(EMANGNYA) SIAPA YANG MAU BERTOBAT?

Saking bingung dan paniknya melihat dan mengalami Indonesia yang semakin asyik dengan berbagai macam jenis kehancuran, hari-hari ini sejumlah tokoh dan media mulai bicara lagi soal Pertobatan Nasional. Salah satu pekerja media menghubungi saya soal itu dan saya bertanya “Memangnya siapa yang mau bertobat? Apa mungkin Gus Dur dan kaum elite kita pernah melakukan kesalahan sehingga merasa perlu bertobat?”

Maaf-maaf seingat saya sejak tahun 1995 sebagai warga Indonesia yang ingin berguna, saya teriak-teriak soal Tobat Nasional. Tema itu baru muncul di koran sesudah seorang tokoh mengemukakannya. Name makes news, dan saya tergolong no name. Tapi yang penting toh bukan name atau no-name-nya, melainkan tobatnya.
Pada 15 Agustus 1997 ada sembilan kuburan yang tanahnya mendadak naik ke bumi. Surat ke-9 dalam Qur-an itu surat at¬-Taubah. Jadi ‘keajaiban’ itu memberi informasi tentang apa yang diperlukan oleh manusia Indonesia. Kuburan itu kabarnya terletak di desa Tobat, yang ada masjid at-Taubahnya pula. Jadi informasi mengenai tobat itu berderet¬-deret. Kecamatannya, katanya, adalah Balaraja. Jadi yang harus bertobat adalah semua bala¬nya Raja (waktu itu berarti Golkar, ABRI, Korpri dll), sehingga yang paling harus bertobat adalah si Raja sendiri.
Jadi asyik kalau 2 hari kemudian, yakni 17 Agustus 1997, diproklamirkan sebagai dimulainya Tahun Pertobatan Nasional. Tobat itu wacana dari Islam, jadi ya ngambil ilmunya ‘terpaksa’ dari Islam. Wacana lain adalah Husnul Khatimah: mengupayakan akhir yang baik. Saya coba ikut-ikut mengusahakan Taubah Nasuha dan Khusnul Khatimah. Terutama untuk sang Raja. Pak Harto saya ajak ke Masjid DPR-RI untuk omong langsung kepada Tuhan sumpahnya untuk bertobat dan berkhusnul khatimah. Pasti Tuhan akan menjawab begini: “Aku akan menerima tobatmu, wahai Soeharto, sesudah engkau bereskan dulu masalahmu dengan rakyat Indonesia.”
Maka secara tertulis Soeharto juga bersumpah empat hal. Pertama, bersedia diadili. Kedua, tidak akan naik ke kekuasaan lagi. Ketiga, tidak akan bikin kerusuhan. Keempat, bersedia mengembalikan hartanya yang tidak halal kepada rakyat. Pada saat yang sama saya sebarkan selebaran “Pilih Tobat atau Bencana?” – tapi tidak ‘laku’, media-media tidak menanggapinya. Tobat bukan ide yang populer. Tobat itu ndeso.
Tapi saya dituduh oleh sejumlah media dan pengamat, terutama Arbi Sanit, sebagai bermaksud menghindarkan Soeharto dari pengadilan. Saya dituding sebagai mesin politiknya Soeharto. Sehingga acara tobatnya Soeharto itu saya batalkan karena pasti tidak efektif secara horisontal, dan mempersilahkan negara bersegera mengadili Soeharto – yang tidak tercapai sampai hari ini. Lha sekarang orang mulai ribut lagi soal tobat nasional, ide ndeso itu. Orang-orang ini tidak menyadari bahwa kita semua ini sangat berbakat untuk hancur, serta memiliki segala bahan yang diperlukan untuk tidak selamat.

~ by samsira on 24 January 2008.

One Response to “(EMANGNYA) SIAPA YANG MAU BERTOBAT?”

  1. tobatku ada dimana ???
    kehidupanku sekarang berubah karena perbedaan tempat…
    dimana kehidupan sekarang emang lebih pahit dari pada kehidupan ku yg dolo…dimana sekarang aku bisa hidup sendiri dan jauh keluargaku…seperti gelandangan saja, hingga makan pun aku tidak bisa dan cuman bisa berusaha meminta kepada orang lain demi sesuap NASI…tidak ada rumah dan teman…hingga aku memahami karena kurang nya aku Bertobat kepada yg maha kuasa. hingga aku lupa akan penciptaku…
    kisah ini aku tulis dengan rasa salah dan lupa akan tobat ku

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: