Kiai Bejo, Kiai Untung, Kiai Hoki

KEMUDIAN konteks kesombongan orang pandai. Tak ada subyek yang lebih nyata yang selalu diasosiasikan sebagai golongan penyandang kebodohan, melebihi rakyat. Rakyat adalah orang bodoh, karena setiap kali orang menjadi pandai, ia menjumpai dirinya bukan rakyat lagi.

Hampir setiap orang yang diam-diam menggolongkan dirinya sebagai orang pandai, merancang diri untuk melakukan pemandaian atas rakyat. Pejabat memberi penerangan terhadap kegelapan dan kebodohan rakyat. Calon-calon sarjana mengajari rakyat selama kuliah kerja nyata. Kaum intelektual menyebar aneka wacana untuk mendobrak kesempitan wawasan rakyat. Duta-duta informasi dan komunikasi menabur ilmu dan pengetahuan agar rakyat melek dunia.

Bahkan mahasiswa masuk kuliah hari pertama bisa terjebak anggapan diam-diam di dalam dirinya, mulai hari itu ia melangkah meninggalkan kebodohan rakyat yang kemarin masih jadi bagian darinya. Kapan ada rezim tumbang, harus mahasiswa yang direkognasi sebagai pelaku utama. Sebab, agent of change mustahil pelakunya adalah rakyat.

DAN akhirnya yang paling khianat, yang paling menyakitkan hati, yang mungkin Tuhan pun tidak rela: adalah tradisi kesombongan orang saleh.

Rakyat dikasih pengajian tiap hari seakan-akan rakyatlah yang paling jahat hatinya dan paling kotor hidupnya. Malam rakyat diulamai, pagi mereka dipastori, siang mereka dipendetai, sore mereka dibegawani. Rakyat dibimbing agar beriman seakan-akan rakyat adalah siswa-siswi taman kanak-kanak. Rakyat disantuni, diajari bagaimana menata kalbu, padahal tak ada pakar penanggung derita yang tingkat keahlian dan kemampuannya melebihi rakyat.

Jika Quran menyebut “berimanlah kepada Allah”, yang dituju adalah rakyat, bukan ustadz atau ulama. “Wahai orang-orang kafir”-itu kemungkinan besar rakyat, mustahil Pak Kiai. “Dekatkanlah dirimu kepada orang saleh”- maksud Tuhan tentu hendaknya rakyat mendekat-dekat kepada ustadz, bukan ustadz mendekat-dekat dan belajar kepada umat.

Bahkan dai, mubalig, ustadz, ulama, dijunjung-junjung, namun dengan parameter industri dan ukuran feodalisme, untuk akhirnya ditertawakan dan ditinggalkan rakyat yang memiliki feeling dan jenis pengetahuan sendiri tentang siapa ulama siapa pencoleng, siapa ustadz siapa bakul pasar.

~ by samsira on 4 December 2007.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: