Semoga Berbeda Sepanjang Masa

YANG saya benar-benar merasa kesulitan adalah menjawab SMS: “Idul Fitri yang benar tanggal 12 atau 13 Oktober?”Terlebih-lebih lagi, “CN ikut yang mana?”

Lebih sulit dibanding SMS minta modal dalam jumlah yang jauh di atas kemampuan keuangan saya. Kalau SMS soal stres, problem keluarga, pekerjaan, apalagi minta nama untuk bayinya, relatif bisa saya jawab, meskipun tidak memuaskan para pengirim SMS. Kalau minta nama, sudah lebih 3.000-an orang, masih bisa saya atasi, dan belum pernah saya kasih bunyi nama yang sudah pernah dipakai orang.

Sekurang-kurangnya saya belum pernah menemukan bahwa orang pernah memakainya. Sedangkan mengenai bab stres,kalau sekian kali penanya tak bisa menerima jawaban analitik,misalnya karena dia sebenarnya sudah punya jenis terapinya sendiri dan sekadar mau mendengar kalimat dengan meminjam mulut saya, biasanya saya kasih jawaban pamungkas: “Cara sederhana agar tidak stres,ya jangan stres”.

Kalau masih mengejar lagi, saya masih mau menjelaskan: “Segala makhluk dalam kehidupan ini hanya bisa hidup kalau ada ruang dan waktu yang tersedia baginya. Stres itu termasuk makhluk iseng.Kalau kau tak kasih ruang dan waktu baginya, dia tak bisa hidup….” Kalau soal pekerjaan, banyak wacana untuk mendiskusikan. Juga problem rumah tangga. Kalau bab modal, jika urusannya bayar rumah sakit, ya tinggal kita datangi rumah sakitnya.

Kalau di kampung, kita datangi kampungnya, cari RT/RW/RK, takmir masjid, atau tanya sanak familinya di mana. Kalau terlalu jauh di luar jangkauan saya, ya saya kirim daftar lembaga-lem- baga yang mungkin relevan untuk kebutuhannya. Mungkin Depsos, Dompet Dhuafa, organisasi-organisasi Amil Zakat, LSM-LSM pejuang pembela penderitaan rakyat. Atau kalau dia orang NU,yasaya kirim alamat PBNU. Kalau Muhammadiyah, saya kirim alamat PP Muhammadiyah.

Kalau dia dulu pilih SBY waktu pemilu, ya saya kirim alamat Cikeas. Dan beratus contoh lainnya. Yang benar-benar belum bisa saya jawab sampai saya tulis ini adalah pertanyaan tentang kapan Idul Fitri. Dalam pelaksanaan agama, ada tiga jalan: Ijtihad, Ittiba; dan Taqlid. Ijtihad itu perjuangan pemikiran, dengan segala perangkat yang diperlukan, untuk mencari, mendata, menganalisis, menyimpulkan, dan mengambil putusan. Hal kapan awal puasa dan kapan Idul Fitri, orang berijtihad dengan berbagai cara. Ada yang hisab: melakukan perhitungan ilmiah.

Ada yang ru’yah, melihat secara langsung dan lebih percaya kepada empirisme kasatmata. Mungkin ada juga Ru’yatul Hisab, penglihatan langsung terhadap hasil-hasil perhitungan ilmiah. Ada juga Hisabur-Ru’yah, melakukan perhitungan terhadap hasil penglihatan. Aslinya,kedua yang terakhir itu tidak ada pelakunya. Saya tuturkan sekadar untuk mengisi kebingungan melihat Partai Hisab dan Partai Ru’yah tidak pernah bikin aman umat sesudah 14 abad mesin Islam dijalankan.

Menkominfo Muhamad Nuh sebelum Ramadan tempo hari mengemukakan dalam sejumlah forum saya di berbagai daerah, bahwa beliau memprakarsai penggunaan suatu jenis teknologi untuk melihat hilal secara langsung, disiarkan langsung melalui televisi nasional, sehingga setiap orang menyaksikan sendiri, mengalami Hilal dengan pandangan matanya dan merasa seakan-akan ia mengambil putusan sendiri kapan Hari Raya tanpa menunggu atau tergantung Muhammadiyah, NU atau pemerintah. Wallahua’lam bagaimana nasib rencana beliau itu.

Dalam perjalanan acara Ramadan beliau bersama Kiai Kanjeng di Bawean dan Gunung Kidul, tak ada Pak Nuh kemukakan soal itu. Sampai kemarin malam di Gorontalo, juga tidak ada update wacana tentang itu. Dalam acara di lapangan depan kantor gubernuran Gorontalo bersama Fadel “Sultan Gorontalo” Muhammad, terpaksa saya menjawab dengan doa: “Ya,Allah yang Mahaluas Hati,hendaklah Engkau pelihara perbedaan ketentuan tentang kapan Idul Fitri di antara sejumlah golongan kaum muslimin di negeri indah kami ini.Jangan sampai mereka bersatu, ya Allah, demi memelihara kehangatan pergaulan di antara kami semua.

Kalau perlu ada 30 pendapat yang saling berbeda tentang Hari Raya ya Allah, sehingga umat Islam berhari raya tiap hari selama sebulan….” Ittiba’ adalah perbuatan mengikuti suatu putusan, namun dengan pemahaman yang memadai tentang pilihannya itu. Sementara Taqlid adalah mengikuti suatu putusan, tanpa memahami apa yang dipilihnya.

Bisa tidak memahami, bisa tidak peduli, bisa dengan anggapan bahwa karena tafsir agama itu selama ini diumumkan sebagai hak prerogatif ulama, maka biarkan ulama kasih tafsir dan fatwa kapan Idul Fitri tiba: kita tinggal pilih salah satu yang kita mantap, yang enak, atau yang apa pun terserah pertimbangan subjektif setiap orang. Misalnya ada yang berpendapat: pilih yang duluan saja.

Kalau ternyata keliru, ya nanti bayar puasa sekali. Kalau pilih yang belakangan,nggak ada puasa yang perlu dibayar,tapi justru salah dan berdosa karena kita masih puasa ketika Idul Fitri sudah tiba. Kemudian ada yang bertanya kepada saya: “Kapan Idul Fitri?” Jawaban yang ada di pikiran saya, namun belum saya SMS-kan adalah: “Emangnya siapa saya,sehingga berhak menjawab itu? Apakah aku seorang Mufassir? Apakah aku panutan umat? Apakah aku panutanmu? Kenapa di bidang Hari Raya saja engkau mau menganut aku? (*)

~ by samsira on 30 November 2007.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: