DOLLY DAN HUKUM KEAUSAN

KALAU tema maiyahannya soal keprihatirian terhadap nasib hutan
seperti yang pernah dialami Kiai Kanjeng di Blora, Bojonegoro, dan
lain-lain, yang melingkar ya para blandhong, sahabat-sahabat
Perhutani, pengusaha-pengusaha kayu, Pemda, Polres, Kodim, LSM,
ulama-kiai-ustadz, dan siapa saja sesepuh masyarakat.

Dalam memaiyahihutan, diupayakan akad untuk sesegera mungkin menghabiskan
menggunduli hutan, atau sebaliknya: memulai bersama melindunginya,
melalui berbagai langkah kultural, birokratis, dan strategis.
Kalau maiyahannya soal pelacuran, di Dolly umpamanya, (beberapa tahun
yang lalu Kiai Kanjeng pernah pentas di sana dan guyon sama WTS-WTS),
ya yang melingkar utamanya teman-teman yang disebut wanita tuna
susila. Terus ayyuhal-ghoroomiy alias germo-germo. Kalau bisa Muspida
setempat, teman-teman relawan sosial, pemuka-pemuka agama, dan yang
tak kalah penting pengusaha-pengusaha yang manusia.
Melacurkan diri itu salah atau benar tak usah menjadi bahan diskusi
Maiyah. Sejak sebelum ada Nabi Adam, sudah ada kesimpulannya dan
semua makhluk sepakat -wong ketika Tuhan mau bikin manusia saja
Malaikat ngenyang: “Apakah Allah akan menciptakan manusia, yang toh
kerjanya bikin kerusakan di bumi, termasuk merusak dirinya sendiri,
serta menumpahkan darah…
Soalnya Malaikat sudah punya referensi: dulu manusia (yang diselidiki
Darwin) ifu kerjanya ` merusak dan akhirnya musnah sendiri. Kemudian,
Tuhan mau bikin lagi dan dimulai Adam: Malaikat gelisah hatinya dan
cemas.
Yang menjadi tema utama Maiyah adalah dua kenyataan. Pertama, tidak
ada wanita yang sejak awal memang bercita-cita menjadi pelacur. Tidak
ada gadis berdebar-debar hatinya membayangkan alangkah indahnya kalau
bisa menjadi tuna susila, sehingga berdoa “Ya Allah, jadikanlah aku
wanita tunasusila. Fa ila hadzihiu’niyyah assholihcih
alfaaaatihah….
Kedua, tidak ada wanita tuna susila yang meningkat kariernya dan
sampai ke puncak. Perawannya seharga setengah juta rupiah, kemudian
mulai dinas dan harganya jadi 600 ribu rupiah, terus meningkat sampai
sejuta, dua juta, tiga juta.
Tidak ada pelacur yang makin lama makin cantik, makin seksi, makin
segar, makin kemelon. Sebagaimana semua makhluk, jasmaniyahnya diikat
oleh hukum keausan. Makin lama makin aus, keriput, melorot, tua,
karena gardu terdekat masa depannya adalah kematian.
Maka, harus dimaiyahkan agar setiap tuna susila kita pandu bersama
untuk memiliki pengetahuan masa depan dirinya sendiri. Sampai berapa
tahun lagi ia akan bisa bertahan. Kemudian, bersikap tegas dan
realistis bahwa sekian tahun lagi dia, mau tidak mau, sudah harus
berhenti. Untuk itu, sejak sekarang ia perlu mempersiapkan
keterampilan untuk kelak menggantikan pekerjaannya yang sekarang. Pak
Kiai, Pak Ustadz, Pak Pastor, Pak Pendeta, Pak lurah, dari Camat,
semua pihak bermaiyah mengantarkan para wanita itu mempersiapkan diri
menuju masa depan yang realistis.
Ini berlaku tidak hanya untuk orang-orang yang melacurkan jasmaninya.
Tetapi,juga berlaku untuk siapa saja yang menjual nilai, menjual
demokrasi dan reformasi, menjual amanat rakyat, menjual kesucian
tangan rakyat ketika mencoblos di Pemilu, menjual negara, menjual
harga diri manusia. dan bangsa.
Para pelacur politik Indonesia hari-hari ini juga sedang memasuki
salah satu fase puncak keausan dan pengausan. Siapa saja yang
terkoptasi dan terkontaminasi segera akan menjumpai dirinya aus
sebentar lagi.

~ by samsira on 30 November 2007.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: