Love Report, Laporan Cinta

Ada tiga orang yang mengemukakan analisis dan impressi yang sama tentang formula sumpah di Sidoardjo. Bu Janet E. Steele, seorang aktivis jurnalistik yang juga Asisten Profesor di School of Media and Public Affair, Universitas George Washington, setelah pelaksanaan sumpah Minarak dan warga lumpur di pendopo Kabupaten Sidoardjo, mengatakan: Saya sangat gembira dan kagum pada bangsa Indonesia. Efek sosial dari bencana lumpur yang sesungguhnya hampir mustahil dicarikan solusinya, bisa diselesaikan dengan formula yang seakan-akan sederhana, yang disebut sumpah. Di Amerika badai Cathrina belum bisa diselesaikan komplikasi sosial para korbannya sampai hari ini. Saya kira Cak Nun harus ke Amerika…?

Mas Ian Leonard Betts, sahabat dari London selatan, mengatakan: Masalah yang Negara dan Pemerintah tidak mampu mengatasinya setahun lebih, ini bisa diatasi hanya dengan tiga minggu ketulusan kemanusiaan. Saya rasa Indonesia secara keseluruhan perlu belajar kepada fenomena Sidoardjo untuk bercermin bagi penyelesaian multi-problem nasionalnya. Sebenarnya jenis kasus lumpur ini ada di mana-mana dari Sabang sampai Merauke, meskipun pelaku-pelakunya berbeda. Sekarang saya akan melihat Indonesia mau berendah hati menerima petunjuk Tuhan ini atau tidak?

Yang ketiga, mohon maaf, anak saya sendiri, Noe Letto. Ia sedang pentas keliling di Malaysia, tapi selalu monitoring. Tak hanya soal lumpur, karena pada dasarnya dia bukan penyanyi melainkan pelaku ngelmu lelaku. Ia bilang, soal solusi sumpah itu, dengan jenis bahasanya sendiri: “Ini mengerikan. Di jaringan otak Napoleon, Churchill, Lincoln, tak ada file itu. Modernisme dan demokrasi harus andhap asor….”

Bu Janet juga menyindir: “Tetapi saya agak heran kenapa media Indonesia tidak kagum kepada fenomena ini sehingga tidak menggali apa-apa cukup mendalam”.

Saya mendengar pernyataan ini dengan hati perih, tapi kemudian segera lenyap keperihan itu, sebab akan terbukti bahwa pers Indonesia tak sebegitu-begitu amat. Demi Allah, pelaksanaan sumpah kepada PT Minarak Lapino dan sebagian korban lumpur di Pendopo Pemkab Sidoardjo 25 Juli 2007, memberi kegembiraan dan rasa syukur yang mendalam di hati saya kepada Allah swt.

Melebihi kegembiraan tatkala mengantarkan perwakilan korban ke Cikeas 24 Juni sore hari yang magis. Semua aturan protokoler ini itu dalam aturan bertemu dengan Presiden tidak berlaku karena ada sesuatu yang jauh lebih besar dari Negara apalagi Presiden. Tidak dikontrol, tidak ditanya berapa jumlah yang bertamu, KTPnya nomer berapa, bawa senjata atau tidak dst.

Semua diterima dan masuk begitu saja. Bahkan saya ‘menyelundupkan’ beberapa wartawan. Ketahuan juga di dalam oleh satu dua petugas protokoler. Tetapi atmosfir cinta dan kepercayaan membuat semua itu tak jadi masalah. Empat Menteri omong-omong santai kepada saya sebelum masuk ruangan sambil pesan ini itu agar disampaikan kepada Presiden. Bahkan Presiden sesudah memberi ucapan selamat datang langsung berkata: “Silahkan Cak Nun saja memimpin pertemuan”.

Tetapi keajaiban dan hidayah Allah itu di kandungan hati saya kalah bersinar dibanding suasana batin saya sesudah upacara sumpah di Sidoardjo.

Sebelum hari sumpah semua ribut. Teman-teman aktivis menggugat “Orang sudah menderita kok disumpah!”. Alhamdulilllah akhirnya mereka mafhum bahwa yang bersumpah hanya yang verifikasi tanah dan bangunannya tak bisa dirumuskan secara hukum dan administrasi. Maka jalan sumpah adalah pamungkas, dan itu akmat sangat memudahkan persoalan. Bahkan belum pernah terjadi dalam sejarah dunia sekian ribu orang berada dalam konflik luasan tanah dan itu menyangkut uang trilyunan rupiah.

Seharusnya wajar terjadi konflik, bentrok atau bahkan perang. Tapi yang Sidoardjo ini bisa sangat mudah diselesaikan dengan formula yang melibatkan Tuhan dan kesungguhan hati atau kejujuran moral para pelaku konflik. Pak Bupati Win mengatakan “Mestinya ini masuk rekor MURI”. Bahkan rekor dunia.

Warga juga menggugat: “Kenapa hanya warga yang disumpah? Minarak juga harus!”. “Kenapa Depag yang melaksanakan sumpah? Apa Depag bertanggung jawab kalau sesudah sumpah nanti ternyata Minarak tidak membayar juga?”

Saya telan semua itu dengan tidak berkomentar, tapi diam-diam saya laksanakan. Menjelang acara sumpah semua pihak rapat dengan Pak Bupati dan saya tanya kepada teman-teman Depag: “Mohon saya dikasih tahu bagaimana draft yang disusun oleh Depag untuk acara sumpah….”. Beliau menjawab: “Kami tawadlu’ saja kepada panduan Cak Nun”.

Maka mudah segala sesuatunya. Tanpa kasih tahu siapa-siapa, sebelum warga bersumpah, mendadak saya rangkul Direktur Operasional PT Minarak Lapindo maju ke depan warga, saya tanya sambil satu tangan saya merangkul pundaknya: “Tolong ungkapkan kepada warga apa yang akan dilakukan oleh Minarak”.

Beliau menjawab dengan tegas: “Kami akan membayar sesuai dengan klaim warga yang sudah bersumpah”. Saya meminta kalimat itu diulang, dan beliau ulang dengan suara yang lebih keras.

Warga bertepuk tangan dan meneriakkan “Allahu Akbar”, kemudian saya minta baca alfatihah.

Saya mengkonfirmasikan kepada warga: “Apakah kalimat Pak Wiwid itu merupakan sumpah Minarak?”

“Sumpah!” teriak warga.
“Allahu Akbar!” saya teriak.
“Allahu Akbar!” warga berteriak.

Warga menangis. Berulang-ulang menangis.

Kemudian teman-teman dari Depag melaksanakan tugas mereka, juga para pimpinan Kristen Protestan, Katolik, Budha, Hindu. Semua dimudahkan oleh Allah, karena modal kita adalah barang-barang rohaniah milik Allah juga: tawadlu, ikhlas, lillahi ta’ala, saling mencintai, saling berupaya mempercayai.

Para wartawan yang hadir di pendopo Kabupaten Sidoardjo hari itu wajah mereka berbeda. Siang itu cahaya hidayah Allah menaburi Sidoardjo, dan pantulan cahaya itu dari ekspressi kaum jurnalis sangat membanggakan hati saya. Tak ada satu jam sesudah usai sumpah saya mendapat laporan: “News tentang sumpah alhamdulillah sehat, adem tentrem obyektif, Cak”. “Beritane X tentang sumpah uwaaapik Cak, mugo-mugo sakteruse dituntun Allah ngunu iku…”

Seorang wartawan Katholik mengirim SMS intrinsik kepada saya: “Di dalam maiyah tdk ada kebencian. Maiyah tidak punya ilmu tentang perang, tidak punya pengetahuan tentang pertengkaran. Maiyah hanya punya mata cinta. Serangkaian kata-kata cak nun tersebut menjadi bekal dalam hidup saya. Terima kasih cak.”

Sejak dari Cikeas, semakin jelas posisi saya bukanlah pembela korban lumpur. Rakyat sendiri mengatakan bahwa di antara rakyat juga ada yang nakal. Saya tidak membela 20%, 50%, 100%, relokasi, SBY, Pemerintah sampai Bupati dan siapapun yang terkait.

Posisi saya adalah menjalankan kebenaran dan cinta yang saya yakini dan saya check & recheck terus menerus. Wartawan sangat tepat ketika menyebut ini adalah mediasi. Peran Bangbang Wetan, Jam’iyah Maiyah dan saya adalah mediator. Berdiri tepat di titik tengah. Tiap hari saya mendapat laporan cinta dan komunikasi sangat intensif dari dan dengan para korban, dari Minarak, dari Cikeas, BPLS, Menkominfo, Mensos dan semua yang terkait. ****

~ by samsira on 28 December 2007.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: