Lapindo Dan Cinta Dan Letto

Dalam bulan Juli, atau Agustus, Letto harus datang ke daerah penduduk korban Lumpur Lapindo di Sidoardjo. Bersilaturahmi, berdialog, bernyanyi, berbagi duka dan harapan.

Kok harus?

Ketika sejumlah korban mengatakan kepada saya apakah Letto pada suatu saat bisa mengunjungi masyarakat korban Lumpur, saya menjawab: “Harus!”

Letto, grup band dari ndeso Yogya, itu bermarkas di rumah saya, Kadipiro Yogyakarta, bersama kelompok lain: KiaiKanjeng, studio musik GeeSe, web bandit.com , Progress, berangkai dengan komplek lain yang berisi TKIT ‘Alhamdulillah’, Pabrik Plastik ‘Alhamdulillah’ dan lain-lain. Masing-masing kelompok itu mandiri, dibatasi oleh garis batas managemen yang tegas, tetapi bernaung di rumah cinta dan moral yang sama.

Letto memiliki organisasinya sendiri, otoritas sejarahnya sendiri, proses kreatifnya sendiri, administrasi dan mekanisme sendiri tanpa sedikitpun dipengaruhi atau mempengaruhi kelompok-kelompok lainnya. Tidak satu unsure dari notasi lagu atau lyric Letto yang dipengaruhi oleh siapapun. Ketika ditanya apakah Emha turut memberi pengaruh kepada syair-syairnya Noe, saya menjawab: “Noe menciptakan cukup banyak syair-syair lagu untuk Kiai Kanjeng, dan Kiai Kanjeng atau Emha tidak menciptakan satu patah katapun untuk lyric lagunya Letto”.

Lha kok Letto harus hadir ke korban Lumpur?

Karena Tuhan menyuruh Letto menjadi anak saya. Sehingga saya memiliki 0,1% hak prerogatif untuk pada saat-saat darurat menerapkan sesuatu kepada Letto. Keharusan Letto datang bersilaturahmi ke korban lumpur dibangun oleh 0,1% hak prerogative saya plus 99,9% nilai cinta dan akhlak sosial.

Harap dicatat bahwa Letto sendiri belum saya kasih tahu dan belum tahu apa-apa tentang keharusan yang harus disangganya yang saya tulis ini. Karena Letto, juga Emha, juga Lapindo, Minarak, juga SBY, Gubernur Jatim, Bupati Sidoardjo, BPLS, BPN dan siapapun: derajatnya lebih rendah dibanding nilai cinta dan akhlak sosial. Di hadapan penderitaan para korban Lumpur, siapa saja wajib patuh kepada nilai cinta dan akhlak sosial. Kecuali jika yang dipilih adalah kehancuran, cepat atau lambat, di hari esok. Kecuali kalau yang dipilih adalah “abtar” (inna syani-aka huwal abtar), buntung kakinya, petor kakinya, besok atau lusa hari. Entah kaki jasadnya atau kaki perusahannya atau kaki kariernya atau kaki ridha Allah kepadanya.

Apakah engkau cinta kepada korban lumpur dan patuh kepada akhlak sosial dalam berurusan dengan mereka? Ya, andaipun tak ada Lumpur muncrat dan membanjiri kampong-kampung mereka, tetap kita mencinta mereka dan patuh kepada akhlak sosial dalam persambungan hidup dengan mereka. Apalagi mereka sedemikian menderita saat ini karena lautan Lumpur.

Apakah engkau mencintai korban lumpur yang memilih bersedia menerima ganti rugi awal 20%?
Ya!

Apakah engkau mencintai korban lumpur yang memilih menerima ganti rugi 50%?
Ya!

Apakah engkau mencintai korban Lumpur yang memilih relokasi?
Ya. Aku juga mencintai 1.700 buruh dari 26 pabrik yang tenggelam, juga mencintai pimpinan-pimpinan mereka, juga mencinta semua makhluk yang ada dalam lingkup bencana Lumpur.

Apakah mencinta korban lumpur sama dengan membenci sumber lumpur?
Tidak!

Dalam hidup ini tidak ada apapun dan siapapun yang bukan makhluk Tuhan. Siapa berani dianggap membenci Tuhan, karena membenci makhluk-Nya?

Jadi apakah engkau membenci Lapindo dan orang-orangnya?
Tidak!

Apakah engkau mencintai Lapindo dan orang-orangnya?
Ya.

Aku mencintai semuanya. Aku ingin duduk sejajar bersama mereka semua, dilingkupi cinta dan keadilan. Aku ingin mendengar bahwa mereka semua memiliki satu keinginan yang sama: menyelesaikan masalah menuju suatu situasi yang halal bilhalal, thayyib bilthayyib, barokah bilbarokah.

Hanya saja aku tidak memiliki menyapa orang yang tidak menyapa saya, karena aku tidak pernah meyakini bahwa aku pantas dicintai oleh siapa-siapa. Hanya saja aku tidak berani menjalankan amanat atau mandat saudara-saudaraku yang tidak memberiku amanat atau mandat. Aku hanya berani melakukan sesuatu sebatas hak yang dilimpahkan kepadaku.

Apakah engkau setuju kepada yang 20% atau yang 50% atau yang relokasi?

Pendapatku tidak penting, tidak relevan dan tidak realistis. Aku bukan korban lumpur, sehingga setinggi apapun ilmuku dan sedahsyat apapun kecerdasan pikiranku: tak akan mampu melahirkan pendapat se-sejati pendapat para korban sendiri.

Jangankan soal derita oleh Lumpur, sedangkan aku tidak berhak menilai lombok tanpa mulutku sendiri nyeklus lombok. Aku bisa mencoba menarik becak 3-4 jam sehari selama sebulan penuh, tetapi ilmu dan penghayatanku tentang becak tak ada seperseribu disbanding penghayatan tukang becak yang sungguh-sungguh tukang becak.

Jadi aku cinta kepada semuanya, dan tidak sanggup menjangkau wilayah pendapat mana yang lebih benar, yang 20 atau 50 atau relokasi. Dan lagi 100% itu bukan hakku. Yang aku mungkin bisa lakukan sangatlah sederhana: yakni mengantarkan informasi, membawa pesan, menyampaikan amanat.

Aku tidak punya kekuatan apa-apa, sehingga tidak memiliki kapasitas untuk menjanjikan apapun kepada yang menyuruh saya. Saya seorang manula, yang sudah tidak dianggep oleh konstelasi, sudah fade out dari pentas sejarah, sudah tersingkir dan tenggelam.

Yang saya lakukan sekedar seperti Anda semua menjalankan shalat: berwudlu dari pamrih pribadi, nafsu bermain politik dan kapitalisasi. Sebab aku seorang pengecut. Aku takut Tuhan akan menilaiku sebagai menghina-Nya dengan menuduh-Nya kurang menganugerahiku rizki sehingga aku mencuri.

Kemudian takbiratul ihram…bersetia menjalani rakaat demi rakaat dengan hati seorang hamba Allah, hamba yang lemah dan hina dina.

~ by samsira on 28 December 2007.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: