SELAPANAN, UNGKAPAN RASA SYUKUR DAN MENGAJAR ANAK BERBAGI

Seperti halnya ulang tahun, kembalinya hari lahir menurut perhitungan kalender Jawa ini diyakini perlu diperingati.

Dalam tradisi masyarakat Jawa, terang Ny. Sutamtitah S. Hoemardani, setiap
kelahiran selalu terkait dengan salah satu dari 5 hari pasaran dalam kalender Jawa, yakni Pon, Wage, Kliwon, Legi dan Pahing. Sementara gabungan antara hari menurut kalender internasional dan kalender Jawa inilah yang disebut weton. Seseorang yang dilahirkan tanggal 1 April 2002, contohnya, berarti wetonnya adalah Senin Pahing.

Sedangkan yang disebut dengan acara selapanan, ujar salah seorang cucu Paku Buwono X dari Kasunanan Surakarta ini, adalah memperingati hari kelahiran berdasarkan perhitungan kalender Jawa tadi, yakni 35 hari kemudian. Karena selang 35 hari itulah hari lahir seseorang akan “muncul” kembali. Dengan begitu, mereka yang dilahirkan pada Senin Pahing tanggal 1 April 2002, selapanannya akan jatuh pada Senin Pahing kembali tanggal 6 Mei 2002. Begitu seterusnya berulang setiap 35 hari sekali.

 SARAT MAKNA

Menurut ibu 12 anak dan nenek 40 cucu ini, selapanan perlu diperingati sebagai rasa syukur bahwa si jabang bayi sehat walafiat. “Acaranya sendiri sederhana sekali, kok. Mengingat yang bersangkutan masih kecil sekali sementara kesehatan si ibu pun belum pulih benar.” Jadi, lanjut Bu Djono, begitu ia akrab disapa, “Bisa cuma berupa bancakan yang dibagikan kepada anak-anak kecil di seputar tempat tinggal si bayi.”

Bancakan ini dimaksudkan agar si bayi mau berbagi kesenangan/kebahagiaan dengan sesama yang dimulai dari lingkungan terdekatnya. Tentu saja sebelum membagikan bancakan tadi orang tua si bayi maupun “pimpinan” acara sudah mendoakan dalam hati segala yang terbaik buat si bayi.

Sementara jenis makanannya relatif sangat sederhana dibanding acara-acara peringatan sejenis lainnya semisal turun tanah, tingkeban dan brojolan. Yakni nasi putih yang diletakkan di tampah dan dilengkapi dengan gudangan atau urap dengan bumbu kelapa putih tak pedas. Nasi urapan ini kemudian dibagikan dalam kemasan berupa pincuk dan takir yang terbuat dari daun pisang. Sedangkan di lingkungan keraton, nasinya dibentuk gunungan atau malah berbentuk tumpeng yang dimaksudkan agar si jabang bayi munggah/naik derajatnya.

Kendati sederhana, sambung Bu Djono, acara selapanan ini sarat makna, lo. Gudangan atau urapnya terdiri dari 7 jenis sayur mayur yang merupakan simbolisasi dari harapan bahwa si bayi akan mendapat banyak pertolongan/pitulungan. “Tapi angka 7 ini bukan harga mati. Soalnya, boleh saja menggunakan berapa jenis sayuran sesuai selera dan kemampuan. Asalkan jumlahnya harus ganjil karena dalam perhitungan Jawa, angka ganjil diyakini paling tinggi nilai keberuntungannya.”

Meski ada kelonggaran dalam soal jumlah, ada beberapa jenis sayuran yang diwajibkan tersedia dalam gudangan tersebut. Di antaranya kacang panjang dengan harapan si bayi berumur panjang, tauge agar bisa cepat tumbuh seperti halnya kecambah, dan bayem supaya hidupnya ayem/tenteram. Selain itu, gudangan ini biasanya dilengkapi dengan telur rebus atau telur pindang yang merupakan simbolisasi awal kehidupan.

Sementara takir dan pincuk yang terbuat dari daun pisang yang disemat sedemikian rupa hingga bisa dimanfaatkan sebagai wadah merupakan simbol dari kesederhanaan sekaligus multiguna. Bukankah seperti halnya pohon kelapa, pohon pisang pun bisa dimanfaatkan seluruh bagiannya? Dalam arti, meski kelak sudah jadi “orang”, si bayi diharapkan tetap hidup sederhana dan tak lupa pada lingkungan asal-usulnya.

PENOLAK BALA

Selain bancakan tadi, dalam acara selapanan ini biasanya juga tersedia jajan pasar berupa kue-kue yang banyak dijual di pasar-pasar tradisional seperti kue lapis, kue mangkok dan nagasari. Disamping setangkep atau 2 sisir pisang raja agar si bayi kelak memiliki martabat setinggi raja; pala gemantung berupa buah-buahan semisal jeruk, belimbing dan aneka buah lain yang bergelantungan. Serta pala kependem yang direbus seperti singkong, ubi dan kacang tanah lengkap dengan kulitnya. Jajan pasar ini biasanya juga dilengkapi bubur aneka warna, minimal merah dan putih yang diyakini sebagai penolak bala.

Acara selapanan ini biasanya diisi pula dengan acara menggunduli rambut si bayi. “Soalnya, rambut bayi yang baru berumur selapan itu, kan, masih bawaan dari dalam rahim. Nah, menggunduli rambut si bayi dimaksudkan agar rambut tadi berganti dengan rambut baru yang betul-betul bersih. Dalam arti tidak ‘tercemar’ air ketuban dan sebagainya.”

Sayangnya, imbuh Bu Djono, banyak orang tua yang merasa keberatan anaknya digunduli karena merasa sayang maupun khawatir tak tumbuh sebagus sekarang atau malah sama sekali tak tumbuh lagi. Hingga alternatif yang ditempuh adalah memotong rambut si bayi sekadarnya sebagai syarat acara selapanan tadi. Padahal agar tumbuhnya bagus, rambut bayi justru dianjurkan untuk digunduli berturut-turut selama 3 kali selapanan pertama.

BUKAN JAMINAN
Untuk mereka yang tak memahami/meyakini tradisi semacam ini tentu saja acara selapanan tak menjadi keharusan. Bahkan kalaupun kondisi keuangan tak memungkinkan untuk membuat acara dalam skala besar, misal, porsi dan jenis makanannya, toh, bisa dibuat sesederhana mungkin.

Hanya saja, tegas dukun manten yang kerap mendapat order dari kalangan pejabat ini, keluarga yang ingin menyelenggarakan acara-acara semacam ini hendaknya betul-betul meyakini. “Jangan malah ngebantah atau mempertanyakan atau meragukannya. Semisal, ‘Ah masak, sih!’ Kendati bukan berarti pula acara-acara tersebut lantas menjadi semacam jaminan, lo. Bayi yang sudah dibancaki, contohnya, pasti bakal panjang umurnya atau tak memperoleh marabahaya dalam perjalanan hidupnya.”

Sebabnya, “Muncul atau tidaknya suratan takdir seseorang, tak ada seorang pun yang tahu. Sang Pemiliklah yang menentukan apakah suratan tadi menjadi kenyataan atau tidak.” Yang jelas, bilang Bu Djono, menyiapkan acara-acara semacam itu tak bisa dilakukan oleh orang sembarangan. Karena “pemimpin” acara mesti memanjatkan doa-doa khusus disamping laku prihatin dengan berpuasa atau minimal nganyep alias pantang/tak makan garam sama sekali.

Th. Puspayanti. Foto:Dint’s/nakita

Jangan Terlalu Lama

Melibatkan bayi dalam upacara selapanan atau apa pun namanya sesuai masing-masing tradisi, bilang Dr. H. Adi Tagor, Sp.A, DPH., boleh-boleh saja. “Asal si bayi jangan disentuh dan dikerumuni banyak orang dengan jarak terlalu dekat. Waktunya pun jangan terlalu lama, maksimal 2 jam. Selewat itu, ya, ajak si kecil kembali ke kamarnya untuk disusui atau malah ditidurkan.” Selebihnya, acara tersebut bisa diteruskan tanpa harus mengikutsertakan si bayi.

Selama acara berlangsung, saran staf medik dari RS Pondok Indah, sebaiknya hanya keluarga terdekat yang berada bersama bayi dalam lingkaran pertama. Dalam arti, hanya pemandu acara, orang tua, kakak dan kakek-neneknya yang berada di seputar bayi. Sementara keluarga lain dan para tamu sebaiknya berada di luar lingkaran tadi atau kira-kira mengambil jarak sekitar 2-3 meter.

Malah mereka yang jelas-jelas sedang sakit, seringan apa pun, sebaiknya jangan mendekat sama sekali. “Cukup melihat dari kejauhan sajalah. Soalnya, bayi baru lahir hingga umur 40 hari, kan, masih rentan sekali. Hingga sangat ditakutkan bayi bisa terkena radang paru-paru dan radang selaput otak yang umumnya menyerang bayi di bawah usia 2 bulan.”

Pasalnya, dalam kerumunan seperti itu virus gampang sekali “beterbangan” Jangan salah, tegasnya, “Semua virus dan bakteri potensial menyebabkan radang selaput otak, lo. Termasuk golongan streptokokus yang ganas atau berbahaya. Padahal di tubuh, tepatnya di tenggorokan orang dewasa, jenis ini boleh jadi tidak berbahaya dan hanya termanifestasi sebagai keluhan leher sakit atau radang tenggorokan dan batuk-batuk ringan. Tapi untuk bayi baru lahir ini bisa sangat berbahaya.”

Nah, Bu-Pak, ketimbang si kecil tertular penyakit yang membahayakan, sebaiknya kita pasangi “benteng”, deh.

Yanti 

 Sumber : http://www.tabloid-nakita.com/Khasanah/khasanah04158-12.htm

~ by samsira on 24 January 2008.

One Response to “SELAPANAN, UNGKAPAN RASA SYUKUR DAN MENGAJAR ANAK BERBAGI”

  1. as. terima kasih naskahnya bagus, dan baiik sekkali untuk menambah wawasan saya. terima kasih sekali lagi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: