Mempertahankan Hidup Hari Ini Juga

Bahwa sekarang juga kita harus tetap memasak nasi untuk keluarga kita masing-masing.
Bahwa siapapun presiden, wakil presiden dan bagaimana susunan kabinetnya yang baru: tetap saja sekarang juga kita harus cuthik geni, kompor harus menyala dan bukan menanak batu, harus mempertahankan segala keperluan pokok penghidupan rumah tangga masing-masing.

Bahwa Pemilu dan Sidang Umum MPR itu konkret dan relevan atau tidak terhadap kedaulatan rakyat, tetap saja sekarang juga anak-anak harus dididik dan diperkembangkan ke arah yang manusiawi dan diridhoi Allah.
Bahwa pemerintah yang kita gaji ini bertanggung jawab dan menjamin atau tidak atas nasib kita, atas kesejahteraan keluarga kita: tetap saja sekarang juga semua dan masing-masing anggota keluarga kita harus bekerja keras, memenuhi seluruh amanah Allah atas kewajiban hidup kita yang merupakan rahmatNya.
Kalau di tengah itu semua ada yang bertanya kepada kita: `Apakah Anda setuju suksesi atau pergantian kekuasaan di negeri ini?’, serta `Siapakah tokoh yang Anda kehendaki untuk menjadi pemimpin baru bangsa kita ini’? — kita menjawab: “Masalahnya tidak terletak pada apakah aku setuju atau tidak, sebab aku tidak pernah dianggap penting di negeri ini.
Letak masalahnya adalah pada keharusan sunnah bagi semua hamba Allah agar senantiasa menyelenggarakan proses pemuaian, pengembangan, perombakan dan pergantian — menuju keadaan yang lebih baik. Keharusan sunnah itu lebih mendesak lagi jika perubahan dan pergantian yang harus dilakukan adalah dari keadaan tidak baik menjadi keadaan yang baik. Terutama jika keadaan yang tidak baik itu berkaitan dengan nasib orang senegara, dengan tidak tegaknya keadilan sosial, tidak terpenuhinya kesejahteraan yang merata, tidak berpihaknya hukum kepada kaum lemah, serta buntunya pelaksanaan rahmatan lil’alamin dan demokrasi”.
“Adapun siapakah orang yang sebaiknya menjadi pemimpin baru, kita jawab tidak melalui kata `siapa’, melainkan kata `bagaimana’ dan `apa’. Artinya, terserah siapapun namanya, yang penting apakah ia memiliki iktikad, kejujuran, ilmu dan ketrampilan untuk menyelesaikan krisis-krisis besar yang sedang menimpa bangsa Indonesia”.

~ by samsira on 30 November 2007.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: