JIHAD DEMOKRASI SEJATI

Untuk para pejuang Proklamasi, 29 Maret 2007

Kiranya semakin jelas beberapa ciri khas kepemimpinan Negara kita:
1. Sawa-un ‘alaihim a-andzartahum am lam tundzirhum, la yu~minun.
2. Khotamallohu ‘ala qulubihim wa ‘ala sam’ihim wa’ala abshorihim ghisyawah (walahum ‘adzabun ‘adhim)
3. Fi qulubihim marodlun fa zadahumullohu marodlo (walahum ‘adzabun alimun bima kanu yakdzibun
4. Innahum humul mufsiduna walakin-la yasy’urun.
5. Shummun bukmun ‘umyum fahum la yarji’un.
1. Jadi siapa sebenarnya sasaran primer demo kita pagi ini? Dewan Keamanan PBB? Negara Adikuasa di belakangnya? Pemerintah NKRI? Apa sebenarnya yang diharapkan oleh demo pagi ini?
Yang paling pasti memperhatikan dan mendengarkan adalah justru yang bukan sasaran demo kita, yakni Iran dan semua makhluk yang di kepalanya masih tersisa logika demokrasi – kalaupun di dalam hatinya sudah tak ada nurani keadilan.
Bagi DK-PBB, demo ini hanyalah kumpulan lalat-lalat penyebar virus di seberang benua. Bagi Sang Adikuasa, demo ini berjasa menambah file di database mereka. Adapun bagi Pemerintah NKRI, ini adalah acara ekstra Pildacil di lapangan terbuka.
Apakah demo ini dilakukan karena percaya bahwa yang didemo akan mungkin berubah? Berapa % kemungkinan Pemerintah NKRI berubah oleh dua jam demo, sementara Al-Qur’an dicetak berjuta-juta, dibaca ribuan kali setiap hari, dikumandangkan terus menerus oleh media – tanpa pernah terbukti membuat mereka berubah barang sejengkalpun?
Apakah kita sempat berpikir bahwa Pemerintah NKRI takut kepada kita, sementara tak pernah cukup ada bukti bahwa Allah SWT menakutkan mereka?
Apakah kita GR dengan demo ini Pemerintah NKRI akan menjadi punya kepentingan kepada kita – sementara tatkala melakukan dzikir taubah di Masjid Istiqlal beberapa waktu yll mereka dengan gagah berani memohon ampun kepada Allah tanpa terlebih dahulu menyatakan minta maaf kepada sesama manusia yang mereka bersalah, dan utamanya kepada rakyat Indonesia?
Apakah gerangan itu namanya? Laknat khianat? Kebodohan? Ataukah tipu daya?
Ucapkan bersama, pekikkan ke langit, sebarkan ke seluruh ‘arasy, agar diteruskan oleh terompet suci para Malaikat:
“INNAHUM YAKIIDUUNA KAIDA, WA AKIDU KAIDA, FAMAHHILIL KAFIRINA AMHILHUM RUWAIDA !!!”
AMHIL — Sang Adikuasa, mereka yang mengaku Dewan Keamanan Persatuan Bangsa-Bangsa, Pemerintah Negara Kesatuan Republik Indonesia – RUWAIDA!!
Allah kasih mereka waktu hanya sejenak saja. Sejenak saja!
AMHILHUM RUWAIDA !!!
AMHILHUM RUWAIDA !!!
AMHILHUM RUWAIDA !!!

2.
Amerika Serikat, DK-PBB, Negara Kesatuan Republik Indonesia, Iran dan kita semua yang berkumpul di Tugu Proklamasi pagi ini 29 Maret 2007.
Jangan bertanya tentang macan kepada kaki macan, kukunya atau taringnya. Bertanyalah tentang macan kepada mereka yang mengucur darahnya oleh cengkeraman kuku kaki macan serta oleh gigitan taringnya.
Kaki, kuku dan taring tak paham macan, karena mereka hanya kaki, kuku dan taring. Atau kalaupun mereka paham, mereka pasti berbohong kepadamu tentang macan dan tentang diri mereka sendiri.
Yang manakah Pemerintah Republik Indonesia? Macan? Bukan.
Taringnya? Bukan.
Kakinya? Bukan.
Kukunya? Insyaallah juga bukan.
Dengan segala kerendahan hati: berdasarkan takaran kekerdilannya, Pemerintah Republik Indonesia adalah tahi kuku macan.
Bangsa besar, Bangsa Indonesia yang besar, saking besarnya, sehingga merasa tidak kurang suatu apa tatkala diperhinakan oleh kepeminpinan tahi kuku macan.
Masih ada gagah-gagahnya sedikit jika para pemimpin kita adalah bagian dari barisan “political animal”. Binatang boleh dianggap lambang kekejaman dan kekerasan, tapi ia gagah dan tegas.
“ULA-IKA KAL-AN’AM”, demikian firman Allah, tetapi bukan itu pemimpin kita. “BAL HUM ADHOLL !!!!” : itulah para pemimpin kita.
Apakah engkau menemukan “BAL HUM ADHOLL !!!!” jika engkau memandang mereka dengan mata para petani?
Jawab : “BAL HUM ADHOLL !!!!”
Apakah engkau menemukan “BAL HUM ADHOLL !!!!” jika engkau menatap mereka dengan mripat para nelayan?
Jawab : “BAL HUM ADHOLL !!!!”
Apakah engkau menemukan “BAL HUM ADHOLL !!!!” jika engkau menatap mereka dengan mripat para pedagang-pedagang kecil, sopir-sopir, tukang-tukang dan kuli-kuli?
Jawab: “BAL HUM ADHOLL !!!!”
Apakah engkau menemukan “BAL HUM ADHOLL !!!!” jika engkau mengaduk akal sehatmu dengan cairan pahit nasib para korban bencana, dengan airmata darah korban penggusuran-penggusuran, dengan terasi uang rapelan dan harga laptop?
Jawab: “BAL HUM ADHOLL !!!!”

3.
Bulan kemarin dalam acara Kenduri Cinta saya menghibur masyarakat dengan menyatakan bahwa “la yukallifullahu nafsan illa wus’aha, hanya bangsa besar yang dianugerahi Tuhan cobaan-cobaan besar”.
Beberapa waktu kemudian ternyata hal itu dibenarkan oleh para pemimpin dan dijadikan landasan untuk mencanangkan perspektif ke depan, gagasan dan program jangka panjang yang berpuncak pada tahun 2030.
Beberapa hari yang lalu kita menyaksikan bahwa langkah pertama kebesaran bangsa menuju 2030 itu adalah dukungan terhadap kedhaliman atas Iran. Itu maknanya adalah: bergabungnya bangsa besar kepada bangsa yang terbesar di antara beberapa bangsa besar untuk menghalangi bangsa lain yang ditakutkan akan besar!
Para pejuang yang hadir di sini cobalah berpikir untuk menyusun doa kepada Allah semoga tahun 2030 adalah tahun momentum di mana Negara besar kita akan berhasil menyempurnakan cita-cita untuk menjadi salah satu Negara Bagian dari Amerika Serikat.
Bayangkanlah saya adalah Negara dan bangsa terbesar di seluruh alam raya, dan saya berkata:
“Sesungguhnya rancanganku aslinya adalah tahun 2020
Kuumumkan menjadi 2030 agar keterlenaan kalian lebih pasti dan sempurna
2020 akulah Polisi Tunggal Dunia
Disposal dan renewal persenjataan terus kuselenggarakan, tapi Negara lain aku halangi dengan segala macam alasan
Aku selalu perlu medan di sana sini untuk uji coba senjata terbaruku, tapi Iran dilarang melakukan hal semacam itu
Aku terus membutuhkan dana-dana besar untuk penelitian, pengembangan dan kelanjutan rancanganku, maka harus kupastikan penguasaanku atas Negara-negara yang kaya sumber alamnya
Negara besar di Asia Tenggara itu tak perlu diserbu, insyaallah cukup digertak lewat telpon saja….”
“2020 adalah puncak peradaban demokrasi: one world, one society
Suku-suku di Irian Jaya berada pada hak kompetisi yang sama dengan manusia abad 21, dengan syarat hukum yang berlaku jangan hukum asli Irian Jaya
Kita singkirkan hukum rimba, sehingga manusia rimba lupa pada hukum rimba, maka kemudian kita lindas mereka dengan hukum rimba baru ciptaan kita
Kekerasan dilarang, kecuali aku yang melakukan
Perang itu biadab kejam, kecuali aku yang yang merencanakan
Hei! Tahukah kalian siapa yang membiayai Perang Sinai, Badai Gurun I dan II, Bosnia,Kosovo, Afganistan, Irak, termasuk Haiti dan Nicaragua?
Hei! Dan apakah kalian benar tahu tentang Ambon, Poso? Atau untuk pasal lain : Batam, Batan, Cilegon, Sabang, atau Sorong dan Biak?
Atau dengarkan satu hal ini saja:
Aku ambil anggota dari tiap kelompok sempalan, birokrat, tekhnokrat, politisi, ulama, militer maupun kelompok radikal, untuk aku danai agar aku kursuskan diam-diam kepada merekawacana-wacana pembusukan dari dalam.
Agar terus menerus bias kuselenggarakan pecah-belahan, pengkotakan, pembangkitan kembali politik aliran sehingga masyarakat Indonesia semakin mudah dipecah dan diadu domba.
Masing-masing kelompok akan bergerak sendiri secara sistematis karena ruang lingkup pikiran yang sempit, sehingga biaya yang kukeluarkan akan sangat kecil namun akan mendapatkan hasil yang maksimal. Semuanya bergerak dengan system sel yang tidak sadar
Begitulah wahai Bangsa Indonesia yang besar
Nyanyikan sekarang: 2020…2020…2020….”

4.
Kalaupun kita terus terpaksa belum memiliki kepemimpinan yang benar, maka lebih baik hidup di bawah kepemimpinan yang jelas salah, daripada di bawah kepemimpinan yang kelihatannya benar, atau kepemimpinan yang seolah-olah tidak salah
Kalaupun kita belum punya kepemimpinan yang baik, maka mending kita dikuasai oleh kepemimpinan yang buruk, daripada kepemimpinan yang kelihatannya baik
Kalaupun belum tercapai dambaan mendapatkan kepemimpinan yang sukses, maka kita pilih kepemimpinan yang gagal saja daripada kepemimpinan yang kelihatannya sukses
Mending berhadapan dengan orang hina daripada diperdaya oleh orang yang tampaknya mulia
Tetapi alangkah sabar hatimu wahai bangsa yang terlalu besar: kepemimpinan yang kalian junjung adalah jenis kepemimpinan yg beranggapan bahwa yg penting pada bangunan rumah adalah warna warni catnya serta tampakan-tampilan luarnya
Itulah pimpinan Image building
Kelihatannya
Kayaknya
Istilahnya
Itulah negeri mie rasa ayam, bukan ayam sunggguhan
Itulah negeri album religi, seolah2 pada album lain Tuhan boleh disingkirkan
Itulah negara departemen agama, sehingga departemen lain bebas dari agama
Itulah yg dibilang Gombloh tai kucing rasa coklat
Nusantara telah diambang batas
Kesabaran rakyat itu mulia, tapi neraka tak bisa dihapus dan digantikan dengan kesabaran Allah
Kearifan rakyat itu tanda luasnya cinta, tetapi hisab tegas Allah tidak bisa dipakai lasan menuduh Allah tidak bijaksana
Ngalahnya rakyat itu kebesaran jiwa, tetapi kalau melewati batas – ia dengan kebodohan hampir tak ada bedanya
Kemurahan hati rakyat itu terpuji, tetapi sesudah dosisnya berlebihan – kehancuran yang menanti
Sepulang Anda nanti, kalaupun terlalu besar menanggung Iran di pundak kehidupanmu: pandanglah ke kiri kanan, wajah-wajah mereka di tepi jalan, di kendaraan-kendaraan umum, pasar, terminal, dusun-dusun, berita-berita kesengsaraan dan kehancuran yang tak sedikitpun pernah absent di layar-layar media – kemudian sedikit mulai berpikir:
MASIH TIDAK BATALKAH KEPEMIMPINAN ITU
SECARA MORAL
SECARA AKAL SEHAT
SECARA LOGIKA DEMOKRASI
SECARA NURANI
DAN JIKA IA BATAL MORAL, BATAL AKAL, BATAL DEMOKRASI, BATAL NURANI; NAMUN TIDAK BATAL SECARA KONSTITUSI
KETIDAK-HANCURAN MACAM APA
YANG BISA DITAWARKAN OLEH KONSTITUSI ITU?

~ by samsira on 30 November 2007.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: