Aku melihatmu berdiri di tepi jalan raya
Tapi aku tahu sebenarnya engkau tak berdiri, engkau adalah sehelai daun tua yang melayang-lauang oleh hembusan angin besar
Engkau tercampak dari sudut ke sudut, dari parit ke parit, dari kegalauan ke ketidakmenentuan
Caramu berdiri gamang, kerut merut wajahmu tak kuasa menahan desakan-desakan jiwa tersembunyi, dan sorot matamu memandang tak ke mana-mana selain ke balik rahasia sajak dukamu sendiri
Dimanakah engkau bisa temukan hamparan tanah untuk mendirikan rumah buat hati puisimu yang lunglai?
Pembangunan tak mendukung manusia, kantor dan toko – toko tak menghendakinya, kendaran di jalanan tak menghampirinya
Kekuasaan di tengkukmu tidak menyangga janji-janjinya sendiri, kertas-kertas birokrasi memeras alam dan darah berjuta saudara-saudarimu, untuk secara sejarah menyelenggarakan bunuh diri
Trotoar Buat Manusia
•14 May 2009 • Leave a CommentAnak-anak yang Diyatimkan
•13 May 2009 • Leave a CommentDzu Walayah lenyap dari rumah kediamannya tanpa seorang pun mengerti ke mana ia pergi, terkadang bahkan dalam waktu yang lama sekali.
Ia selalu berpamit kepada istrinya dengan kata-kata yang sukar dipahami, “Aku wajib meluangkan waktu untuk menemui saudara-saudaraku dalam sunyi!”
Orang-orang, karena amat sibuk oleh kerja, uang dan gengsi, tak pernah punya kesempatan untuk mengenali siapa sebenarnya ia.
Sebagian menyimpulkan ia gila, sebagian lain menyebutnya sebagai orang yang gemar mencari perkara, lainnya lagi beranggapan bahwa ia adalah lelaki yang suka berkhalwat dan bergaul dengan rasa derita.
Aku membuntuti Dzu Walayah di suatu siang yang amat terik, berjalan menyusuri jalanan, berpakaian kumuh, tak memakai alas kaki dan wajahnya bagai orang kesakitan.
Continue reading ‘Anak-anak yang Diyatimkan’
ERA WAYANG, ORDE KETHOPRAK DAN DUNIA TOGOG
•11 May 2009 • Leave a CommentMarilah mengaku saja bahwa pusat perhatian kita adalah Raja-Raja. Marilah tak usah menutup-nutupi bahwa kecendrungan utama historis kita adalah memajang Raja-Raja di layar psikologi kebudayaan kita; baik terpatri di benak kita masing-masing maupun yang terungkap di panggung-panggung sosial kita.
Masyarakat menikmati kenduri dan tumpengan nasional dengan menu isu tentang Raja-Raja dan Pangeran-Pangeran atau calo-calonya; media massa menjadi pemrakarsa dan panitia kenduri nasional ini. Kepanitiaan yang berjargot “man makes news” ini menerjemahkan “man” menjadi terutama Raja-Raja dan Pangeran-Pangeran, bukan manusia-manusia.
Koran-koran selalu sangat sibuk mengajak masyarakat bergunjing tentang calon-calon tokoh utama di setiap level, seolah-olah ketua berganti makna, segala sesuatunya juga akan berubah secara mendasar. Seakan-akan ada kemungkinan yang sedemikian pentingnya yang ditawarkan kepada masyarakat oleh penggantian “raja”.
Continue reading ‘ERA WAYANG, ORDE KETHOPRAK DAN DUNIA TOGOG’
Puisi Pemilu Pesimistis
•11 May 2009 • Leave a CommentAku melihat wajahmu
Menghiasi kota-kota dan desa-desa
Terpampang sangat besar
Di ratusan titik di jalan-jalan besar
Maupun di pelosok-pelosok
Engkau meminta agar aku mencontrengmu
Dan aku siap untuk itu, aku siap mencontrengmu
Tapi siapakah engkau ini? Kita belum berkenalan
Emha tak peduli apakah itu puisi atau bukan. Apakah itu pamflet atau unek-unek. Apakah itu bermutu atau tidak bagi para kritikus sastra. Ia pada malam itu hanya menginginkan pengunjung bersama-sama berdoa untuk para korban Situ Gintung. Ia juga mengingatkan para calon legislator yang tak banyak dikenal oleh publik itu atas musibah-musibah yang tak henti-hentinya menimpa negeri ini.
Itulah inti acara bertajuk “Jangan Cintai Ibu Pertiwi”. Puisi di atas dibacakan aktor Novi Budianto dengan cara yang kocak. Ia menyaru sebagai kakek-kakek. Sembari memutar-mutar tongkatnya, ia seperti orang tua yang keki melihat begitu berjibunnya poster-poster calon legislator yang tak dikenalnya.
Kita Bukan Bangsa Pemalas
•11 May 2009 • Leave a CommentORANG yang gumunan sering mengatakan, satu orang Jepang kualitas dan tenaganya sama dengan 5 orang Indonesia. Sementara satu orang Korea sama dengan 3 orang Jepang. Jadi 15 orang Indonesia baru bisa menandingi satu orang Korea. Yang dibandingkan adalah stamina dan etos kerjanya, keuletan dan kerajinannya, kadar profesionalitas dan manajerialnya.
Tentu itu berangkat dari kenyataan industri dan perekonomian Korea yang semakin menguasai dunia. Padahal negaranya kecil, tak punya kekayaan alam, laki-lakinya jarang yang ganteng dan perempuannya tak ada yang mampu menandingi kecantikan artis-artis kita.
Memang sesudah sampai awal tahun 80-an Korsel kacau kepribadian kebangsaannya, sesudah ditandangi oleh pemerintahan militer yang bersikap sangat memacu kerja keras rakyatnya, yang menempelengi koruptor dan para pemalas. Akhirnya bangkitlah bangsa Korea, dan sekarang langit bumi mengaguminya.
Tetapi kalau kesimpulan itu mengandung tuduhan bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa pemalas, sangat suka mencuri, tak mau jalan kecuali jalan pintas, main bola sambil duduk tapi ingin menang 5-0 dan kalau kemasukan gol marah-marah – itu salah besar!
Continue reading ‘Kita Bukan Bangsa Pemalas’
Beragama Yang Tidak Korupsi
•11 May 2009 • Leave a CommentSuatu kali Emha Ainun Nadjib ditodong pertanyaan beruntun. “Cak Nun”, kata sang penanya, “misalnya pada waktu bersamaan tiba-tiba sampeyan menghadapi tiga pilihan, yang harus dipilih salah satu: pergi ke masjid untuk shalat Jumat, mengantar pacar berenang, atau mengantar tukang becak miskin ke rumah sakit akibat tabrak lari, mana yang sampeyan pilih?”. Cak Nun menjawab lantang, “Ya nolong orang kecelakaan”. “Tapi sampeyan kan dosa karena tidak sembahyang?” , kejar si penanya.”Ah, mosok Gusti Allah ndeso gitu”, jawab Cak Nun. “Kalau saya memilih shalat Jumat, itu namanya mau masuk surga tidak ngajak-ngajak” , katanya lagi. “Dan lagi belum tentu Tuhan memasukkan ke surga orang yang memperlakukan sembahyang sebagai credit point pribadi”.
Bagi kita yang menjumpai orang yang saat itu juga harus ditolong,Tuhan tidak berada di masjid, melainkan pada diri orang yang kecelakaan itu. Tuhan mengidentifikasikan dirinya pada sejumlah orang.Kata Tuhan: kalau engkau menolong orang sakit, Akulah yang sakit itu.Kalau engkau menegur orang yang kesepian, Akulah yang kesepian itu.Kalau engkau memberi makan orang kelaparan, Akulah yang kelaparan itu.
Continue reading ‘Beragama Yang Tidak Korupsi’
Gus Muhammad SAW
•11 May 2009 • Leave a CommentSudah terpecah dan terkeping sampai seberapa PKB, juga NU? Tidak. Kita ambil perspektif lain. Itu bukan bentrok, bukan perpecahan. Itu romantisme demokrasi. Itu dinamika ijtihad (perjuangan pemikiran). Itu produk wajar dari tradisi berpikir merdeka: salah satu prinsip yang membuat manusia bernama manusia.
Sebagaimana kalau jumlah pemeluk Islam ada sejuta, maka dimungkinkan ada sejuta aliran, dipersilahkan setiap orang memberlakukan tafsirnya masing-masing, dan satu-satunya yang berhak menagih pertanggung-jawaban adalah Tuhan. Silahkan ada golongan NU, Muhammadiyah, Persis, Persis NU, Persis Muhammadiyah, Muhammad NU, Sunni, Syiah, Sun’ah, Syinni, PKNU, Langitan, Bumian, Lautan, Gunungan, PKB Alwiyah, PKB Wahidiyah, PKB Muhaiminiyah, PKB Yenniyah… semakin banyak semakin demokratis dan menghibur.
Continue reading ‘Gus Muhammad SAW’
Rakyat sebagai Kekasih Sejati
•11 May 2009 • Leave a CommentBeberapa bulan sebelum Indonesia masuk 2009, orang saling bertanya: “Siapa ya, sebaiknya presiden kita nanti?” Kemudian mereka menyebut sejumlah nama, membandingkannya, memperdebatkannya, atau membiarkan nama-nama itu berlalu dalam dialog yang tak selesai.
Atmosfer dialog tentang calon presiden diwarnai oleh berjenis-jenis nuansa, latar belakang ilmu dan pengetahuan, kecenderungan budaya, fanatisme golongan, pandangan kebatinan, juga berbagai wawasan yang resmi maupun serabutan. Namun, semuanya memiliki kesamaan: perhatian yang mendalam kepada kepemimpinan nasional dan cinta kasih yang tak pernah luntur terhadap bangsa, tanah air, dan negara.
Itu berlangsung ya di warung-warung, bengkel-bengkel motor, serambi masjid, gardu ronda, juga di semua lapisan: kantor-kantor profesional, ruangan-ruangan kaum cendekiawan, istana-istana kaum pengusaha, termasuk di sekitar meja- meja pemerintahan sendiri. Ketika saatnya tiba, mereka memilih: ada yang berdiam diri bergeming dari posisinya sekarang bersama pemerintahan presiden yang sedang berkuasa. Ada yang menoleh ke kemungkinan mendulang harapan ke pemimpin tradisional. Ada yang merapat ke pemimpin yang pernah memimpin dan kembali mencalonkan diri. Atau kepada kemungkinan lain: pergerakan terjadi ke berbagai arah, lama maupun baru. Dan, semuanya selalu sangat menggairahkan.
Continue reading ‘Rakyat sebagai Kekasih Sejati’
Frekwensi – Energi – Materi Negeri Gontor
•11 May 2009 • Leave a CommentBahan, kedirian, asset dan potensialitas setiap individu atau kelompok manusia dalam kehidupan: sebaiknya dikonsep secara jelas akan dijadikan formula-materi, formula-enerji ataukah formula-frekwensi. Atau pakai variabel: dari potensialitas itu berapa % yang diaplikasikan menjadi bentukan-materi, berapa % yang enerji dan berapa % frekwensi. Kalau dalam konteks kehidupan bernegara misalnya, output-frekwensi Gontor luar biasa. Setiap ‘penduduk’ Gontor bisa bersambung frekwensinya dan tune-in satu sama lain cukup melalui satu dua kata: “dhomir”, “layyin”, “Bani Miran”, “mad’u”… Tetapi kesanggupan Gontor untuk “energizing the nation life” terbatas pada fenomenologi sistem kependidikannya, sedikit karakter manusia produk-produknya, atau cuatan harga diri, kebanggaan dan sedikit ’sok’ yang muncul dari identitas ke-Gontoran- seseorang. Para alumnus Gontor kalau bicara seperti “kitiran” atau baling-baling, kalau pidato “nggaya pol” dan enak dikenyam oleh receiver estetika pendengarnya. Yang kemudian dimaksudkan dengan formula-materi adalah kemungkinan Gontor berlaga, berpartisipasi dan berperan dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara melalui bentukan-bentukan ‘materiil’ misalnya Parpol, atau sekurang-kurangnya Ormas Nasional, atau sampai tingkat mengajukan Capres dan menawarkan konsep penyembuhan sakitnya Negara dengan dasar ilmu “Aji-aji Zarkasyi”.
Continue reading ‘Frekwensi – Energi – Materi Negeri Gontor’
Doa Kubangan
•8 May 2009 • Leave a CommentDi dalam tasbihnya, para Malaikat Allah senantiasa mendendangkan rasa iba mereka kepada manusia:
“Ya Allah, jika mereka menjahati sesamanya karena kejahatan, perintahkanlah kami untuk mencuci jiwa mereka, karena untuk hati jahat kami tidak berani memohonkan ampunan bagi mereka kepada-Mu. Namun jika mereka mengingkari-Mu karena kebutaan dan kebodohan, turunkanlah ampunan-Mu yang berupa cambuk yang membangunkan akal mereka”
“Ya Allah selamatkanlah manusia dari ketidakmengertian mereka atas diri mereka sendiri serta dari ketidakpahaman pergaulan di antara sesama mereka, sehingga mereka saling menghisap dan menghardik, memukul serta menginjak satu sama lain”
Namun seringkali para Malaikat itu tersenyum sendiri dan bergumam:
“Ya Allah, apakah Engkau pernah memberi wewenang kepada sejumlah manusia untuk berperan sebagai Engkau, sehingga semua manusia lainnya hanya Engkau perkenankan untuk patuh kepada sejumlah orang itu, tidak Engkau izinkan untuk bertanya dan Engkau larang untuk membantah?”


