Tidak Adanya Sinergi Kaum Pejuang

Namun bisa dimaklumi jika sebagian besar dari indzar kita itu tidak dikover, tidak dimuat di media cetak atau ditayangkan di televisi — karena dua hal.
Yang pertama, antara lain karena kita semua ini tak lain tak bukan hanyalah wong cilik, orang kecil dan rakyat biasa.

Rakyat biasa tidak dianggap memiliki kompetensi untuk berpendapat apapun, karena rakyat bukan ahli atau pakar.
Rakyat kecil tidak memenuhi pedoman name makes news — bahwa yang bisa diberitakan hanya yang punya nama.
Yang kedua, media diikat oleh batas-batas politik dan kekuasaan. Maka setiap bahan dari nara sumber harus bukan sesuatu yang membuat media tidak berani memberitakannya. Sedangkan kebanyakan indzar kita justru bermuatan hal-hal yang tabu bagi budaya perpolitikan negara kita. Meskipun kita `punya nama’, tapi untuk dimuat di media, harus yang tidak berada di luar batas kesanggupan politik mereka.
Permasalahannya bukan terletak pada eksistensi kita, juga tidak pada diekspose atau tidaknya indzar dan upaya-upaya pemberdayaan itu. Melainkan pada fisibilitas atau penempuhan kemungkinan apakah usaha-usaha pembangunan rakyat di wilayah dan segmen kita bisa bersinergi dengan upaya-upaya yang sama di wilayah yang lain, sehingga menjadi suatu kekuatan sejarah yang lebih nyata.
Sebagaimana kita syukuri cukup banyaknya upaya-upaya gerakan penegak keadilan di berbagai tempat, segmen dan strata —terutama di kampus-kampus mahasiswa dan di wilayah-wilayah lain— dalam bentuk-bentuk yang bermacam-macam, dari yang paling intelektual hingga yang menggunakan `bahasa rakyat lapar’. Namun semua itu harus kita pandang dengan keprihatinan karena belum bisa diciptakan sinergi komitmen, jaringan strategi, serta kebersamaan nurani. Sehingga segala sesuatunya selalu masih bersifat sesaat, berskala lokal dan berirama sporadis.
Sampai sejauh inipun kemungkinan kinerja gerakan anti-kedhaliman itu tidak semakin cerah. Dan yang kemudian kita harapkan dari media massa tidaklah muluk-muluk : bukan menuntut media massa menjadi rekan juang, menjadi partner dalam proses perubahan, melainkan cukup jika media massa sadar untuk tidak terlalu merugikan proses perjuangan rakyat banyak, terutama yang menyangkut keadilan informasi.

~ by samsira on 30 November 2007.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: