Di Naungan Allah Nasi dan Garam Kita

Akan tetapi selama perubahan-perubahan nyata semacam itu belum bisa dilaksanakan oleh para pemuka khalifah Allah di antara bangsa ini, maka sikap yang paling mendasar dan mendesak yang harus kita ambil hari ini adalah mengembalikan posisi hidup kita kepada posisi ikrar Allohus-Shomad: bahwa Allah-lah pihak satu-satunya yang nasib kita bergantung padaNya. Allah-lah satu-satunya penguasa yang nasi kita, garam dan gula kita, rejeki dan nafkah kita, untung rugi dan susah senang kehidupan kita, bergantung padaNya.

Beda antara penguasa sejati yang bernama Allah dengan penguasa dunia adalah bahwa Allah menjamin nasib kita, sementara penguasa dunia tidak menjamin. Bahkan sistem hukum tidak menjamin keselamatan nyawa kita, apalagi sekedar sepiring nasi keluarga kita.
Kita lingkupi Allahus-Shomad dengan Qul huwal-llohu ahad, dengan ikrar bahwa memang Allah-lah satu-satunya yang mutlak dalam kenyataan hidup kita. Dengan lam yalid wa lam yulad, dengan pengetahuan bahwa Allah tidak mengizinkan pewarisan cinta kasihNya kepada hamba-hambaNya yang laknat, durhaka dan mengkhianati amanat kewenangan di dunia. Serta dengan wa yakun lahu kufuan ahad, dengan kerendah-hatian ilmu yang mempersepsikan bahwa “tak satupun menyerupai Ia” sangat bisa disalah-gunakan oleh manusia untuk melindungi kejahatannya.

~ by samsira on 30 November 2007.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: