Sejarah Natal

HERBERT W. ARMSTRONG penulis buku ini adalah orang
yang sangat dihormati di kalangan pejabat, pebisnis,
industriawan dan ilmuwan di seluruh dunia, dia adalah
seorang Pastur Worldwide Church of God yang
berkedudukan di Amerika Serikat. Dia juga sebagai
kepala editor majalah Kristen “Plain Truth”
yang bertiras sekitar 8 juta eksemplar tiap bulan.
Majalah ini didirikan pada tahun 1934, dan beredar ke
seluruh dunia. Pada tahun 1947, Amstrong mendirikan
Ambassador College yang sekarang memiliki dua kampus
besar di Pasadena California dan di Big Sandy Texas.
Juga mendirikan dan sebagai kepala Ambassador
International Cultural Foundation, yang bergerak di
bidang kebudayaan, bantuan pada masyarakat miskin, dan
gerakan kemanusiaan.

Dia sudah mengunjungi sekitar 70 negara untuk
memberitakan Injil sebagai Kerajaan Tuhan. Bahkan
Amstrong mendapatkan kehormatan dari kepala negara
yang memiliki perbedaan keyakinan dengannya seperti di
Jepang, India, Afrika Selatan, China, Israel dan
Mesir. Pada usianya yang sudah mencapai 90 tahun,
Amstrong masih aktif menulis, ceramah di televisi dan
di depan publik.

Di antara buku hasil tulisannya adalah: The Wonderful
World Tomorrow, What it Will be Like dan The United
State and Britain in Prophecy.

“Misteri Natal
By Herbert W. Armstrong

Daftar Isi
1. Tentang Penulis Herbert W. Armstrong (1892-1986)-
2. Kenangan Natal Dimasa Kecilku-
3. Sejarah Natal-
4. Yesus tidak lahir pada 25 Desember-
5. Proses Natal Masuk Gereja-
6. Asal usul Natal-
7. Asal Usul Pohon Natal-
8. Siapa Santa Claus / Sinterklas itu ?-
9. Kata Bible tentang Pohon Natal-
10. Hadiah Natal-
11. Hadiah untuk Yesus-
12. Natal Memuliakan Tuhan ?-
13. Tanpa Disadari kita kembali ke masa Babilonia-

KENANGAN NATAL DI MASA KECILKU
Ketika saya masih kecil, di saat malam Natal, saya
biasa diajari dan disuruh menggantungkan kaos kaki di
dinding dekat ruangan perapian.
Esok harinya, kaos kaki tersebut penuh dengan
hadiah-hadiah berupa mainan atau kotak makanan
kesenangan saya. Selain hadiah tersebut, juga terdapat
sebatang pohon Natal yang dihiasi bunga-bunga kertas
berwarna perak dan emas. Di pohon ini pula, aneka rupa
hadiah untuk anak-anak bergelantungan di dahannya dan
berserakan di bawahnya.

Menurut para orang tua, semua hadiah Natal itu dibawa
oleh Sinterklas atau Santa Clause yang telah datang di
malam hari, melalui cerobong asap perapian. Seperti
anak-anak lainnya, semua crita itu saya telah begitu
saja dengan penuh keyakinan. Tentu anda pun demikian.
Sebab kita dilahirkan dan dibesarkan di lingkungan
kehidupan yang penuh dengan adat kebiasaan yang harus
kita … terima, tanpa bertanya-tanya, yang dapat
menimbulkan suasana yang tidak menyenangkan.

Mengapa kita bersikap demikian?
Instink hewanikah, sehingga kita ikut-ikutan dengan
apa saja yang dilakukan oleh kebanyakan orang? Kambing
memang akan tetap mengikuti kelompoknya, walaupun
digiring untuk … dipotong sekalipun. Tetapi sebagai
manusia, seharusnya bersikap kritis dengan menggunakan
akal sehat.

Sebagai orang Kristen yang baik, kita tidak pernah
menyelidiki, mengapa kita melakukan semua itu dan
mengapa semua orang percaya bahwa yang mereka kerjakan
itu benar. Seharusnya, sebagai umat Kristen yang ingin
melaksanakan ajaran-ajaran Tuhan, kita harus bertanya,
apakah upacara natal itu benar-benar ajaran Kristen?
Apakah cara-cara merayakan Natal itu tidak mengajarkan
kebohongan kepada masyarakat, yang merupakan …
larangan Tuhan? Adakah firman Tuhan yang Hidup maupun
firman tertulisNya yang memerintahkan kita untuk
melakukannya? Apakah Yesus dan para Rasul juga
melakukan seperti apa yang kita meriahkan selama ini?
Apakah kebiasaan tukar- menukar hadiah Natal dengan
teman dan kerabat dekat, juga betul-betul mengikuti
ajaran Tuhan di dalam Bibel? Dan seterusnya … dan
seterusnya …

Hampir semua orang berpendapat dan mengira bahwa semua
upacara dan kebiasaan itu berasal dari ajaran Gereja.
Tetapi betulkan semua pendapat dan perkiraan itu?

Mudah-mudahan fakta yang saya tulis dalam buku ini
dapat meluruskan semua pendapat yang dapat menyesatkan
dan merusak ajaran Tuhan yang sebenar-benarnya.
Mungkin tulisan saya yang berdasarkan pada kenyataan
ini akan mengejutkan orang Kristen, termasuk anda
sendiri.

SEJARAH NATAL
Kata Christmas (Natal) yang artinya Mass of Christ
atau disingkat Christ-Mass, diartikan sebagai hari
untuk merayakan kelahiran “Yesus”. Perayaan yang
diselenggarakan oleh non-Kristen
dan semua orang Kristen ini berasal dari ajaran Gereja
Kristen Katolik Roma. Tetapi, dari manakah mereka
mendapatkan ajaran itu?
Sebab Natal itu bukan ajaran Bible (Alkitab), dan
Yesus pun tidak pernah memerintah para muridnya untuk
menyelenggarakannya. Perayaan yang masuk dalam ajaran
Kristen Katolik Roma pada abad ke empat ini adalah
berasal dari upacara adat masyarakat penyembah
berhala.

Karena perayaan Natal yang diselenggarakan di seluruh
dunia ini berasal dari Katolik Roma, dan tidak
memiliki dasar dari kitab suci, maka marilah kita
dengarkan penjelasan dari Katolik Roma dalam
Catholic Encyclopedia, edisi 1911, dengan judul
“Christmas”, anda akan menemukan kalimat yang berbunyi
sebagai berikut:

“Christmas was not among the earliest festivals of
Church … the first evidence of the feast is from
Egypt. Pagan customs centering around the January
calends gravitated to christmas.”

“Natal bukanlah diantara upacara-upacara awal Gereja …
bukti awal menunjukkan bahwa pesta tersebut berasal
dari Mesir.
Perayaan ini diselenggarakan oleh para penyembah
berhala dan jatuh pada bulan Januari ini, kemudian
dijadikan hari kelahiran Yesus.”

Dalam Ensiklopedi itu pula, dengan judul “Natal Day,”
Bapak Katolik pertama, mengakui bahwa:

“In the Scriptures, no one is recorded to have kept a
feast or held a great banquet on his birthday. It is
only sinners (like Paraoh and Herod) who make great
rejoicings over the day in which they were born into
this world.”

“Di dalam kitab suci, tidak seorang pun yang
mengadakan upacara atau menyelenggarakan perayaan
untuk merayakan hari kelahiran Yesus.
Hanyalah orang-orang kafir saja (seperti Firaun dan
Herodes) yang berpesta pora merayakan hari
kelahirannya ke dunia ini.”

Encyclopedia Britannica, yang terbit tahun 1946,
menjelaskan sebagai berikut:

“Christmas was not among the earliest festivals of the
church… It was not instituted by Christ or the
apostles, or by Bible authority.
It was picked up of afterward from paganism.”

“Natal bukanlah upacara – upacara awal gereja. Yesus
Kristus atau para muridnya tidak pernah
menyelenggarakannya, dan Bible (Alkitab)
juga tidak pernah menganjurkannya. Upacara ini diambil
oleh gereja dari kepercayaan kafir penyembah berhala.”

Encyclopedia Americana terbitan tahun 1944 juga
menyatakan sebagai berikut:

“Christmas…It was, according to many authorities, not
celebrated in the first centuries of the Christian
church, as the Christian usage in general was to
celebrate the death of remarkable persons rather
than their birth…” (The “Communion,” which is
instituted by New Testament Bible authority, is a
memorial of the death of Christ.) “…
A feast was established in memory of this event
(Christ’s birth) in the fourth century. In the fifth
century the Western Church ordered it to be celebrated
forever on the day of the old Roman feast of the
birth of Sol, as no certain knowledge of the day of
Christ’s birth existed.”

“Menurut para ahli, pada abad-abad permulaan, Natal
tidak pernah dirayakan oleh umat Kristen. Pada
umumnya, umat Kristen hanya merayakan hari kematian
orang-orang terkemuka saja, dan tidak pernah
merayakan hari kelahiran orang tersebut..” (“Perjamuan
Suci” yang termaktub dalam Kitab Perjanjian Baru,
hanyalah untuk mengenang
kematian Yesus Kristus.) “…Perayaan Natal yang
dianggap sebagai hari kelahiran Yesus, mulai
diresmikan pada abad keempat Masehi. Pada
abad kelima, Gereja Barat memerintahkan kepada umat
Kristen untuk merayakan hari kelahiran Yesus, yang
diambil dari hari pesta bangsa Roma yang merayakan
hari “Kelahiran Dewa Matahari.”
Sebab tidak seorang pun yang mengetahui hari kelahiran
Yesus.”

Sekarang perhatikan! Fakta sejarah telah membeberkan
kepada kita bahwa mulai lahirnya gereja Kristen
pertama sampai dua ratus atau tiga ratus tahun
kemudian – jarak waktu yang lebih lama dari umur
negara Amerika Serikat – upacara Natal tidak pernah
dilakukan oleh umat Kristen. Baru setelah abad
keempat, perayaan ini mulai diselenggarakan oleh
orang-orang Barat, Roma dan Gereja. Menjelang
abad kelima, Gereja Roma memerintahkan untuk
merayakannya sebagai hari raya umat Kristen yang
resmi.

YESUS TIDAK LAHIR PADA 25 DESEMBER
Sungguh amat mustahil jika Yesus dilahirkan pada musim
dingin! (Di wilayah Yudea, setiap bulan Desember
adalah musim salju dan hawanya sangat dingin) Sebab
Injil Lukas 2:11 menceritakan suasana di saat
kelahiran Yesus sebagai berikut:

“Di daerah itu ada gembala-gembala yang tinggal di
padang menjaga kawanan ternak mereka pada waktu malam.
Tiba-tiba berdirilah seorang malaikat Tuhan di dekat
mereka dan kemuliaan Tuhan bersinar meliputi
mereka dan mereka sangat ketakutan.. Lalu kata
malaikat itu kepada mereka: “Jangan takut, sebab
sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar
untuk seluruh bangsa: Hari ini telah lahir bagimu
Juruselamat, yaitu Kristus, di kota Daud.”

Tidak mungkin para penggembala ternak itu berada di
padang Yudea pada bulan Desember. Biasanya mereka
melepas ternak ke padang dan lereng-lereng gunung.
Paling lambat tanggal 15 Oktober, ternak tersebut
sudah dimasukkan ke kandangnya untuk menghindari hujan
dan hawa dingin yang menggigil. Bibel sendiri dalam
Perjanjian Lama, kita Kidung Agung 2: dan Ezra 10:9,
13 menjelaskan bahwa bila musim dingin tiba, tidak
mungkin pada gembala dan ternaknya berada di
padang terbuka di malam hari.

Adam Clarke mengatakan:
“It was an ancient custom among Jews of those days to
send out their sheep to the field and desert about the
Passover (early spring), and bring them home at
commencement of the first rain.”
(Adam Clarke Commentary, Vol.5, page 370, New York).
“Adalah kebiasaan lama bagi orang-orang Yahudi untuk
menggiring domba-domba mereka ke padang menjelang
Paskah (yang jatuh awal musim semi), dan membawanya
pulang pada permulaan hujan pertama).”

Adam Clarke melanjutkan:
“During the time they were out, the sepherds watch
them night and day. As…the first rain began early in
the month of Marchesvan, which answers to part of our
October and November (begins sometime in
october), we find that the sheep were kept out in the
open country during the whole summer. And, as these
sepherds had not yet brought home their flocks, it is
a presumptive argument that october had not
yet commenced, and that, consequently, our Lord was
not born on the 25th of December, when no flock were
out in the fields; nor could He have been born later
than September, as the flocks were still in the
fields by night. On this very ground, the Nativity in
December should be given up. The feeding of the flocks
by night in the fields
is a chronological fact…See the quotation from the
Talmudists in Lightfoot.”

“Selama domba-domba berada di luar, para penggembala
mengawasinya siang dan malam. Bila…hujan pertama mulai
turun pada bulan Marchesvan, atau antara bulan Oktober
dan November, ternak-ternak itu mulai dimasukkan ke
kandangnya. Kita pun mengetahui bahwa domba-
domba itu dilepas di padang terbuka selama musim
panas. Karena para penggembala belum membawa pulang
domba-dombanya, berarti bulan Oktober belum tiba.
Dengan demikian dapatlah diambil kesimpulan
bahwa Yesus tidak lahir pada tanggal 25 Desember,
ketika tidak ada domba-domba berkeliaran di padang
terbuka di malam hari. Juga tidak mungkin dia lahir
setelah bulan September, karena di bulan inilah
domba-domba masih berada di padang waktu malam. Dari
berbagai bukti inilah, kemungkinan lahir di bulan
Desember itu harus disingkirkan.
Memberi makan ternak di malam hari, adalah fakta
sejarah…sebagaimana yang diungkapkan oleh Talmud
(kitab suci Yahudi) dalam bab “Ringan Kaki”.

Di ensiklopedi mana pun atau juga di kitab suci
Kristen sendiri akan mengatakan kepada kita bahwa
Yesus tidak lahir pada tanggal 25 Desember. Catholic
Encyclopedia sendiri secara tegas dan terang-
terangan mengakui fakta ini.

Tidak seorang pun yang mengetahui, kapan hari
kelahiran Yesus yang sebenarnya. Jika kita meneliti
dari bukti-bukti sejarah dan kitab suci Kristen
sendiri, saya bisa mengambil kesimpulan bahwa Yesus
lahir pada awal musim gugur – yang diperkirakan jatuh
pada bulan September – atau sekitar 6 bulan setelah
hari Paskah.

Jika Tuhan menghendaki kita untuk mengingat-ingat dan
merayakan hari kelahiran Yesus, niscaya dia tidak akan
menyembunyikan hari kelahirannya.

PROSES NATAL MASUK KE GEREJA
New Schaff-Herzog Encyclopedia of Religious Knowledge
dalam artikelnya yang berjudul “Christmas” menguraikan
dengan jelas sebagai berikut:

“How much the date of the festival depended upon the
pagan Brumalia (Dec.25) following the Saturnalia
(Dec.17-24), and celebrating the shortest day of the
year and the ‘new sun’… can not be accurately
determined. The pagan Saturnalia and Brumalia were too
deeply entrenched in popular custom to be set aside by
Christian influence… The pagan festival with its riot
and merrymaking was so popular that Christians were
glad of an excuse to continue its celebration with
little change in spirit and in manner. Christian
preachers of the West and the Near East protested
against the unseemly frivolity with
which Christ’s birthday was celebrated, while
Christians of Mesopotamia accused their Western
brethren of idolatry and sun worship for adopting as
Christian this pagan festival.”

“Sungguh banyak tanggal perayaan yang terkait pada
kepercayaan kafir Brumalia (25 Desember) sebagai
kelanjutan dari perayaan Saturnalia
(17-24 Desember), dan perayaan menjelang akhir tahun,
serta festival menyambut kelahiran matahari baru. Adat
kepercayaan Pagan Brumalia dan Saturnalia yang sudah
sangat populer di masyarakat itu diambil
Kristen…Perayaan ini dilestarikan oleh Kristen dengan
sedikit mengubah jiwa dan tata caranya. Para pendeta
Kristen di Barat dan di Timur Dekat menentang perayaan
kelahiran Yesus Kristus yang meniru agama berhala ini.
Di samping itu Kristen Mesopatamia menuding Kristen
Barat telah mengadopsi model penyembahan kepada dewa
Matahari.”

Perlu diingat! Menjelang abad pertama sampai pada abad
keempat Masehi, dunia dikuasai oleh imperium Romawi
yang paganis politeisme.
Sejak agama Kristen masih kecil sampai berkembang
pesat, para pemeluknya dikejar-kejar dan disiksa oleh
penguasa Romawi. Setelah Konstantin naik tahta menjadi
kaisar, kemudian memeluk agama Kristen pada abad ke-4
M. dan menempatkan agama sejajar dengan agama kafir
Roma, banyak rakyat yang berbondong-bondong memeluk
agama Kristen.

Tetapi karena mereka sudah terbiasa merayakan hari
kelahiran dewa-dewanya pada tanggal 25 Desember,
mengakibatkan adat tersebut sulit
dihilangkan. Perayaan ini adalah pesta-pora dengan
penuh kemeriahan, dan sangat disenangi oleh rakyat.
Mereka tidak ingin kehilangan hari kegembiraan seperti
itu. Oleh karena itu, meskipun sudah memeluk
agama Kristen, mereka tetap melestarikan upacara adat
itu. Di dalam artikel yang sama, New Schaff-Herzog
Encyclopedia of Religious Knowledge menjelaskan
bagaimana kaisar Konstantin tetap merayakan
hari “Sunday” sebagai hari kelahiran Dewa Matahari.
(Sun = Matahari, Day = Hari – dalam bahasa Indonesia
disebut hari Minggu — pen.) Dan bagaimana pengaruh
kepercayaan kafir Manichaeisme yang menyamakan
Anak Tuhan (Yesus) identik dengan Matahari, yang
kemudian pada abad ke-4 Masehi kepercayaan itu masuk
dalam agama Kristen.
Sehingga perayaan hari kelahiran Sun-god (Dewa
Matahari) yang jatuh pada tanggal 25 Desember,
diresmikan menjadi hari kelahiran Son of God
(Anak Tuhan – Yesus).

Demikianlah asal usul “Christmas – Natal” yang
dilestarikan oleh dunia Barat sampai sekarang.
Walaupun namanya diubah menjadi selain Sun-day, Son of
God, Christmas dan Natal, pada hakikatnya sama
dengan merayakan hari kelahiran dewa Matahari. Sebagai
contoh, kita bisa saja menamakan kelinci itu dengan
nama singa, tetapi bagaimanapun juga fisiknya tetap
kelinci.

Marilah kita kembali membaca Encyclopaedia Britannica
yang mengatakan sebagai berikut:

“Certain Latins, as early as 354, may have transferred
the birthday from January 6th to December, which was
then a Mithraic feas … or birthday of the unconquered
SUN … The Syrians and Armenians, who clung to January
6th, accused the Romans of sun worship and idolatry,
contending… that the feast of December 25th,had been
invented by disciples of Cerinthus…”

“Kemungkinan besar bangsa Latin/Roma sejak tahun 354
M. telah mengganti hari kelahiran dewa Matahari dari
tanggal 6 Januari ke 25 Desember, yang merupakan hari
kelahiran Anak dewa Mitra atau kelahiran dewa Matahari
yang tak terkalahkan. Tindakan ini mengakibatkan
orang-orang Kristen Syiria dan Armenia marah-marah.
Karena sudah terbiasa merayakan hari kelahiran Yesus
pada tanggal 6 Januari, mereka mengecam bahwa perayaan
tanggal 25 Desember itu adalah hari kelahiran Dewa
Matahari yang dipercayai oleh bangsa Romawi.
Penyusupan ajaran ini ke dalam agama Kristen,
dilakukan oleh Cerinthus…”

ASAL USUL NATAL
Kita mewarisi Natal berasal dari Gereja Katolik Roma,
dan gereja itu mendapatkannya dari kepercayaan pagan
(kafir) Politeisme, lalu dari manakah agama kafir itu
mendapatkan ajaran itu?
Dimana, kapan, dan bagaimana bentuk asli ajaran itu?

Bila kita telusuri mulai dari ayat-ayat Bible
(Alkitab) sampai pada sejarah kepercayaan bangsa
Babilonia kuno, niscaya akan ditemukan
bahwa ajaran itu berasal dari kepercayaan berhala yang
dianut oleh masyarakat Babilonia di bawah raja Nimrod
(Namrud – di masa inilah nabi Ibrahim lahir).
Jelasnya, akar kepercayaan ini tumbuh setelah
terjadi banjir besar di masa nabi Nuh.

Nimrod, cucu Ham, anak nabi Nuh, adalah pendiri sistem
kehidupan masyarakat Babilonia. Sejak itulah terdapat
dasar-dasar pemerintahan dan negara, dan sistem
ekonomi dengan cara bersaing untuk meraih keuntungan.
Nimrod inilah mendirikan menara Babel, membangun kota
Babilonia, Nineweh dan kota-kota lainnya. Dia pula
yang pertama membangun kerajan di dunia. Nama “Nimrod”
dalam bahasa Hebrew (Ibrani) berasal dari kata “Marad”
yang artinya “dia membangkang atau murtad” (Karena
bahasa Ibrani serumpun dengan bahasa Arab,
silahkan anda membandingkan kata “Marad” dengan kata
Arab “Ridda” atau “murtad”. Pen)

Dari catatan-catatan kuno, kita mengetahui perjalanan
Nimrod ini, yang mengawali pemurtadan terhadap Tuhan
dan menjadi biang manusia pembangkang di dunia sampai
saat ini. Jumlah kejahatannya amat
banyak, diantaranya, dia mengawini ibu kandungnya
sendiri yang bernama Semiramis. Setelah Nimrod
meninggal dunia, ibu yang merangkap sebagai istri
tersebut menyebarkan ajaran bahwa Roh Nimrod
tetap hidup selamanya, walaupun jasadnya telah mati.
Dia membuktikan ajarannya dengan adanya pohon
Evergreen yang tumbuh dari sebatang kayu yang mati,
yang ditafsirkan oleh Semiramis sebagai bukti
kehidupan baru bagi Nimrod yang sudah mati. Untuk
mengenang hari kelahirannya, Nimrod selalu hadir di
pohon evergreen ini dan meninggalkan bingkisan yang
digantungkan di ranting-ranting pohon
itu. 25 Desember itulah hari kelahiran Nimrod. Dan
inilah asal usul pohon Natal.

Melalui pengaruh dan pemujaannya kepada Nimrod,
Semiramis dianggap sebagai “Ratu Langit” oleh rakyat
Babilonia. Dengan berbagai julukan, akhirnya Nimrod
dipuja sebagai “Anak Suci dari Sorga”.
Melalui perjalanan sejarah dan pergantian generasi
dari masa ke masa, dari satu bangsa ke bangsa lainnya,
penyembahan berhala versi Babilonia ini berubah
menjadi Mesiah Palsu yang berupa dewa Baal,
anak dewa Matahari. Dalam sistem kepercayaan Babilonia
ini, “Ibu dan anak” (Semiramis dan Nimrod yang lahir
kembali) menjadi obyek penyembahan. Ajaran penyembahan
kepada ibu dan anak ini menyebar luas sampai di luar
Babilonia dengan bentuk dan nama yang berbeda-
beda, sesuai dengan bahasa negara-negara yang
ditempatinya. Di Mesir dewa-dewi itu bernama Isis dan
Osiris. Di Asia bernama Cybele dan Deoius. Dalam agama
Pagan Roma disebut Fortuna dan Yupiter. Bahkan
di Yunani, China, Jepang, Tibet bisa ditemukan adat
pemujaan terhadap dewi Madonna, jauh sebelum Yesus
lahir!

Sampai pada abad ke-4 dan ke-5 Masehi, ketika dunia
pagan (penyembah banyak dewa) Romawi menerima agama
baru yang disebut “Kristen,” dengan membawa adat dan
kepercayaan pagan mereka yang lama.
Akibatnya kepercayaan kepada Dewi Madonna, Ibu dan
Anak juga menjadi populer, terutama di waktu hari
Natal. Di setiap musim Natal kita selalu mendengar
lagu-lagu atau hymne: “Silent Night”
atau “Holy Night” yang sangat akrab dengan tema
pemujaan terhadap Ibu dan Anak.

Kita yang sejak lahir diwarnai oleh alam budaya
Babilonia, telah diajarkan untuk mengagungkan dan
memuliakan semua tradisi yang
berasal dari jaman jahiliyah kuno itu. Kita tidak
pernah bertanya untuk mengetahui dari manakah asal
usul adat seperti itu – Apakah ia berasal dari ajaran
Bible (Alkitab), ataukah ia berasal dari
kepercayaan penyembah berhala yang sesat?

Kita terperangah seakan-akan tidak mau menerima
kebenaran ini, karena seluruh dunia terlanjur telah
melakukannya. Lebih aneh lagi,
sebagian besar meremehkan dan mencemooh kebenaran ini.
Namun Tuhan telah berfirman kepada para utusannya yang
setia:

“Katakan dengan lantang, dan jangan menghiraukan
penghinaan mereka!
Kumandangkan suaramu seperti terompet!
Dan tunjukkan di depan umatKu tentang kesesatan
mereka!”
Memang kenyataan ini sungguh sangat mengejutkan bagi
mereka, meskipun ini adalah fakta sejarah dan
berdasarkan kebenaran dari Bibel (Alkitab).

Natal adalah acara ritual yang berasal dari masa
Babilonia kuno yang belum mengenal agama yang benar.
Tradisi ini diwariskan puluhan abad
yang lampau sampai kepada kita.

Di Mesir, ia dipercayai bahwa Dewi Isis (Dewi Langit)
melahirkan anaknya yang tunggal pada tanggal 25
Desember. Hampir semua orang-
orang penyembah berhala (paganis) di dunia waktu itu,
merayakan ulang tahun (Natal) anak dewi Isis ini jauh
sebelum kelahiran Yesus.

Dengan demikian, sudah jelas bagi kita bahwa 25
Desember itu bukanlah hari kelahiran Yesus Kristus.
Para murid Yesus dan orang- orang Kristen abad pertama
tidak pernah menyelenggarakan Natal,meskipun hanya
sekali. Tidak ada ajaran atau pun perintah perayaan
Natal di dalam Bibel. Sekali lagi, perayaan Natal atau
Christmas itu adalah ulang tahun anak dewa yang dianut
oleh para paganis, dan bukan dari ajaran Kristen.
Percaya atau tidak, terserah anda!

Upacara ini berasal dari cara-cara pemujaan yang
dikenal dengan “Chaldean Mysteries” (Misteri Kaldea)
berasal dari ajaran Semiramis, isteri Nimrod. Kemudian
adat ini dilestarikan oleh para penyembah berhala
secara turun-temurun hingga sekarang dengan wajah
baru yang disebut Kristen.

ASAL MULA POHON NATAL
Sekarang dari manakah kita mendapatkan kebiasaan
memasang pohon Natal itu? Di antara para penganut
agama Pagan kuno, pohon itu disebut “Mistletoe” yang
dipakai pada saat perayaan musim panas,
karena mereka harus memberikan persembahan suci kepada
matahari, yang telah memberikan mukjizat penyembuhan.
Kebiasaan berciuman di bawah pohon itu merupakan awal
acara di malam hari, yang dilanjutkan
dengan pesta makan dan minum sepuas-puasnya, sebagai
perayaan yang diselenggarakan untuk memperingati
kematian “Matahari Tua” dan kelahiran “Matahari Baru”
di musim panas.

Rangkaian bunga suci yang disebut “Holly Berries” juga
dipersembahkan kepada dewa Matahari. Sedangkan batang
pohon Yule dianggap sebagai wujud dari dewa matahari.
Begitu pula menyalakan
lilin yang terdapat dalam upayara Kristen hanyalah
kelanjutan dari kebiasaan kafir, sebagai tanda
penghormatan terhadap dewa matahari
yang bergeser menempati angkasa sebelah selatan.

Encyclopedia Americana menjelaskan sebagai berikut:

“The Holly, the Mistletoe, the Yule log …are relics of
pre-Christian times.”

“Rangkaian bunga Holly, pohon Mistletoe dan batang
pohon Yule…yang dipakai sebagai penghias malam Natal
adalah warisan dari zaman sebelum Kristen.”

Sedangkan buku Answer to Question yang ditulis oleh
Frederick J.Haskins menyebutkan bahwa:

“The use of Christmas wreath is believed by
authorities to be traceable to the pagan customs of
decorating buildings and places of worship at the
feast which took place at the same time as Christmas.
The Christmas tree is from Egypt, and its origin date
from a period long anterior to the Christian Era.”

“Hiasan yang dipakai pada upacara Natal adalah warisan
dari adat agama penyembah berhala (paganisme), yang
menghiasi rumah dan tempat peribadatan mereka yang
waktunya bertepatan dengan malam Natal sekarang.
Sedangkan pohon Natal berasal dari kebiasaan
Mesir Kuno, yang masanya lama sekali sebelum lahirnya
agama Kristen.”

SIAPA SANTA CLAUS/SINTERKLAS ITU?
Santa Claus bukan ajaran yang berasal dari paganisme,
tetapi juga bukan ajaran Kristen. Sinterklas ini
adalah ciptaan seorang pastur yang bernama “Santo
Nicolas” yang hidup pada abad ke empat Masehi.
Hal ini dijelaskan oleh Encyclopedia Britannica,
volume 19 halaman 648-649, edisi kesebelas, yang
berbunyi sebagai berikut:

“St. Nicholas, bishop of Myra, a saint honored by the
Greek and Latins on the 6th of December… A Legent of
his surreptitious bestowal of dowries on the three
daughters of an improverrished citizen… is said to
have originated the old custom of giving presents in
secret on the Eve of St. Nicholas (Dec.6),
subsequently
transferred to Christmas day. Hence the association of
Christmas with Santa Claus…”

“St. Nicholas, adalah seorang pastur di Myra yang amat
diagung-agungkan oleh orang-orang Yunani dan Latin
setiap tanggal 6 Desember…Legenda ini berawal dari
kebiasaannya yang suka memberikan hadiah
secara sembunyi-sembunyi kepada tiga anak wanita
miskin… untuk melestarikan kebiasaan lama dengan
memberikan hadiah secara tersembunyi itu digabungkan
ke dalam malam Natal.
Akhirnya tarkaitlah antara hari Natal dan Santa
Claus…”

Sungguh merupakan kejanggalan! Orang tua menghukum
anaknya yang berkata bohong. Tetapi di saat menjelang
Natal, mereka membohongi anak-anak dengan cerita
Sinterklas yang memberikan hadiah di saat mereka
tidur. Bukankah ini suatu keanehan, ketika
anak-anak menginjak dewasa dan mengenal kebenaran,
pasti akan beranggapan bahwa Tuhan hanyalah mitos atau
dongeng belaka?

Dengan cara ini tidak sedikit orang yang merasa
tertipu, dan mereka pun mengatakan:

“Ya, saya akan membongkar pula tentang mitos Yesus
Kristus!”
Inikah ajaran Kristen yang mengajarkan mitos dan
kebohongan kepada anak-anak? Padahal Tuhan sudah
mengatakan:

“Janganlah menjadi saksi palsu. Dan ada cara yang
menurut manusia betul, tetapi sebenarnya itu adalah ke
jalan kematian dan kesesatan.” Oleh karena itu,
upacara “Si Santa Tua” itu juga merupakan Setan.

Di dalam kitab suci telah dijelaskan sebagai berikut:

“Hal itu tidak usah mengherankan, sebab Iblis pun
menyamar sebagai malaikat terang. Jadi itu bukanlah
hal yang ganjil, jika pelayan-pelayannya menyamar
sebagai pelayan-pelayan kebenaran.
Kesudahan mereka akan setimpal dengan perbuatan
mereka.” (II Korintus 11:14)

Dari bukti-bukti nyata yang telah kita ungkap tadi
dapatlah diambil kesimpulan, bahwa perayaan Natal atau
Christmas itu bukanlah ajaran Kristen yang sebenarnya,
melainkan kebiasaan para penyembah berhala
(Paganis). Ia warisan dari kepercayaan kuno Babilonia
ribuan tahun yang lampau.

KATA BIBEL TENTANG POHON NATAL
Bagaimana Bibel berbicara tentang Natal, atau mencatat
pandangan para murid Yesus atau bapak-bapak geraja
awal.
Jawabannya sungguh sangat mengejutkan bagi kalangan
Kristen sendiri.
Sebagaimana yang dikatakan Bibel (Alkitab) pada kitab
Yeremia 10:2-4 yang berbunyi
sebagai berikut:

“Janganlah biasakan dirimu dengan tingkah langkah
bangsa-bangsa, janganlah gentar terhadap tanda-tanda
di langit, sekalipun bangsa-bangsa gentar terhadapnya.
Sebab yang diseganibangsa-bangsa adalah kesia-siaan.”

“Bukankah berhala itu pohon yang ditebang orang dari
hutan, yang dikerjakan dengan pahat oleh tangan tukang
kayu?

Orang memperindahnya dengan emas dan perak; orang
memperkuatnya dengan paku dan palu, supaya jangan
goyang.”

Itulah keterangan yang jelas dari Bibel tentang pohon
Natal. Kita dilarang mengikuti kebiasaan bangsa-bangsa
penyembah berhala. Sebab hal itu merupakan perbuatan
yang sesat menyekutukan Tuhan. Pada ayat
kelima dijelaskan bahwa:

“Pohon itu tidak bisa berbicara, dan orang harus
mengangkatnya, karena ia tidak bisa berjalan sendiri.”
“Janganlah takut kepadanya, sebab ia tidak dapat
berbuat jahat, juga tidak dapat berbuat baik.”

Sebab mereka bukanlah dewa yang harus ditakuti. Bagi
mereka yang tidak pernah membaca atau yang melupakan
ayat ini, beranggapan bahwa tidak ada larangan untuk
membuat pohon Natal. Tetapi jika telah
membacanya, apa yang harus dikatakan?

HADIAH NATAL
Acara yang paling penting dari seluruh kegiatan Natal
adalah “The Christmas Shopping Season – Musim Belanja
Natal” yang dilakukan dengan cara membeli dan tukar
menukar hadiah. Mungkin banyak orang
yang mengecam kami sambil berkata:

“Bukankah Bibel (Alkitab) telah menceritakan kepada
kita untuk ditiru? Lupakah kita kisah 3 orang dari
timur yang datang ke Betelhem untuk memberikan hadiah
ketika Yesus lahir?”

Memang, kami mengetahui cerita itu di dalam Alkitab.
Tetapi, silahkan anda melihat keterangan kami yang
mengejutkan ini. Marilah menengok sejarah asal usul
tukar menukar hadiah itu, kemudian kita
bandingkan dengan ayat Alkitab.

Pada Bibliothica Sacra, volume 12, halaman 153-155,
kita dapat membaca sebagai berikut:

“The interchange of presents between friends is alike
characteristic of Christmas and the Saturnalia, and
must have been adopted by Christians from the Pagan,
as the admonition of Tertullian plainly shows.”
“Tukar menukar hadiah antar teman di hari Natal serupa
dengan adat agama Saturnalia. Kemungkinan besar,
kebiasaan ini diadopsi oleh orang-orang Kristen dari
agama Pagan, sebagaimana yang dilakukan
oleh orang-orang Tertulianus.”

Dari bukti yang jelas ini, ternyata kebiasaan
pertukaran hadian sesama teman dan famili pada hari
Natal itu sama sekali tidak ada kaitannya dengan kisah
dalam Alkitab tersebut. Acara Natal bukanlah merayakan
ulang tahun Yesus Kristus, juga bukan untuk
menghormatinya.

Sebagai contoh, seorang teman yang sangat anda cintai
sedang merayakan ulang tahunnya. Bila ingin
membahagiakannya di hari kelahirannya itu, apakah anda
membeli hadiah untuk teman yang lain?
Membeli lagi dan tukar menukar hadiah dengan
teman-teman dan kekasih anda, tetapi tidak memberi
hadiah apa pun kepada teman yang anda cintai, yang
sedang anda rayakan hari ulang tahunnya?
Tidakkah disadari keganjilan seperti itu?

Sebuah kenyataan yang tidak bisa dipungkiri yang
selalu dilakukan oleh hampir semua orang di seluruh
dunia. Mereka menghormati “sebuah hari” – yang
sebenarnya bukan hari kelahiran Yesus Kristus – dengan
berbelanja dan membeli hadiah sebanyak-banyaknya untuk
ditukarkan kepada teman-teman dan kerabatnya. Dari
pengalaman saya selama bertahun-tahun, begitu pula
pengalaman para pastur dan pendeta;
Apabila bulan Desember tiba, hampir semua orang yang
mengaku Kristen lupa memberi hadiah kepada Yesus
Kristus yang mereka cintai.

Desember adalah bulan yang paling sulit untuk
menghidupkan ajaran Yesus. Sebab semua orang terlalu
disibukkan untuk membeli dan menukar hadiah daripada
mengingat Yesus dan menghidupkan ajarannya.
Peristiwa melupakan Yesus ini terus berlangsung sampai
bulan Januari bahkan Pebruari. Sebab mereka harus
melunasi biaya pengeluaran yang dibelanjakan pada
waktu Natal. Sehingga mereka sulit mengabdi kepada
Yesus kembali sebelum bulan Maret.

Sekarang, perhatikan apa kata Bibel tentang tiga orang
dari timur yang memberikan hadiah kepada Yesus, yang
berbunyi sebagai berikut:

“Sesudah Yesus dilahirkan di Betlehem di tanah Yudea
pada zaman raja Herodes, datanglah orang-orang Majus
dari Timur ke Yerusalem dan bertanya-tanya: “Di
manakah dia, raja orang Yahudi yang baru
dilahirkan itu? Kami telah melihat bintang-bintang di
timur dan kami datang untuk menyembah dia.” Ketika
raja Herodes mendengar tentang hal itu terkejutlah ia
beserta seluruh Yerusalem. Maka dikumpulkannya semua
imam kepala dan ahli Taurat bangsa Yahudi, lalu
dimintanya keterangan dari mereka, di mana Mesias akan
dilahirkan.
Mereka berkata kepadanya: “Di Betlehem di tanah Yudea,
karena demikianlah ada tertulis dalam kitab nabi: Dan
engkau Betlehem, tanah Yudea, engkau sekali-kali
bukanlah yang terkecil di antara mereka yang
memerintah Yudea, karena daripadamulah
akan bangkit seorang pemimpin, yang akan
menggembalakan umatKu Israel. Lalu
dengan diam-diam Herodes memanggil orang-orang Majus
itu dan dengan teliti bertanya kepada mereka, bilamana
bintang itu nampak. Kemudian ia menyuruh mereka ke
Betlehem, katanya: “Pergi dan selidikilah
dengan seksama hal-hal mengenai anak itu dan segera
sesudah kamu menemukan dia, kabarkanlah kepadaku
supaya aku pun datang menyembah
dia.” Setelah mendengar kata-kata raja itu,
berangkatlah mereka. Dan lihatlah, bintang yang mereka
lihat di timur itu mendahului mereka hingga tiba dan
berhenti di atas tempat, di mana anak itu berada.
Ketika mereka melihat bintang itu, sangat
bersukacitalah mereka.
Maka masuklah mereka ke dalam rumah itu dan melihat
anak itu bersama Maria, ibunya, lalu sujud menyembah
dia. Mereka pun membuka tempat harta bendanya dan
mempersembahkan persembahan kepadanya, yaitu
emas, kemenyan dan mur. Dan karena diperingatkan dalam
mimpi, supaya jangan kembali kepada Herodes, maka
pulanglah mereka ke negerinya melalui jalan lain.”

HADIAH UNTUK YESUS
Perhatikanlah dengan teliti. Ayat bibel tersebut
menceritakan bahwa pada mulanya orang-orang Majus
tersebut menanyakan tentang Bayi Yesus yang lahir
sebagai Raja Yahudi. Lalu, mengapa mereka memberi
hadiah kepadanya? Apakah karena hari kelahirannya?

Jawabannya adalah “Tidak.” Sebab mereka memberi hadiah
beberapa hari bahkan beberapa minggu setelah hari
kelahirannya.

Bisakah peristiwa ini dipakai pedoman bagi kita untuk
melakukan kebiasaan memberi atau saling menukar hadiah
di antara kita? Jelas tidak bisa. Sebab orang-orang
Majus tersebut tidak saling menukar hadiahnya, tetapi
mereka memberi hadiah kepada Yesus.
Bukan tukar menukar hadiah sesama teman atau
kerabatnya.

Mengapa? Silahkan anda membaca buku Adam Clarke
Commentary, volume 5, halaman 46 yang berbunyi sebagai
berikut:

“Verse 11. (They presented unto him gifts.) The people
of the east never approach the presence of kings and
great personages, without a present in their hands.
The custom is often noticed in the Old Testament, and
still prevails in the east, and in some of the newly
discored South Sea Islands.”

“Ayat 11. (Mereka memberi hadiah kepadanya.) Adalah
kebiasaan orang-orang timur, apabila menghadap raja
atau orang-orang terkemuka, mereka selalu membawa
hadiah. Kebiasaan seperti ini juga tercantum
dalam kitab Perjanjian Lama, dan masih berlaku di
timur, juga dapat ditemuka di South Sea Islands
(Kepulauan Laut Selatan).”

Dari keterangan Adam Clarke ini, jelaslah bagi kita,
bahwa peristiwa tersebut tidak bisa dipakai pedoman
atau dikaitkan dengan kebiasaan
Kristen baru dengan menukar hadiah kepada temannya
untuk menghormati ulang tahun Yesus. Sebaliknya,
mereka mengikuti adat orang-orang timur kuno yang
memberi hadiah ketika mengharap raja.
Mereka mendatangi Yesus, yang lahir sebagai Raja
Yahudi.
Sebagaimana ratu Sheba (Balqis) membawa hadiah kepada
raja Salomo (Sulaiman). Bahkan seperti sekarang ini,
para tamu negara pasti membawa hadiah atau
cindera mata apabila datang ke White House (Gedung
Putih) untuk menemui presiden.

Jadi kebiasaan menukar hadiah ini bukanlah dari ajaran
Kristen, melainkan hanya merupakan pelestarian tradisi
lama yang dilakukan oleh orang-orang pagan (penyembah
berhala). Di saat menjelang Natal
atau Christmas yang katanya untuk menghormati Kristus
dan menghidupkan ajarannya, justru orang-orang Kristen
bertambah set back (jauh) dari ajaran Yesus.

NATAL MEMULIAKAN TUHAN?
Ada dua alasan yang dipakai dasar oleh orang-orang
yang menyelenggarakan Natal, sebagai cara untuk
menghormati Yesus Kristus, meskipun mereka mengetahui
bahwa perayaan itu warisan
kepercayaan Paganisme:

1. Banyak yang mengajukan alasan: “Walaupun kita tidak
mengetahui secara tepat hari kelahiran Yesus, apa
salahnya kita memilih hari untuk merayakan ulang
tahunnya.”

Kami akan menjawab dengan pasti “Tidak bisa”. Sebab
dalam Catholic Encyclopedia (Eksiklopedi Katolik)
telah dijelaskan:

“Sinners alone, not saints, celebrate their birthday =
Hanya orang kafir, bukan orang-orang suci, yang
merayakan hari ulang tahun mereka.”

Perayaan ulang tahun bukan berasal dari agama Kristen,
melainkan dari ajaran agama kafir.

2. Ada pula yang beralasan: “Walaupun Natal itu
kebiasaan orang-orang kafir (pagan) yang menyembah
dewa matahari,tetapi kita tidak
menyembah dewa tersebut, melainkan untuk menghormati
Yesus Kristus.”

Tetapi sudahkah kita mendengarkan jawaban Tuhan
melalui firmannya yang berbunyi sebagai berikut:

“Maka hati-hatilah, supaya jangan engkau kena jerat
dan mengikuti mereka, setelah mereka dipunahkan dari
hadapanmu, dan supaya jangan engkau menanya-nanya
tentang tuhan mereka dengan berkata: “Bagaimana
bangsa-bangsa ini beribadah kepada tuhan mereka? Aku
pun mau berlaku begitu.” Jangan engkau berbuat seperti
itu terhadap Tuhanmu. Sebab
segala yang menjadi kekejian bagi Tuhan, apa yang
dibenciNya, itulah yang dilakukan mereka bagi tuhan
mereka; bahkan anak-anaknya lelaki dan anak-anaknya
perempuan dibakar mereka dengan api bagi tuhan
mereka.” (Ulangan 12:30-31)

Tuhan berfirman dengan jelas dalam kitab suciNya,
bahwa Dia tidak mau menerima dalam bentuk penyembahan
yang menyerupai atau meniru cara penyembahan
orang-orang kafir kepada tuhannya.
Cara penyembahan seperti itu sangat menjijikkan bagi
Tuhan. BagiNya, pemujaan yang demikian itu tidak layak
untukNya, melainkan hanya pantas untuk
memuja berhala. Sebagaimana yang sering kita dengar,
Tuhan melarang kita menyembahNya hanya dengan “menurut
kata hati kita sendiri.”
Yesus telah bersabda:

“Allah itu Roh, dan barang siapa yang menyembah Dia,
harus menyembahNya dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa
menghendaki penyembah-penyembah demikian.” (Yohanes
4:24)

Dan apa yang dimaksud dengan kebenaran itu? Firman
Tuhan atau Kitab suci Bibel itulah kebenaran.
Sebagainya sabda Yesus yang berbunyi
sebagai berikut:

“Kuduskanlah mereka dalam kebenaran; FirmanMu adalah
kebenaran.” (Yohanes 17:17)

Di Dalam Bibel sendiri, secara jelas Tuhan berfirman
bahwa Dia tidak mau menerima penyembahan kepadaNya,
dengan meniru cara penyembahan para penyembah berhala.
Begitu pula cara yang dipakai untuk mengagungkan dan
memuliakan Yesus Kristus.

Ingatlah sekali lagi, peringatan Yesus yang berbunyi:

“Percuma mereka beribadah kepadaku, sedangkan ajaran
yang mereja ajarkan ialah perintah manusia.”

Natal atau Christmas adalah tradisi dan ajaran
manusia, sedangkan ajaran Tuhan telah melarangnya.
Selanjutnya Yesus bersabda lagi:

“Sungguh kamu telah menolak ajaran Tuhan, tetapi kamu
mengikuti ajaran tradisimu sendiri.”

Alangkah tepat firman-firman Tuhan yang dilontarkan
kepada berjuta-juta orang yang melakukan Natal itu.
Mereka mengabaikan ajaran Tuhan. Tuhan melarang
pemujaan yang meniru adat kaum kafir penyembah
berhala, tetapi dengan senang hati kita melanggarnya.
Tuhan berfirman:

“Janganlah kamu berbuat demikian terhadap Tuhanmu.”

Ternyata hampir semua orang menganggap ringan larangan
itu. Atau karena tidak memiliki dasar agama yang kuat,
akhirnya mereka mengikuti tradisi kebanyakan
orang-orang untuk
merayakan Natal.

Jangan salah! Tuhan membiarkan anda untuk berbuat
semaunya dan tidak mengikuti petunjukNya. Tuhan
membiarkan kita tenggelam dalam keramaian dan
mengikuti tradisi orang-orang. Bahkan Dia akan
membiarkan kita berlumuran dosa. Tetapi, Tuhan juga
telah memerintahkan kita tentang datangnya hari
perhitungan atau pembalasan. Jika kamu menanam,
niscaya kamu akan memetik hasilnya.
Yesus adalah firman Tuhan yang hidup, sedangkan Bibel
adalah firman Tuhan yang tertulis. Dan kita akan
diadili sesuai dengan ketetapan
yang telah digariskan dalam firman tersebut. Kita pun
tidak bisa mengelak dan mengabaikannya.

TANPA DISADARI KITA KEMBALI KE MASA BABILONIA
Christmas atau Natal telah menjadi musim panen para
pedagang. Ia menjadi sponsor yang terus dilestarikan
oleh erusahaan advertising setiap tahun. Anda selalu
melihat Santa Claus yang dipajang di etiap toko.
Iklan-iklan menyambut dan mengajak kita
untuk merayakan “Beautiful Christmas Spirit”. Koran
yang
selalu menjual iklan, ikut menyemarakkan musim kaum
kafir tersebut di tajuk rencananya. Orang yang mudah
terbius oleh tradisi ini,
akan marah bila ditunjukkan kebenaran dari Tuhan.
Padahal
“Christmas Spirit =Semangat Natal” yang
diselenggarakan setiap tahun itu,bukanlah
untuk mengangungkan Kristus, melainkan hanya untuk
promosi barang-barang dagangan. Sebagaimana rayuan
setan lainnya, ia
dikemas sedemikian rupa sehingga tampak seperti
“Malaikat
Pembawa Terang”
yang amat indah. Setiap tahun jutaan dolar dihabiskan
begitu saja, sementara ajaran Yesus diterlantarkan.
Itulah bagian
dari sistem perekonomian Babilonia.

Sebagaimana yang telah diramalkan oleh Bibel
(Alkitab), kita merasa berada di negara Kristen,
padahal kita di Babilonia,tetapi kita
tidak menyadarinya. Ingatlah pesan Alkitab yang
berbunyi sebagai berikut:

“Pergilah kamu hai umatKu, pergilah dari padanya,
supaya kamu jangan mengambil bagian dalam
dosa-dosanya, dan supaya kamu jangan turut
ditimpa malapetaka-malapetakanya.” (Wahyu 18:4)

Oleh karena itu, di tahun ini, daripada jutaan uang
tersebut dihambur-hamburkan begitu saja, lebih baik
dibelanjakan untuk menunjang pekerjaan Tuhan.

sumber : Guyon-Yook@yahoogroups.com

~ by samsira on 4 January 2008.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: