Peranan Lumpur Dalam Pengembangan Budaya Ngrumpi

Kalau di sekitar rumah Anda ada rumah kebakaran, kemudian terjadi pertengkaran di antara anggota keluarga yang rumahnya kebakaran: apa saja yang sebaiknya kita lakukan?

Tentu saja banyak, misalnya: mencari, menemukan dan menggunakan apa saja untuk memungkinkan kebakaran itu bisa dihentikan. Ambil ember dan air, telepon pemadam kebakaran, membantu menyelamatkan apa saja yang bisa diselamatkan.

 Di luar soal kebakaran, kita bisa bekerjasama dengan Pak RT RW Pak Lurah Kiai sesepuh kampung atau siapa saja untuk meredakan pertengkaran antar anggota keluarga yang malang itu. Dari tahap merukunkan mereka, sampai menghimpun kemungkinan untuk menolong keluarga itu pasca-kebakaran. Mungkin mereka perlu tempat tinggal sementara, sesudah itu merintis kembali perekonomian rumahtangganya, membukakan peluang-peluang kerja dan seterusnya.

Tapi ada juga banyak kemungkinan lain yang bisa dilakukan selain dua di atas. Umpamanya, sambil membawa ember dan menyiramkan air, kita mengincar sisa-sisa barang apa yang bisa kita curi. Kalau barang itu kecil, ya langsung kita kantongi diam-diam. Kalau barangnya besar ya coba kita cari akal yang lebih cerdas bagaimana mengevakuasinya.

Karena keluarga yang kebakaran itu jatuh miskin mendadak, kita bisa menawarkan kepada mereka renten, pinjaman berbunga setinggi-tingginya, karena toh mereka sedang kepepet sehingga bargaining power-nya sangat rendah.

Atau coba kita lihat bersama kemungkinan yang ini: kita cari keuntungan semaksimal mungkin di seputar apapun yang menyangkut kebakaran dan pertengkaran itu. Misalnya kita keliling ke tetangga-tetangga untuk nanya-nanya pendapat mereka kira-kira apa yang menyebabkan kebakaran itu, dan siapa yang bersalah di antara anggota keluarga malang itu.

Statemen dan pernyataan para tetangga kita himpun, kita sebar kembali sehingga kita mendapatkan citra bahwa kitalah yang paling tahu, kitalah sumber utama informasi. Cara menyebar bisa dengan mendatangi setiap orang, atau kalau perlu bikin Majalah Dinding di gardu agar semua orang membacanya dengan nama-nama kita tercantum sebagai penggali dan penyampai informasi itu.

Suami istri di rumah kebakaran itu bertengkar keras, dan kita berkeliling mewawancarai siapa saja yang ada di situ:

“Apa pendapat Bapak tentang pertengkaran itu?”,
“Menurut Ibu siapa yang salah, si suami ataukah si istri?”,
“Apa benar mereka bertengkar karena si istri selingkuh?”,
“Kabarnya si suami suka melacur ya sehingga istrinya marah?” …dan ratusan pertanyaan lagi yang tidak penting benar atau salah, prasangka atau hipotesa, baik atau buruk, gejala atau karangan, kemaslahatan atau rekayasa. Tidak penting. Yang fokus adalah kepentingan kita terpenuhi dengan penyebaran isyu itu.

Atau kalau kita ada sir sama si istri, bisa kita sebar bermacam-macam keburukan si suami. Goalnya bukan soal mencari kebenaran tentang kesetiaan dan perselingkuhan, tapi pokoknya bagaimana caranya supaya terbuka kemungkinan suami istri itu nanti akan bercerai dan kita yang menggantikan kedudukan si mantan suami. Tujuan itu bisa kita laksanakan tidak hanya dengan menyebarkan isyu, tapi bisa langsung dengan mewawancarai si istri:

“Berapa kali Mbak mengalami kejadian selingkuh suami mBak?”.

Dengan pertanyaan seperti itu maka si istri yang selama ini yakin suaminya setia, menjadi curiga dan mungkin percaya bahwa ternyata suaminya adalah penyelingkuh.

Kalau perlu siapa saja yang kebetulan lewat kita interview: “Apa Sampean lewat sini karena mendengar bahwa si suami itu suka melacur ke Dolly?”

Orang-orang yang lewat itu bisa menjawab bermacam-macam. Bisa – “Wah, saya ndak tahu apa-apa, saya hanya lewat di sini”.

Atau karena kaget ia spontan menjawab: “O ya tho? Suaminya suka ke Dolly to? Wah kok tega ya?”.

Atau orang lewat yang arif menjawab: “Yaaah, segala sesuatu ya mungkin-mungkin saja…”

Demikian juga kalau di sekitar kampung Anda ada Lumpur panas muncrat: yang mana yang kita lakukan di antara berbagai kemungkinan di atas?

Kalau kita adalah koran, majalah, radio, teve, pokoknya media massa: bisa dipastikan yang kita lakukan adalah memastikan pengetahuan kita tentang kasus Lumpur itu berdasarkan prinsip klasik 5W1H.

What? Ono opo rek?
Who? Lho, sopo?
Where? Ndik endi?
When? Kapan se?
Why? Lho kok iso ilho…?

How? Yo’opo se critane kok sampek ngunu….

W-1 memuat fakta dari kata sederhana “Lumpur” sampai bagan-bagan geologis yang njlimet. Dan bisa menjadi lebih njlimet lagi karena ada berbagai cara pandang geologis, nanya geolog A jawabannya minus-X, nanya geolog B jawabannya plus-X. belum lagi kalau ada berbagai kepentingan lain yang ikut mempengaruhi si geolog, misalnya sogokan, kepentingan kerjaan, yang membuatnya rela memanipulasi pengetahuan dan ilmunya tentang fakta lumpur.

W-2 itu siapa saja? Berapa orang jumlahnya? Yang di mana? Berapa jumlahnya yang sini dan situ dan sana? Apa beda kemauan di antara mereka? Kira-kira bagaimana kemungkinannya? Yang itu kok mau anu lainnya kok menolak anu? Berapa perbandingan prosentasenya? Prospeknya bagaimana? Lho kok ada yang bertengkar? Siapa itu yang bikin statemen? Bagaimana background statemennya? Apa dia itu Ratu Adil? Lho ternyata pahlawan-pahlawan banyak tampil di sana sini? Ada data hitam atas putihnya enggak? Lho kok yang dibayar hari ini hanya segitu? Bagaimana caranya supaya tahu apa masalah sebenarnya di belakang itu? Kepada siapa harus bertanya? Siapa sebenarnya main-resource, narasumber utama, dalam seluruh masalah ini? Siapa desainernya? Di mana di-desain? Di mana terjadi perundingan-perundingan? Antar siapa saja? Pihak-pihak mana saja? Apa saja yang dicapai kemarin pagi, perkembangannya kemarin siang, hasil berikutnya di sore hari? Dst dst dst dst….

Ah, ruwet amat!

Mbok sudah seketemunya orang saja, diwawancarai, terus ditransfer ke orang lain sebanyak-banyaknya responden.

Mertuanya suami yang bertengkar sama istrinya di rumah kebakaran itu memuntahkan dubang kinangan dari mulutnya: cairan warna merah muncrat ke mana-mana…terus kita laporkan ke kawan-kawan di gardu ngrumpi: “Wuhhh! Suami istri bertengkar, pukul-pukulan, sampai berdarah-darah….”

~ by samsira on 28 December 2007.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: