Menuju Pengadilan Soeharto

Kalau kita ingin mengadili Pak Harto, saya ikut urun pendapat tentang jalan menuju realisasinya. Tapi kalau yang kita maui hanya membencinya, mengutuknya, ngrasani dari jauh, memaki dari belakang, cemberut dan uring-uringan terus seperti “janda patah hati”, perkenankan saya tidak ikut rombongan.

Saya tidak berani membenci hamba Allah. Saya berkewajiban mencintai sesama makhluk. Mencintai itu, mengingatkan kalau ia salah dan membenarkan kalau ia benar. Bahasa ustadznya amar ma`ruf nahi munkar. Anak kucing terperosok masuk parit saja kita ambil, kita mandiin, dan kita kasih makan. Apalagi ada hamba Allah yang terperosok ke parit kezaliman: kita wajib turun ke parit itu dan mengajaknya ber-thaharah, menyucikan diri dari kotoran. Ya, hanya itu tugas cinta manusia.

Dulu sewaktu berkuasa, Pak Harto membuat banyak kesalahan, orang tiarap sembunyi di liang-liang. Sekarang sesudah ia tak berkuasa, orang melarangnya menyadari kesalahan. Atau mungkin Anda punya rencana lain sebagai patriot bangsa yang penuh keberanian dan kejantanan: daripada bertele-tele, kita himpun pasukan, kita serbu Cendana dan kita musnahkan?

Sampai hari ini, Jaksa Agung dan kepolisian tidak menunjukkan kemajuan bahwa mereka akan bisa menyeret Pak Harto ke pengadilan. Seandainya saya Jaksa Agung atau Kapolri, atau petugas hukum apa pun, tak bisa jamin juga apakah bisa menyeret Pak Harto ke pengadilan. Masalah hukum adalah masalah fakta, bukan opini, bukan subjektivisme kebencian yang mengharapkan kehancuran seseorang.

Orang berkata: “Mestinya Soeharto yang mengakui semua kesalahannya, menuturkan berapa korupsinya….” Saya coba jawab. “Di dunia ini tidak ada polisi yang duduk di kantor sambil merokok, lantas para maling berdatangan, antre dan melaporkan pencurian mereka masing-masing. Tidak ada kisah dalam sejarah, sebodoh apa pun. Polisi harus terjun ke lapangan mencari maling dan menyidik pelanggaran hukumnya.”

Semua orang merumuskan Pak Harto itu Raja KKN. Mari berpikir jernih, kita masuki satu per satu: korupsi, kolusi, nepotisme. Korupsi itu permalingan, kalau jelas faktanya, tinggal diproses hukum. Kolusi itu kongkalikong untuk maling: ini gampang-gampang susah. Kalau kongkalikong itu melanggar pasal hukum, tinggal dijaring. Sementara nepotisme tak bisa diapa-apakan, sebab itu masalah budaya. Hukuman kita terbatas pada ketidaksetujuan, paling jauh mengutuk. Kecuali jika nepotisme memproduk tindakan permalingan: yang dijaring hukum bukan nepotismenya, melainkan permalingannya.

Yang dilakukan Jaksa Agung dan kepolisian ada dua kemungkinan. Pertama, sampai sekarang mereka memang belum menemukan sesuatu pada Pak Harto yang bisa membuatnya menjadi tersangka. Kedua, sudah ada, tapi sengaja diambangkan karena posisi dilematis para mantan pekerja Orde Baru yang sekarang menjadi pekerja Orde Reformasi.

Semua orang yang punya akal mengerti bahwa kesalahan Orba adalah kesalahan kolektif, dan mustahil kesalahan individual seorang Soeharto. Kalau Soeharto dipenjarakan karena suatu pasal, maka betapa banyak lainnya yang juga melakukan hal yang sama, sendiri-sendiri ataupun bersama Soeharto. Jadi, kalau Soeharto masuk bui, banyak mantan menterinya juga masuk bui, pimpinan ABRI juga masuk bui, manajer di perusahaan anak-anak Soeharto juga masuk bui.

Tentu Pak Harto sudah bikin buku yang berisi deretan maling-maling yang dulu berkiprah bersamanya. Ibaratnya, Pak Harto tinggal “buka resleting celananya”. Kalau itu dilakukan, maka aib sangat banyak orang akan ketahuan semuanya. Dan di antara semua itu, yang paling salah adalah MPR, yang dulu mempresidenkan Soeharto dan mengesahkan setiap pertanggungjawaban kepresidenannya.

Kalau kita pakai wacana lain, begini: Pak Harto melakukan beberapa jenis kesalahan. Ada kesalahan moral-kultural, dan ini tak bisa diapa-apakan. Ada kesalahan yuridis, dan ini harus disidik faktanya. Ada juga kesalahan “ilmiah”, misalnya tentang policy pembangunan yang ia terapkan, yang bisa tidak disetujui oleh orang lain. Nah, dalam konteks terakhir inilah yang oleh Pak Soelastomo dikatakan bahwa Soeharto tidak merasa bersalah.

Masalahnya sekarang, tak mudah menjaring Soeharto menjadi tersangka, terutama semua kasus yang kita hipotesiskan sebagai korupsi itu mungkin absah secara legal-formal. Surat-menyuratnya beres dan konstitusional.

Maka logikanya, sistemnya yang salah, etika administratif-birokratisnya yang salah, konstitusinya yang salah! Mungkin banyak keppres atau PP yang melanggar prinsip UUD ・5, dan di situlah para koruptor Orba berlindung. Katakanlah begini, selama Orba banyak “hadis palsu” yang bertentangan dengan “Quran”. Di dalam “hadis palsu” itu para maling selamat dari jaring hukum.

Jadi, hanya ada satu jalan: kalau memang Habibie seorang reformis, atau siapa pun nanti presidennya, ia harus melakukan istimbath, melahirkan peraturan baru yang menganulir “hadis palsu” yang melindungi para koruptor itu. Baru ada jalan untuk mengadili Soeharto. Dan Pak Harto sendiri pun menyatakan bahwa ia mau diadili dan diproses menurut hukum. Kalau Anda merasa rakyat perlu tahu: ada saya simpan ikrar husnul khatimah-nya Pak Harto yang ia sumpahkan kepada Allah, 14 Februari 1999 di rumahnya, yang antara lain menyebut kepasrahannya untuk diadili oleh hukum negara.

Tapi supaya Anda tidak terus tersiksa karena memprasangkai saya melindungi Pak Harto, mari kita ketemu. Mari bersumpah Quran, sumpah kitab suci apa pun, termasuk sumpah pocong: kalau saya melindungi Pak Harto dari tangan hukum, kalau dia membayar saya sepeser saja pun, saya siap diazab Allah. Terserah apa yang akan terjadi. Tapi kalau di mata Allah saya tidak demikian, saya mohon ampunan kepada-Nya bagi setiap pemfitnah.

Ini saya lakukan semata-mata demi terjadi keadilan antara Pak Harto dan rakyat Indonesia atau Anda semua.

~ by samsira on 30 November 2007.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: