemakaman Soekarno, dirinya mengundang pemimpin partai. Jelas
Soeharto menganggap itu masalah politik yang cukup pelik. Jadi,
pemakaman tidak ditentukan keluarga, tetapi melalui pertimbangan
elite politik.

Kemudian, Soeharto melalui keputusan presiden menetapkan pemakaman di
Blitar konon dengan alasan tidak ada kesepakatan di antara keluarga.
Apakah betul demikian? Sebab, pendapat lain mengatakan bahwa hal itu
dilakukan Soeharto demi pertimbangan keamanan. Jika dikuburkan di
Kebun Raya, pendukung Bung Karno akan berdatangan ke sana dalam
rombongan yang sangat banyak, sedangkan jarak Bogor dengan ibu kota
Jakarta tidak begitu jauh. Hal tersebut dianggap berbahaya, apalagi
saat itu menjelang Pemilu 1971.

Pemugaran makam Bung Karno juga penuh kontroversi. Pemugaran
dilakukan pada 1978 dengan memindahkan makam-makam orang lain itu.
Menurut Ali Murtopo di depan kader PDI se-Jawa Timur, ide tersebut
berasal dari Presiden Soeharto. Masyarakat tentu bisa menduga bahwa
itu dilakukan dalam rangka mengambil hati para pendukung Bung Karno
menjelang pemilu. Dalam pemugaran tersebut, keluarga tidak diajak
ikut serta. Bahkan, dalam peresmian pemugaran itu, putra-putri
Soekarno tidak hadir.

Dalam prosesi pemakaman di Kalitan-Solo, Megawati tidak hadir karena
sedang berada di luar negeri. Namun, kabarnya putra tertua Bung
Karno, Guntur Sukarno Putra, mewakili keluarga mantan Presiden
Soekarno akan datang ke Astana Giribangun. Ketika Soeharto di Rumah
Sakit Pertamina, Guruh juga berkunjung. Ini suatu pelajaran sejarah
berharga bagi bangsa kita. Jangan lagi kesalahan masa lalu diulang
dan marilah kita berjiwa besar.

* Dr Asvi Warman Adam, sejarawan, ahli peneliti utama LIPI

~ by samsira on 28 January 2008.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: