MENJALANI HIDUP SECARA BAROKAH

Kita beristighfar, bertawadlu’ kepada Allah dan bertafakur di tengah hari-hari yang sangat krisis.
Kita merenung di tengah masa yang menjungkalkan kita semua ke dalam jurang terdalam dari kesulitan hidup.
Kita menundukkan muka di tengah posisi kebangsaan kita yang penuh kepapaan dan ketidakberdayaan, sehingga membutuhkan belas kasihan dari berbagai penjuru dunia.
Kita berusaha keras untuk melenyapkan sikap angkuh, di tengah bukti nyata sejarah bahwa kita adalah bangsa yang semakin tidak mandiri.
Kesulitan, kepapaan, ketidakberdayaan dan ketidakmandirian itulah barangkali yang dimaksud dengan `tinggal landas’, yang selama bertahun-tahun dulu digembar-gemborkan oleh pemerintah kita, yang merupakan pokok isi pidato dari presiden sampai camat dan lurah.

Dan sesama jamaah Padang Bulan, sesama ummat dlu’afa (yang lemah), sesama mustadl’afin (yang dilemahkan), sesama bangsa Indonesia — berdasarkan firman tawashou bil-haq wa tawashou bis-shobr (saling mewasiatkan kebenaran dan kesabaran) serta ya ayyuhal mudatstsir qum fa andzir (engkau yang ber’selimut’, bangun dan peringatkan) — kita saling berpesan.

~ by samsira on 30 November 2007.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: