Macan Jadi Tikus

TADI malam,bersama KiaiKanjeng,saya diminta melayani pertemuan raja-raja se-Nusantara di Jakarta. Kemarin malam, dengan formasi yang sama, melayani ulang tahun pertama Partai Hanura.

Malam nanti, seperti biasa, kami melayani komunitas Kenduri Cinta di Taman Ismail Marzuki Jakarta.Demikian judul kisah tiga hari ini. Sekadar agar Anda tidak terlalu salah paham saya kemukakan bahwa KiaiKanjeng dan saya ini sebaiknya dianggap tidak ada.Kalaupun dicari,cukuplah apa yang kami lakukan,bukan identitas kami. Syukur Anda sempatkan menengok website padhangmbulan.
Tetapi tidak usah meletakkan kami di kelompok mana,kotak apa,kategori, atau aliran apa, jenis atau spesies apa. Jangankan dalam urusan sosial yang luas, dalam dunia musik eksklusif saja pun tak perlu Anda cari di mana titik koordinat Kiai- Kanjeng,karena tak akan Anda temukan kami di sana. Untuk mudahnya,anggap garam saja: ditaburkan di sejumlah makanan,tapi garam tak akan pernah ada di daftar menu. Bahkan garam pun bukan, dan memang bukan itu yang akan saya tuliskan di sini.

Pelayanan kepada para raja tadi malam belum bisa saya ceritakan di sini karena tulisan ini akan lewat deadline kalau dibikin sesudah acara itu berlangsung. Padahal, content-nya sangat berkaitan dengan apa yang saya maksud dengan ”Macan Menjadi Tikus”. *** Pada acara pelayanan kepada Partai Hanura saya kemukakan sejumlah poin,saya tuturkan dua saja. Pertama, pernyataan nurani Wiranto secara pribadi kepada saya beberapa hari sebelumnya bahwa dia sekarang sudah tenang hatinya, sangat berbeda dibanding tatkala dia ikut konvensi Partai Golkar untuk mencalonkan diri jadi Presiden.

Sudah pasti seluruh warga dan kader Partai Hati Nurani Rakyat di seluruh Indonesia memiliki obsesi besar yang sama untuk kelak ”mempresidenkan” Wiranto. Mas Wiranto juga bukan tidak mau dicalonkan menjadi presiden.” Tetapi di dalam nurani saya sudah tidak ada ambisi untuk itu. Konsentrasi saya dan Hanura adalah memastikan bahwa seluruh kader kami belajar dan bertandang mengutamakan nurani, minimal kami tidak akan turut perilaku politik dan bidang apa pun yang bertentangan dengan nurani,syukur memiliki kekuatan untuk melakukan perlawanan terhadap perilaku politik dan sistem yang melanggar nurani.

” Sebaiknya Anda ingat beberapa contoh cara berpikir untuk memahami kalimat itu. Orang yang berambisi menjadi presiden tidak lantas pasti jadi presiden, dan orang yang tidak berambisi menjadi presiden tidak lantas pasti tidak jadi presiden. Soeharto dulu dilahirkan sebagai bayi dan dikasih nama Soeharto tanpa sebelumnya punya waktu dan peluang untuk berambisi atau tak berambisi menjadi atau tak menjadi manusia yang kemudian dinamakan Soeharto. Anda ingin makan sate kambing, kemudian tercapai atau tak tercapai itu hanya salah satu dimensi hidup.

Ada sangat banyak dimensi,probabilitas dan cakrawala kemungkinan lain yang disediakan oleh kehidupan,termasuk yang manusia menyebutnya irasional,hanya karena akalnya tidak mampu menyentuh. Manusia menyangka akal dan batas pengetahuan adalah satu-satunya parameter untuk menyimpulkan sesuatu itu masuk akal atau tidak. Ada fenomena yang volume dan kompleksitas urat saraf identifikasinya tidak termuat oleh otak manusia yang sempit, oleh penemuan ilmiah akademis yang sangat terbatas dan fakultatif-spesialistis: kenapa yang disalahkan adalah kebesaran fenomenanya, bukan kesempitan otaknya.

Apa yang selalu saya temukan pada setiap interaksi sosial KiaiKanjeng dan saya dengan kelompok-kelompok masyarakat adalah telah terpuruknya bangsa kita pada kesempitan berpikir, kecekakan berpikir, kesepenggalan pandangan,kedangkalan analisis, dst, pada tingkat yang sangat parah. Kita sedang menjalani suatu Indonesia yang sedang mantap dan asyik sebagai tikus, dengan seluruh pola perilaku apa saja mirip tikus, karena genetika dan historisitas ke-macan-annya bukan hanya sudah ditinggalkan, tetapi bahkan sudah tidak dipercaya oleh si macan sendiri.

Hampir semua perilaku, policy, keputusan, dan produk kita adalah produk tikus,dan menjadi lebih tikus lagi karena kita menyelamatkan mental kita dengan mencari- cari kebanggaan menjadi tikus. Kalau saya kembalikan ke Wiranto dan tak berambisi jadi presiden: ada banyak cara pandang lain.Misalnya menurut saya dari sudut cara berpikir Tuhan: justru karena sudah ikhlas melepas ambisi itu maka justru seseorang memperoleh peluang yang lebih besar.

Muhammad, menurut ilmu militer,pasti kalah di Perang Badar, tetapi Muhammad bilang sama Allah ”Saya ikhlas ditimpa apa pun, kekalahan atau kematian, asalkan Engkau tak marah kepadaku”. Justru posisi itu yang membuat Allah menganugerahkan kemenangan kepada pasukan Badar. Tetapi lain masalah kalau kisah diplomasi vertikal Muhammad ini diam-diam justru menumbuhkan suatu jenis ”kehendak” di dalam diri Wiranto atau siapa pun.Yang terjadi bukan lagi ikhlas kalah dan hancur.Yang diharapkan diam-diam agar terjadi adalah ”dengan saya ikhlas kalah mudah-mudahan saya akan diberi kemenangan”.

KEmanapun saya diundang masuk,biasanya saya urun citacita besar tentang tuan rumah saya. Untuk Hanura saya sumbang perspektif: ”Kalau menjadi Parpol dengan proyeksi ke depan mengikuti pemilu, bersaing melawan Golkar, Demokrat dan apa pun saja,kemudian goal terakhirnya memproduksi seorang presiden,itu tidaklah fenomenal.Itu cita-cita konvensional.

Berarti bukan parpol unggul.” Sebagaimana berdoa kepada Tuhan, mbok jangan pada titik minta jodoh yang baik,sekalian saja minta anak banyak yang pintar-pintar dan berguna hidupnya. Dengan sendirinya, kalau dikabulkan oleh Allah kan termasuk terlebih dulu dikasih istri yang subur dengan gen yang baik. Demikian juga mendirikan parpol. Mbok berpikir tingkat dunia.

Tidak hanya menyiapkan diri untuk bersaing di pemilu. Boleh saja memurnikan cita-cita misalnya tidak penting menang atau kalah pemilu, tetapi kapan saja tetap mengabdikan diri untuk kepentingan seluruh rakyat.Atau agak diperbesar sedikit: bertekad mengajak bangsa Indonesia mengejar ketertinggalan dari bangsa-bangsa lain. Yang saya maksudkan kepada Hanura, juga institusi politik dan laboratorium kepemimpinan mana pun,bukan hanya itu.Apalagi yang disebut ”tertinggal dari bangsa lain”kan relatif: ini tema tersendiri dan uraiannya panjang.

Tapi intinya tertinggal atau duluan kan harus sama-sama berada pada parameter yang sama, lapangan kompetisi yang sama,cita-cita dan goal yang sama. Lha negara segini banyaknya mosok tujuannya cuma satu.Jumlah manusia sekian miliar kok stok profesi cuma sepuluh sampai dua puluh.Berarti ada penindasan terhadap natur keragaman dan unikum manusia, berarti pula ada suatu sistem berpikir dan pola penanganan sejarah besar yang mengandung pelanggaran HAM habis-habisan. Jadi, apa pun parpol yang membangun diri, siapa pun tokoh yang muncul,mbokya punya cita-cita besar bertingkat dunia.Pahami bangsamu dengan saksama,seluruh seginya, luar dalam,esok dan masa silamnya.Dari situ,kita gali citacita mendunia.

Indonesia bisa menjadi mercusuar dunia. Indonesia menjadi pusat dunia. Indonesia menjadi ibu kota dunia,sesudah Indonesia menemukan ibu kota sejatinya dan pindah dari Jakarta ke situ. Siapa pun yang akan tampil,lakukanlah pendadaran diri agar menjadi pemimpin yang lebih besar dari Soekarno. Di dalam dirimu ada Jenderal Sudirman,ada Hatta,bahkan ada Sunan Kalijogo dan orang-orang besar yang pernah dimiliki oleh bangsa kita. Bahkan tidak mustahil pemimpin Indonesia mampu lebih tajam dari De Gaull, lebih futurolog dari Lincoln, bahkan ada ratusan ribu pemimpin dunia yang bisa menjadi adrenalin dan aliran darah hangat seorang pemimpin baru Indonesia.

Malu bangsa ini kalau pemimpinnya nanti hanya sepadan dengan Bush, Howard, atau malah kepada dua orang itu saja takut.Malu bangsa kita karena kepada klenik kebatinan khayalan yang bernama Rambo saja takut dan takluk.Hanya beberapa film saja mosok sudah cukup untuk dipakai mencuci otak ratusan juta manusia yang aslinya macan sehingga berubah menjadi tikus. Kalau burung tak mengenali dirinya burung, maka tak ada gairah padanya untuk terbang berlaga di angkasa.

Bangsa Indonesia semakin tidak mengerti siapa dirinya sehingga untuk bercita-cita saja menunggu tren dari Hong Kong,Macau,dan Hollywood. Tulisan ini kelak akan melahirkan ribuan penelitian dan akan memproduksi ribuan buku. Anda tidak perlu percaya, karena seumur hidup sampai setua ini saya memang belum pernah benarbenar dipercaya. Anda silakan mengatakan ini semua utopia dan omong kosong,karena saya memang keberatan hidup dalam omong kosong Indonesia,terutama tahap reformasi ini. Saya kuakkan sedikit saja.

Misalnya, bangsa Indonesia bukan bangsa yang lahir pada 1945.Terbalik: bangsa Indonesia adalah bangsa yang melahirkan kemerdekaan 1945. PadaabadberapabangsaIndonesia itu lahir dan mulai bisa disebut bangsa Indonesia? Nabi Ibrahim AS punya dua putra, Ismail dan Ishaq, keduanya menurunkan bangsa- bangsa yang sekarang berkuasa dan saling bertengkar, bikin ribut dunia.Tentu untuk menguraikan ini ada pemetaan historis, antropologis, bahkan sampai biologi dan ginekologi, tetapi pertanyaan saya: Anda ini, bangsa ini, keturunan Ismail atau Ishaq? Orang Cina, Jepang dan Korea itu keturunan Ismail atau Ishaq?

Apakah Ibrahim adalah satu-satunya ”dahan” dari pohon sejarah yang meregenerasikan dirinya menjadi ranting, daun, bunga, dan buah sampai hari ini? Nuh, nenek moyangnya Ibrahim, apakah hanya punya satu garis, yakni yang ke Ibrahim? Siapa pula yang lebih terdahulu dari Nuh? Apakah huruf ”J”dan ”W” atau dibaca ”V” atau ”F” dalam kata Jawa, Jewish, Jehova, Jaffa Tel Avis itu kebetulan belaka atau ada urusan pohon sejarah? Apakah Anda pikir bangsa Jawa sekarang ini sama persis dengan Jawa yang terdahulu, di generasi-generasi awal sesudah Adam?

Kita adalah kumpulan manusia pemalas. Daripada mikir jauh ke belakang, mending dolan ke mal dan creambath di salon atau main gaple. Akhirnya kita tidak mengerti macan kita sehingga berlaku sebagai tikus. Kita selalu bilang bangsa Indonesia adalah bangsa besar. Ternyata itu omong kosong dan bohong melompong. Pernyataan bahwa kita adalah bangsa besar bukan pernyataan ilmiah, bukan pernyataan sejarah, bukan pernyataan spirit,bukan pernyataan kesadaran. Kita selalu pamer bahwa kita adalah bangsa besar, tetapi begitu saya ungkapkan bahwa kita benar-benar bangsa besar dengan sejumlah pancingan indikator: reaksi yang saya terima adalah reaksi bangsa kerdil yang tidak percaya diri.

~ by samsira on 18 January 2008.

One Response to “Macan Jadi Tikus”

  1. Kunjungi situs resmi Pemuda Hanura Online yang BARU:

    http://www.PemudaHanura.org

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: